Surat Keputusan Cagar Budaya Belum Keluar, Bangunan sudah Terbakar

Surat Keputusan Cagar Budaya Belum Keluar, Bangunan sudah Terbakar

  Sabtu, 28 July 2018 20:42
Foto rumah asli kediaman Asisten Residen Belanda

Nasib Bangunan Bersejarah Rumah Dinas Bupati Sintang

Rumah Dinas Bupati Sintang yang terbakar pada Kamis (26/7) dini hari, direncanakan akan dibangun kembali mengikuti bangunan aslinya. Mulai dari arsitektur, bestek, hingga ornamen-ornamen detail. Data-data terkait profil bangunan tua tersebut dihimpun, bahkan dicari hingga ke Negeri Kincir Angin.

SITI SULBIYAH, Sintang

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sintang, Siti Musrikah, Jumat (27/7) pagi buru-buru dari Bandara Tebelian Sintang menuju Kantor Bupati Sintang. Dia tancap gas guna menghadiri pertemuan membahas rencana pembangunan kembali Pendopo Bupati Sintang yang hangus terbakar satu hari sebelumnya.

“Untuk membangunnya kembali dan mirip dengan aslinya, masih sangat memungkinkan,” tegas Siti saat itu. Kalimat itu dia utarakan saat bertemu Bupati Sintang, Jarot Winarno.

Usai pertemuan, Siti pulang ke kantornya. Penulis berkesempatan untuk berdiskusi dengan beliau terkait bangunan tua peninggalan Belanda itu. Dia menceritakan bahwa bangunan tersebut sudah dijadikan Cagar Budaya tingkat Nasional oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Surat Keputusan (SK) terkait itu akan keluar pada Oktober tahun ini.

Meski bangunan tersebut telah terbakar, namun dia yakin SK itu akan keluar. Asal, bangunan itu kembali dibangun, mirip dengan aslinya. Ikhtiar untuk mewujudkan hal itu, dilakukan beberapa saat setelah dia mendengar kabar bahwa bangunan kuno tersebut terbakar.

“Saya langsung berkomunikasi secara lisan ke Belanda serta BPCP untuk dapat besteknya,” tuturnya.

Maksudnya tak lain dan tak bukan, yakni meminta mereka untuk mengirimkan berkas-berkas terkait profil bangunan. BPCP telah merekam profil bangunan, sejak bangunan tersebut diajukan untuk menjadi cagar budaya beberapa tahun yang lalu. Tim dari BPCP telah beberapa kali mendatangi Bumi Senentang untuk mendata cagar budaya yang ada di sana.

Adapun dengan Belanda, kaitannya sangat erat. Di perpustakaan KITLV di Leiden, terdapat bukti sejarah tentang pemerintahan kolonial Belanda saat menduduki daratan Sintang. Informasi terkait hal tersebut juga terdapat di Tropen Museum, Amsterdam. Siti sebelumnya sudah pernah berkomunikasi dan menjalin kerjasama dengan kedua perpustakaan ini. Mengetahui peristiwa ini, kata Siti, mereka berjanji akan membantu menemukan arsipnya.

Dalam Buku The History of Sintang atau Sejarah Sintang, pada tahun 1841 Raja Sarawak yang kala itu dipimpin oleh seorang keturunan Inggris, James Brooke ingin mengadakan perdagangan di Hulu Kapuas. Mengetahui hal itu, pemerintah Hindia Belanda, merasa terancam. Sehingga dinilai perlu untuk membangun ibukota, tepat di tengah Borneo. Sintang pun, kala itu menjadi pilihan.

“Karena waktu itu mau dijadikan pusat pemerintahan, maka dibangunlah rumah kediaman asisten residen,” katanya.

Namun, pada akhirnya, pemerintah Hindia Belanda merasa posisi Sintang terlalu jauh untuk dengan Batavia, sehingga pusat pemerintahan dialihkan ke Banjarmasin dan Pontianak.

Dokumentasi sejarah dan foto-foto bangunan tempat kediaman pejabat pemerintahan Hindia Belanda itu, sempat diabadikan oleh anak dari Asisten residen yang ketiga. Bukti sejarah itu, kini tersimpan di sebuah buku yang berjudul Indische Brieven. Buku tersebut ditulis dalam bahasa Belanda.

Syukurnya, salinan buku tersebut sempat diterima oleh Siti. Ada softcopy dan hardcopy. Buku setebal 320 halaman itu, salah satunya berisi tentang keberadaan pemerintahan negara kincir angin tersebut di Sintang. Foto bagunan yang terdapat di buku tersebut masih sama miripnya dengan pendopo saat belum terbakar.

“Bangunan utamanya itu hanya yang segiempat. Sementara bangunan yang ada saat ini memang ada tambah, namun tidak menggangu bangunan asli,” jelasnya.

“Bangunan tambahan itu ada di teras depan, samping kanan dan kiri,” tambahnya.

Dengan arsip-arsip yang masih ada itu, maka dia optimis pendopo dapat dibangun kembali mirip dengan aslinya. Meski mungkin, tidak sama bahan-bahan yang digunakan, sebab ada beberapa jenis bahan bangunan yang keberadannya saat ini sulit didapat. Hanya dia meyakinkan bahwa untuk detail bestek, bentuk, arsitektur, ornamennya akan sama.

“Saya pribadi masih ingat dengan detail ruangan, dan arsitekturnya. Bahkan ganggang pintunya saya masih ingat. Ganggang pintunya itu seperti belalai gajah,” terang Siti.

Diskusi kami beberapa kali sempat terputus. Sebabnya, Siti beberapa kali menghubungi sejumlah pihak yang mungkin menyimpan arsip yang berkaitan dengan pendopo tersebut. Hal itu dilakukan guna melengkapi data-data yang dia perlukan.

“Sangat disayangkan (Pendopo terbakar), tapi yang namanya musibah tak bisa dielakkan,” ucap Siti kepada seseorang melalui telepon genggamnya.

Siti mengakui bahwa dirinya turut prihatin dan merasa sedih atas musbiah tersebut. Namun demikian, dia akan berupaya agar warisan sejarah itu dapat dibangun kembali. “Intinya, bangunan tersebut masih bisa dibangun mirip dengan aslinya,” pungkasnya.**