Tahun Baru Imlek 2570, Momen Perekat Toleransi

Tahun Baru Imlek 2570, Momen Perekat Toleransi

  Selasa, 5 February 2019 09:35

Berita Terkait

PONTIANAK - Hari ini seluruh warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2570. Imlek diharapkan dapat menjadi momentum untuk mempererat toleransi antarumat beragama. Selain itu, Imlek juga diharapkan dapat meningkatkan semangat untuk bekerja keras agar perekonomian masyarakat lebih meningkat. 

Di Kalimantan Barat, suasana perayaan pergantian tahun dari yang ber-shio anjing tanah ke shio babi tanah ini sebetulnya sudah dirasakan sejak awal 2019 lalu. Ribuan lampion dan replika 12 shio digantung di atas sejumlah ruas jalan di Pontianak. Terutama di kawasan-kawasan pecinan, seperti di Jalan Gajah Mada, Diponegoro, Tanjungpura dan sekitarnya. Warna merah dan emas pun mendominasi suasana. 

Toko-toko penjual pernak pernik Imlek juga terlihat selalu ramai dikunjungi warga. Kawasan Jalan Diponegoro yang akan menjadi pusat diadakannya berbagi kegiatan perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Kota Pontianak sudah dipercantik.   

Tadi malam, semarak perayaan Imlek semakin terasa. Meski Kota Pontianak sempat diguyur hujan, pesta kembang api tetap berlangsung. Banyak warga turun ke jalan untuk menonton. Ada pula yang menyaksikan dari atas gedung. Langit kota tampak indah dihiasi oleh aneka motif yang tercipta dari letusan kembang api. Bunyi petasan dari berbagai penjuru kota juga terdengar sahut-menyahut seolah tanpa henti.  

Berbagai pihak berharap perayaan Imlek tahun ini bisa menjadi momentum perekat toleransi antarumat beragama. Momen ini juga diharapkan dapat meningkatkan semangat untuk terus bekerja keras agar perekonomian masyarakat bisa semakin baik. 

Wakil Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak (KBTP), Djie Sen mengungkapkan, awalnya makna dari Imlek adalah menyambut datangnya musim semi. Namun, seiring perkembangan zaman, perayaan Imlek sekarang lebih dimaknai sebagai momen silaturahmi, baik ke sesama keluarga maupun kerabat. 

"Di momen Imlek biasanya seluruh keluarga berkumpul untuk merayakannya. Pada saat itu biasanya yang muda mengunjungi tempat tinggal kerabat-kerabat yang lebih tua," katanya kepada Pontianak Post, Senin (4/2).

Tahun babi tanah menurutnya identik dengan keberuntungan di bidang-bidang pekerjaan tertentu. Misalnya di bidang pertanian, peternakan dan usaha lainnya. Karena itu, ia berharap pertumbuhan ekonomi di tahun ini bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

"Tidak hanya di Pontianak atau Kalbar, tapi di Indonesia kami harapkan perekonomian bisa semakin membaik," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Kalbar, Suryanto juga berharap umat Konghucu, masyarakat Tionghoa dan lainnya bisa merayakan tahun baru Imlek secara bersama-sama. 

"Rayakan sesuai kemampuan. Bagi yang mampu, silakan agak bermewah-mewah dikit. Bagi yang kurang mampu, tinggal menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Jangan dipaksakan," pesannya.

Ia pun berharap masyarakat dapat terus saling menghormati serta menjaga toleransi, agar kerukunan antarumat beragama, dan antaretnis bisa terus terjaga dengan baik. "Selalu damai dan rukun, harus tahu makna dari Imlek itu sendiri yakni saling berkunjung, saling memaafkan," ucapnya. 

Menurut dia, di dalam kitab sudah disebutkan, bila suatu hari dapat memperbaharui diri maka perbaharuilah agar baru selama-lamanya. Kalimat tersebut bermakna bahwa seseorang harus terus mengintrospeksi diri apa yang pernah dilakukan atau kerjakan di tahun-tahun sebelumnya. 

“Jika memang kurang berhasil, kurang baik, nah untuk tahun ini perbaikilah dan tingkatkanlah agar lebih baik, lebih sejahtera dan keberuntungan selalu berpihak pada kita," pungkasnya. 

Salah satu warga tionghoa, Akuang (60) mengakui, Imlek memang biasanya dijadikan sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga. Anak dan kerabatnya yang merantau di luar negeri atau luar kota semuanya pulang kampung untuk merayakan bersama. 

Sesuai dengan tradisi di keluarganya, setelah sembahyang di kelenteng pada hari pertama Imlek, biasanya akan dilaksanakan makan bersama serta mengunjungi kerabat yang lebih tua. "Ya kumpul-kumpul saling bersilaturahmi saja. Biasanya ada bagi-bagi angpau untuk anak-anak," ucapnya.

Terpisah, Gubernur Kalbar, Sutarmidji memastikan bahwa pemerintah akan berusaha menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat yang merayakan Imlek. Menurutnya, Imlek merupakan salah satu perayaan keagamaan. Karena itu, ia mempersilakan masyarakat untuk melaksanakannya sesuai dengan kepercayaan masing-masing.  

"Pemerintah hanya menjamin kondisi yang aman dan kondusif. Saya rasa semuanya harus menghormati hari raya keagamaan apapun," katanya. Selain itu, pemerintah juga siap memfasilitasi dan menjamin kenyamanan dari pelaksanaan kegiatan keagamaan tersebut. 

Khusus untuk Imlek dan Cap Go Meh 2019, Sutarmidji hadir langsung dalam pembukaan kegiatan yang dipusatkan di Stadion Kridasana, Kota Singkawang, Minggu (3/2) malam. 

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang karena berhasil menjadi kota dengan tingkat toleransi paling tinggi di seluruh Indonesia. 

"Atas nama Pemprov Kalbar saya mengucapkan selamat melaksanakan Imlek 2019. Kepada warga Kota Singkawang untuk senantiasa menjaga keamanan, di mana wilayah Kalbar sudah sangat kondusif, mari jaga bersama," pungkasnya. (bar)

Berita Terkait