Tak Ada Ganti Biaya , 2 Orangutan Dievakuasi

Tak Ada Ganti Biaya , 2 Orangutan Dievakuasi

  Sabtu, 27 February 2016 08:51
Foto YIARI

Berita Terkait

KETAPANG - Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang dan Kepolisian Sektor Manis Mata, berhasil menyelamatkan orangutan peliharaan seorang warga di Desa Manis Mata, Kecamatan Manis Mata, pada Rabu (24/2).

Informasi mengenai keberadaan orangutan yang dipelihara diketahui oleh Yayasan Palung yang kemudian melaporkannya kepada YIARI dan BKSDA SKW I Ketapang. Informasi ini kemudian diteruskan kepada pihak kepolisian dari sektor Manis Mata yang segera melakukan verifikasi dan konfirmasi atas keberadaan orangutan tersebut.Orangutan betina berusia sekitar 2 tahun ini dipelihara oleh seorang warga Desa Manis Mata Kecamatan Manis Mata, Ahmad. Ia mengaku membeli orangutan tersebut dari sesorang yang menemukannya di daerah perkebunan kelapa sawit. Orangutan tersebut dibeli seharga Rp1,3 juta.

"Saya beli karena tertarik aja. Saya tidak tahu kalau orangutan ini satwa yang dilindungi. Kalo saya tahu, saya tidak akan mau peliharanya," katanya, kemarin (24/2).Ketika orangutan tersebut hendak dievakuasi, Ahmad sempat meminta sejumlah uang untuk mengganti biaya pembelian orangutan yang diberi nama Jamila itu. 

Namun setelah dijelaskan konsekuensi dan dampak negatif dari memelihara orangutan oleh pihak YIARI, Ahmad yang merupakan transmigran dari Jawa ini ikhlas menyerahkan orangutan yang dipeliharanya.Ia mengaku sudah sebulan bersama Jamila. Selama ini Jamila, diberi makan nasi dan lauk-pauk, sama seperti yang keluarganya makan. Bahkan dia juga diberi minum teh dan kopi. Selama dipelihara orangutan ini diikat dengan rantai yang digembok di leher. 

Jamila masih terlihat liar dan tidak mau didekati manusia, bahkan beberapa kali sempat mau menggigit tim. Setelah berhasil dijinakkan, tim terpaksa memotong rantai yang membelit leher Jamila karena kunci gembok di lehernya sudah hilang.Direktur program YIARI Ketapang, Karmele Sanchez, mengatakan, pada awal Februari 2016, YIARI juga menyelamatkan Kandi, orangutan jantan berumur sekitar 8 bulan dari rumah seorang warga di Negeri Baru Kecamatan Delta Pawan. Pemilik orangutan tersebut mengambil orangutan dari kamp tambang ilegal di daerah Pelang yang terkena kebakaran besar tahun lalu.

"Semestinya anak orangutan tinggal bersama induknya sampai usia 6-8 tahun. Orangutan yang telah direscue ini yang didapatkan dari lahan perkebunan, kemungkinan besar induknya mati atau dibunuh," katanya.International Union for Conservation of Nature (IUCN), jelasnya, memasukkan orangutan Kalimantan ke dalam kelompok satwa yang terancam punah. Melihat laju penurunan populasi orangutan di alam liar saat ini, bahkan ada usulan untuk memasukkan orangutan ke dalam kelompok satwa yang sangat terancam punah, satu langkah sebelum benar-benar punah.

Sedangkan masyarakat Kalimantan, terutama yang tinggal jauh dari pusat kota, belum terlalu memahami persoalan ini. "Itu bukan semata-mata salah mereka," ujar Karmele."Mereka di sini memang tidak pernah mendapatkan pengetahuan tentang konservasi, termasuk jenis-jenis satwa yang dilindungi serta larangan untuk memeliharanya. Kami berencana untuk mengirim tim edukasi dan penyadartahuan untuk mensosialisasikan hal itu di sini," tambahnya.

Manager operasional YIARI, drh Adi Irawan, juga menambahkan, selain kurangnya pengetahuan masyakat atas undang-undang konservasi, penegakan hukum yang kurang tegas juga semakin memperparah persoalan yang ada. Oleh karena itu, peran dari kepolisian dan dinas-dinas terkait sangat diperlukan.Langkah cepat pihak kepolisian dalam menanggapi laporan patut diapresiasi."Kami sangat berterima kasih kepada pihak kepolisian Resort Ketapang dan Kepolisian Sektor Manis Mata yang telah membantu penyelamatan orangutan serta memberi pemahaman kepada masyarakat," katanya. (afi)

 

Berita Terkait