Tak Pakai Buku Paket, Tulis Surat dengan Kertas Bekas

Tak Pakai Buku Paket, Tulis Surat dengan Kertas Bekas

  Sabtu, 1 Oktober 2016 09:44

Berita Terkait

Sekolah Sahabat Alam di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, punya cara tersendiri untuk mendekatkan siswa dengan lingkungan. Kompleks sekolah dibiarkan rimbun. Siswa juga diajak untuk mencintai pohon.

 
 

KHAFIDLUL ULUM, Palangka Raya
 

BELASAN siswa PG-TK Sekolah Sahabat Alam asyik bermain di depan kelas. Ada yang bermain daun berserakan, menyusun bebatuan, hingga menata kayu. Sebagian lagi bermain jungkat-jungkit dengan memanfaatkan pohon yang tumbang. Para siswa juga menggunakan pohon yang bergeletakan untuk bermain titian. Bosan berjalan di atas titian, mereka lantas duduk berjajar. Siswa paling depan bergaya seperti sopir, seolah-olah sedang naik mobil.

Nuansa alam memang sangat kental di sekolah yang terletak di Jalan KTA Milono km 4 itu. Halaman sekolah dipenuhi pohon yang menjulang tinggi. Di antaranya, pohon ketapang, geronggang, meranti, dan jenis lain. Bahkan, seluruh ruang kelas PG-TK terbuat dari kayu. Ruang kelas itu berbentuk rumah panggung. Tidak ada dinding. Yang ada hanya pagar setinggi 1 meter. Semua terbuka sehingga angin bebas masuk. ”Tidak perlu AC atau kipas angin. Hemat listrik,” terang Qanita Tajuddin, pendiri Sekolah Sahabat Alam, saat ditemui Selasa lalu (27/9).

Bukan hanya ruang PG-TK, seluruh kelas SD dan SMP juga terbuat dari kayu. Tapi tidak setinggi ruang kelas PG-TK. Rata-rata berukuran 7x10 meter. Siswa belajar dengan lesehan dan kadang duduk di atas kursi. Selain tas yang digantung rapi di pagar, piring dan gelas tertata di pojok kelas. Setiap kelas dilengkapi wastafel. Beberapa kelas diberi nama pohon. Antara lain pohon ramin, meranti, dan tabalien. Itu menunjukkan bahwa ruang kelas terbuat dari jenis kayu tersebut. Tanaman rambat dibiarkan tubuh di pagar dan tiang kelas.

Rumput liar juga tumbuh subur. Pihak sekolah sengaja tidak memotongnya. Kayu bekas pun dibiarkan berserakan. ”Kayu-kayu ini sengaja kami biarkan agar anak belajar kehidupan nyata. Seperti itu kehidupan yang ada di luar,” terang perempuan kelahiran 3 Desember 1970 tersebut. Para siswa pun menyesuaikan diri dan berhati-hati.

Dedaunan yang berguguran juga dibiarkan berserakan. Daun dibiarkan hancur menjadi pupuk. Siswa yang makan buah membuang biji dan kulitnya di lubang yang ada di depan kelas. Kulit dibiarkan menjadi pupuk, sedangkan biji akan tumbuh sendiri. Karena itu, tidak heran jika beberapa tanaman buah tumbuh di depan kelas. Antara lain rambutan, mangga, kelengkeng, dan salak. ”Hanya sampah plastik yang dibuang di tempat sampah. Ada pula sampah plastik yang dibawa pulang,” papar istri Amanto Surya Langka tersebut.

Di antara jalan dan kelas, dipasang titian kayu. Qanita menuturkan, suatu kali seorang trainer dari Surabaya datang. Sang trainer mengatakan bahwa titian itu berbahaya untuk anak-anak. Namun, Qanita menjelaskan bahwa titian tersebut sengaja dipasang agar anak belajar berhati-hati dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar. Jalanan di kompleks sekolah seluas 1 hektare itu juga dibiarkan alami. Tidak dipasangi paving, dibiarkan berupa tanah. Banyak siswa yang asyik bermain di jalan tanpa alas kaki.

Menurut perempuan kelahiran Bangil, Pasuruan, Jatim, tersebut, anak juga diajari bagaimana menghargai alam. Salah satunya dengan berhemat kertas. Siswa dianjurkan untuk menggunakan kertas bekas buat menulis surat, cerita, atau pengumuman. ”Kan ada kertas bekas yang di baliknya masih ada space kosong. Itu yang dimanfaatkan,” tutur Qanita.

Sekolah Sahabat Alam juga tidak menggunakan buku paket. Siswa mendapatkan pelajaran dari guru dan mencari bahan dari buku-buku yang ada di perpustakaan. ”Tas mereka kosong. Hanya ada peralatan menulis dan buku tulis,” paparnya.

Tidak adanya buku paket itu merupakan salah satu upaya menghemat kertas. Ibu delapan anak tersebut mengatakan, satu pohon bisa menghasilkan 80 kilogram kertas. Jadi, kalau setiap tahun tiap siswa membeli sepuluh buku paket dan setelah itu tidak dipakai lagi, berapa pohon yang harus ditebang. Walaupun kelihatan remeh, pihaknya ingin menanamkan cinta alam kepada siswa. Agar siswa mudah mendapatkan bahan bacaan, pihak sekolah memperbanyak buku di perpustakaan. Saat ini ada sekitar 5.000 koleksi buku. Anggaran buku setiap tahun sekitar Rp 10 juta.

Qanita mengatakan, para siswa juga diajak untuk mengenal alam di luar. Bahkan, siswa SMP pernah berkeliling wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Semua kabupaten/kota sudah disinggahi. Mereka mengenal alam dan menetap beberapa hari di wilayah-wilayah itu. Siswa juga mempunyai agenda rutin wisata ke luar pulau. Salah satunya, mengunjungi Gunung Kelud di Blitar. ”Sekolah dan orang tua tidak mengeluarkan biaya. Mereka berangkat dengan biaya sendiri,” terang Qanita.

Bagaimana para siswa mengumpulkan uang? Siswa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang. Salah satunya dengan berjualan. Mereka berjualan makanan saat acara car free day (CFD). Berjualan nasi rawon, pecel, dan berbagai jenis makanan lain. Mereka juga berjualan di sekolah. Bukan hanya makanan, mereka juga menjual jasa. Misalnya, mereka mencucikan motor atau helm milik orang tua, guru, atau masyarakat umum. Mereka juga menjual jasa dengan mengajari adik kelas membuat keterampilan.

Dari uang itu, mereka bisa berangkat ke Gunung Kelud. Setelah pulang, mereka diminta untuk membuat laporan selama berwisata di gunung tersebut. ”Kami ingin mereka menjadi remaja tangguh,” kata Qanita. Para siswa SMP Sahabat Alam juga pernah mengikuti lomba pembuatan film pendek tingkat provinsi. Mereka membuat film tentang pemanfaatan limbah serbuk kayu untuk media tanam jamur. Film itu berhasil menjadi juara.

Qanita menjelaskan, pihaknya tidak hanya menerima siswa normal, Sekolah Sahabat Alam juga menerima anak berkebutuhan khusus (ABK). Sekolahnya menjadi sekolah inklusi sejak awal dibuka pada 2010. Bahkan, saat kali pertama sekolah tersebut dibuka, sekitar 50 persen yang mendaftar adalah siswa ABK. Namun, dia tidak bisa menerima semua siswa yang mendaftar. ”Kami menerapkan small class,” paparnya. Saat ini, di antara 180 siswa, ada 30 siswa ABK.

Untuk memberikan layanan kepada siswa ABK, sekolah tersebut mempunyai learning support center (LSC). Ada seorang psikolog yang menangani. Pihaknya juga mempunyai konsultan psikologi dari Jakarta dan menjalin kerja sama dengan ahli fisioterapi.

”Siswa ABK membaur dengan siswa lain,” terang dia. Sekolah pun menjadi rujukan dalam penanganan siswa ABK. Sekolah juga berfokus meningkatkan kualitas guru. ”Kami lebih berfokus meningkatkan kompetensi guru daripada membangun gedung. Karena itu lebih penting,” terang dia. Salah satunya lewat in house training yang diisi konsultan sekolah. Pihaknya juga mengirim guru untuk ikut seminar dan pelatihan di luar serta magang di lembaga lain. Dengan begitu, guru mendapatkan pengalaman baru. Guru juga diminta untuk membaca banyak buku agar kaya materi. Dengan begitu, banyak ilmu dan pengetahuan yang disampaikan kepada siswa.

Sekolah juga sangat peduli dengan kondisi guru. Pihaknya menyiapkan tempat penitipan bayi maupun balita. Dengan bgitu, guru bisa tenang saat mengajar. Guru yang istrinya melahirkan juga mendapat cuti dua minggu. Cuti itu diberikan agar guru tersebut menemani istri di rumah. Sang furu bisa berfokus merawat anak yang baru dilahirkan. ”Cuti melahirkan tidak hanya untuk guru perempuan,” papar alumnus Universitas Palangka Raya tersebut.

Orang tua siswa juga diajak untuk terlibat mendidik anak. Saat mendaftarkan anak di Sekolah Sahabat Alam, orang tua diminta untuk berkomitmen mengikuti program yang ditetapkan sekolah. Jika tidak sanggup, mereka diminta untuk mencari sekolah lain. Ada beberapa kegiatan wajib untuk orang tua. Yaitu, orang tua siswa wajib mengikuti kegiatan parenting yang digelar dua kali dalam satu semester. Orang tua juga wajib datang saat pengambilan rapor. Jika tidak datang, rapor tidak bisa diambil.

Pengambilan rapor siswa akan ditunda sampai orang tua bisa datang ke sekolah. Bukan hanya itu, ayah siswa juga harus datang. Hal itu merupakan bentuk pembelajaran bagi orang tua. Pendidikan anak tidak bisa hanya diserahkan kepada pihak sekolah. Orang tua juga harus ikut bertanggung jawab. Ketika ada acara di sekolah seperti festival literasi, orang tua juga diminta untuk datang. Orang tua dan anaknya bersama-sama diajak menulis surat. Mereka mencurahkan isi hati.

Suyitno, orang tua siswa, mengaku menyekolahkan anaknya di Sahabat Alam karena lembaga pendidikan itu menawarkan hal yang berbeda. Anak diajak untuk mencintai lingkungan. Siswa bisa mandiri dan tidak diwajibkan untuk mengenakan seragam. ”Saya tidak ingin anak saya jadi robot,” kata dia.

Karakter anak betul-betul dibentuk sehingga menjadi siswa yang bertanggung jawab. Menurut dia, model pendidikan yang diterapkan Sekolah Sahabat Alam sangat bagus dan perlu dicontoh sekolah lain. Sejak menyekolahkan anaknya di lembaga itu, dia mendapatkan banyak pelajaran tentang pola pengasuhan dan pendidikan anak yang baik. Jadi, orang tua juga ikut belajar. Sekolah anak ya sekolah orang tua. (*/c11/oki)

 

Berita Terkait