Surat Kabar Cetak vs Daring

Surat Kabar Cetak vs Daring

Sabtu, 3 February 2018 07:53   157

TEPAT 45 tahun yang lalu, 2 Februari 1973, surat kabar Pontianak Post diterbitkan untuk pertama kali dengan nama “Akçaya”. Terbit empat halaman hitam-putih dengan kertas koran yang dicetak ‘offset’ oleh percetakan Mandau Dharma. Dua bulan kemudian, 12-4-1973, juga untuk pertama kali saya menginjakkan kaki di kota Pontianak. Selanjutnya, hampir tanpa jeda, saya melanggannya hingga hari ini, yang terbit dengan 28 halaman berwarna dengan nama Pontianak Post.

Menyambut ulang tahun ke-45 ini, diturunkan laporan khusus (Pontianak Post, 2-2-2018) tanggapan dan harapan para penjabat/mantan pejabat dan para tokoh masyarakat tentang eksistensi surat kabar ini. Disebutkan bahwa kredibilitas menjadi kunci utama keberadaannya hingga kini. Mereka juga yakin akan keberadaan Pontianak Post di masa mendatang sebagai surat kabar cetak.

Edisi  ini secara khusus didedikasikan untuk Pontianak Post dengan menyajikan hasil-hasil penelitian yang dapat memperkuat keberadaan surat kabar cetak di era digital dewasa ini. Bagaimana kecenderungan pembaca, apa perbedaan antara surat kabar cetak dan surat kabar elektronik, serta mampukah surat kabar cetak ini tetap mengunjungi pembacanya di abad ke-21 ini.

Kecenderungan Pembaca

Intersect, 2014, dengan menggunakan data Nielsen Scarborough 2014, melaporkan bahwa pembaca surat kabar cetak di Amerika Serikat masih lebih banyak daripada media digital. Dari  128 juta penduduk AS yang membaca surat kabar harian,  ada sekitar 108 juta orang yang hanya membaca surat kabar cetak dan hanya sekitar 54.8 juta pembaca surat kabar daring.

Jacob Cherian dan  Jolly Jacob dari Universitas Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 2012, menganalisis sikap para mahasiswa terhadap publikasi cetak dan publikasi daring. Walaupun para mahasiswa suka dan ‘enjoy’ membaca surat kabar baik cetak maupun daring, data dari 150 orang mahasiswa pascasarjana yang menjadi responden menunjukkan mereka cenderung lebih suka membaca surat kabar cetak ketimbang daring karena mudah dibaca.

Dalam tesis magisternya di Universitas Nebraska-AS, 2011, Burton Speakman, mempelajari tingkat kepercayaan pembaca surat kabar lokal, “Normangee Star”. Metode survai dan dilanjutkan dengan ‘Focus Group Discussion’ digunakan untuk menetapkan menggali pendapat responden tentang seberapa tinggi tingkat pepercayaan mereka tentang kebenaran berita yang disajikan dalam surat kabar itu. Ditemukan bahwa mereka lebih percaya terhadap berita disajikan oleh  surat kabar lokal (“Normangee Star” ) ketimbang yang disajikan oleh surat kabar nasional (di antaranya: Bryan-College Station Eagle, Houston Chronicle dan the New York Times).

Ester De Waal, Klaus Schonbach dan Edmund Lauf, 2005, mempertanyakan apakah surat kabar daring merupakan pengganti atau pelengkap dari surat kabar cetak. Berdasarkan data yang terkumpul dari 1000 orang Belanda dewasa, ditemukan bahwa surat kabar daring bukan pengganti surat kabar cetak. Surat kabar cetak dan surat kabar dari lebih bersifat komplementer, saling melengkapi informasi yang mereka perlukan.

Perbedaan

Jessica E. Smith, dalam magister tesisnya di Universitas South Florida, AS, 2005, menyajikan perbedaan isi antara surat kabar cetak dan surat kabar daring. Sampelnya berupa 635 berita yang dikumpulkan dari lima surat kabar terbesar di bagian selatan selamat 15 hari. Ditemukan bahwa 96% isinya sama antara yang cetak dan yang daring. Telaah lebih rinci menunjukkan bahwa 85% surat kabar cetak mengandung paling tidak satu elemen kontektual. Sementara 58% di suratkabar daring.

George Albert dari Gladney Universitas Wyoming, Laramie, serta Ivor Shapiro dari Joseph Gastaldo dari Universitas Ryerson, Toronto, 2007, mempelajari kualitas surat kabar cetak dan surat kabar daring. Para jurnalis ‘tradisional’ yang menjadi responden menyatakan bahwa kredibilitas dan kemanfaatan surat kabar cetak lebih tinggi daripada surat kabar daring.

Penelitian yang sama dilakukan oleh Melita Poler Kovačič, Karmen Erjavec, dan Katarina Štular, 2010. Mereka meminta kepada 106 jurnalis di Slovenia untuk menetapkan kredibilitas kedua jenis surat kabar ini. Mereka  berpendapat  bahwa surat kabar cetak lebih kredibel dibandingkan dengan surat kabar daring.

Keredaaan

Hsiang Iris Chyi dan Seth C. Lewis, 2009, meneliti luasan pasar antara surat kabar cetak dan surat kabar daring. Mereka mengamati pasar 68 harian metro. Ditemukan bahwa pasar harian cetak menjangkau jauh ke pedalaman dibanding surat kabar daring.

M. Asim Qayyum, Kirsty Williamson, Ying-Hsang Liu, dan Philip Hider, 2013, mempelajari prilaku orang muda dalam mencari berita.  Dengan pendekatan kualitatif mereka menganalisis prileku 20 mahasiswa dalam mencari informasi. Ternyata, para mehasiswa ini masih lebih sering menggunakan surat kabar cetak ketimbang surat kabar daring.

Hal yang sama ditemukan oleh Sanjica Faletar Tanacković, Maja Krtalić, dan  Darko Lacović, dari Universitas Osijek, Kroasia, 2014. Mereka melakukan survei daring kepada pada pakar sejarah dan para pakar linguistik tentang kecenderungan mereka dalam mencari sumber-sumber informasi. Ternyata mereka menggunakan surat kabar cetak lebih dahulu kemudian dikonfirmasi dalam surat kabar daring. 

Hillel Nossek, Hanna Adoni, dan Galit Nimrod, dari Universitas Ben-Gurion, Israel, 2015, mengajukan sebuah pertanyaan: “Is Print Really Dying?” Pertanyaan ini muncul sebagai respons dari peningkatan penggunaan media digital yang luar biasa. Menggunakan data yang diambil dari sembilan negara demokratis di Eropa ditemukan bahwa media cetak masih menjadi komponen penting di era komunikasi baru masyarakat Eropa dewasa ini.  Temuan ini mengulang temuan Leen Haenens, Nicholas Jankowski, Ard Heuvelman, 2004, khusus di kalangan masyarakat Belanda.

Temuan-temuan ini, kiranya, dapat memperkuat keberadaan surat kabar Pontianak Post yang masih setia mengunjungi pembacanya dalam bentuk cetak. Sudah 45 tahun kau kawal Kalimantan Barat dengan sajian informasi yang mencerdaskan. SELAMAT ULANG TAHUN.**

 

Leo Sutrisno