Sulit Tata Sanitasi Warga

Sulit Tata Sanitasi Warga

  Senin, 21 March 2016 09:03
JAMBAN LANTING: Hamparan sungai dengan lanting yang dibangun jamban di atasnya, menjadikan warga begitu mudahnya memanfaatkan sungai untuk buang air besar (BAB). KOLEKSIPHOTODANCERITA.BLOGSPOT.CO.ID

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Upaya menata sanitasi di daerah Kapuas Hulu belum tercapai sebagaimana yang ditargetkan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Kapuas Hulu. Masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Kapuas dan danau-danau, masih banyak memilih buang air besar (BAB) dan MCK (mandi cuci kakus) di jamban. Kendati bukan tolak ukur utama pencapaian MDGs, tapi sanitasi merupakan salah satu poin penting.

Belum tercapainya penataan sanitasi di daerah Kapuas Hulu tersebut, tak dipungkiri kepala Bidang (Kabid) Penyehatan Lingkungan dan Sanitasi Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Kapuas Hulu, Syarif Usmardan. “Untuk penataan sanitasi di wilayah itu memang belum mencapai target yang telah ditetapkan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang,” ungkapnya kemarin di Putussibau.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Mardan ini mengatakan, target penataan sanitasi di tahun 2014 adalah 50 persen, namun yang tercapai hanya 31 persen. Sementara pada tahun 2015, target mereka dinaikkan menjadi 60 persen, namun baru mampu tercapai 53 persen. Sementara untuk standar sanitasi nasional, menurut dia, minimal 70 – 80 persen. “Kami akan terus berupaya meningkatkan capaian target-target sanitasi nasional,” terangnya.

Dikatakan Mardan, ada delapan pencapaian MDGs di mana sanitasi merupakan poin yang kedelapan, serta memiliki arti penting bagi masyarakat. “Harus bersama-sama melihat masalah ini sebuah kerja besar,” katanya.

Dijelaskan dia, indikator membaiknya sistem sanitasi tersebut, bukan hanya mengacu kepada satu kategori saja. Menurut dia, hal tersebut pun bukan karena masyarakat banyak BAB di sungai atau di jamban. Akan tetapi, dia menambahkan, kategorinya dinyatakan tidak sehat banyak. “Tidak melulu BAB di sungai, tapi sanitasinya tidak sehat katagorinya banyak,” bebernya.

Penataan sanitasi yang dilakukan mereka, diakui dia, masih terbentur terbatasnya sumber pendanaan. “Kami masih mengandalkan dana dari pusat. Di tahun ini untuk sanitasi Kabupaten Kapuas Hulu dapat bantuan dari dana DAK sekitar Rp5 miliar,” terangnya.

Dana tersebut terang Mardan, difokuskan ke daerah yang bersanitasi kurang bagus. Dia memisalkan di daerah perairan. “Karena kami tidak ingin mereka BAB ke sungai. Sanitasi dipakai menggunakan beberapa pilihan teknologi, mulai dari teknologi sanitasi berbasis masyarakat, yakni kelompok komunal dan sanitasi ditempat prasarana umum. Misal balai desa, masjid, dan tempat-tempat umum lainnya.” (aan)

Berita Terkait