Tadak Kawen Mude

Tadak Kawen Mude

  Sabtu, 3 September 2016 10:16

NIKAH muda merupakan ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Usually, pasangan yang menikah telah dewasa dalam segi umur dan mental. Tetapi saat ini media sosial Indonesia tengah digemparkan oleh pernikahan Alvin Faiz – Larissa Chou. Kedua sejoli ini tergolong masih sangat muda karena Alvin baru berusia 17 tahun sedangkan istrinya 20 tahun. Tentunya pernikahan mereka menimbulkan pro-kontra dalam masyarakat. Di balik isu nikah muda yang terjadi,  jargon “Tadak Kawen Mude” yang digalakkan oleh BKKBN pun kembali didengungkan. Tadak Kawen Mude ini pastinya memiliki alasan kuat seperti yang akan diungkapkan Veronica Shelva Sihombing, Duta GenRe Kalimantan Barat 2016.

 
Pernikahan Alvin-Larissa bukanlah pernikahan muda pertama yang menggegerkan masyarakat. Isu ini udah bolak-balik menghangatkan topik pembicaraan kaum netizen. Nggak sedikit orang yang melontarkan pujian terhadap pasangan yang berani menikah muda.

“Akhir-akhir ini kita pasti sering banget melihat netizen yang bilang nikah muda itu keren atau bayangin aja masih muda udah berani mengambil tanggung jawab membangun sebuah keluarga. Pastinya berbagai pendapat tersebut menjadi cerminan bagi pribadi masing-masing. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Buatku sendiri, pernikahan mereka (pernikahan Alvin-Larissa, red) adalah bukti kematangan mereka. Kematangan yang dimaksud ini mereka mempunyai komitmen dan tujuan serta mereka mampu mencapainya. Sayangnya nggak semua orang dapat mencapai kematangan di usia muda. Menikah di usia 17 tahun emang keren tapi menikah di usia ideal itu jauh lebih keren,” ungkap dara yang akrab disapa Shelva ini.

FYI, usia ideal menikah bagi perempuan adalah 21 tahun dan bagi laki-laki yaitu 25 tahun. Kenapa sih idealnya pada umur tersebut? Jika dilihat dari segi kesehatan, organ reproduksi perempuan belum siap untuk melakukan hubungan seksual hingga usia 21 tahun. Jadi seorang perempuan berusia di bawah 21 tahun yang sudah melakukan hubungan seksual sangat rentan terserang kanker rahim. Sementara untuk laki-laki, secara emosional usia yang lebih dewasa pastinya lebih matang dalam menanggung beban pernikahan.

Unfortunately, angka pernikahan usia dini di Kalimantan Barat menduduki peringkat pertama di Indonesia. Walaupun pernikahan dini terjadi karena berbagai alasan tapi fakta ini pastinya menjadi tamparan tersendiri mengenai pentingnya perencanaan pernikahan. Therefore, peran Duta GenRe sangat dibutuhkan untuk menekan angka pernikahan muda.

“GenRe adalah akronim dari Generasi Berencana yang merupakan program untuk kaum remaja dari BKKBN. Kalo ngomongin soal berencana, pasti aja kepikirannya keluarga berencana yang merencanakan punya anak cuma dua. Memang sih bersangkutan ke situ, tapi Generasi Berencana sebenarnya jauh lebih luas dari itu. Generasi Berencana itu ya kita, kamu yang masih muda dan berusia 10-24 tahun, yang merencanakan masa depan kamu sendiri. Generasi Berencana sendiri kalo bisa diartikan secara sederhana ya generasi yang memiliki rencana tentang masa depannya akan seperti apa, bagaimana, mau jadi apa, yang pastinya bersangkutan dengan pembangunan negeri kita, karena kalau bukan kita yang masih muda ini yang berencana untuk itu, siapa lagi kan,” tutur mahasiswi Ilmu Administrasi Negara Untan ini.

Dalam menangani tingginya pernikahan usia dini di Kalimantan Barat, GenRe mengadakan berbagai kegiatan berupa seminar-seminar tentang substansi GenRe, wirausaha, motivasi hingga sharing mengenai masalah remaja. Target dari kegiatan tersebut ditujukan pada kaum remaja hingga orang tua, baik dari daerah kota sampai daerah terpencil. Selain itu, GenRe juga membentuk pusat informasi konseling sebagai wadah berkomunikasi dan berkreasi bagi kaum remaja sehingga mereka lupa dengan kegiatan negatif. Surely, segala hal ini berguna untuk menambah pengetahuan tentang GenRe dan diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (ind)