Sulap Jadi Jaket, Payung, hingga Jas Hujan

Sulap Jadi Jaket, Payung, hingga Jas Hujan

  Selasa, 23 April 2019 11:11
OLAH LIMBAH: Rendy Aditya Wachid (kanan) menunjukkan contoh kantung sampah hasil daur ulang. PARONGPONG RECYCLE AND WASTE

Berita Terkait

Beragam Cara Memanfaatkan Sampah Alat Peraga Kampanye 

Mulai perusahaan, instansi pemerintah, sampai pribadi turut terlibat dalam upaya menyulap sampah alat peraga kampanye jadi kantong, jaket, payung, atau jas hujan. Semestinya jadi tanggung jawab si pemasang.

AGAS PUTRA HARTANTO, Jakarta-SIGIT ANDRIANTO, Semarang 

KURANG dari 24 jam, unggahan itu langsung menyebar ke mana-mana. Menjangkau banyak orang setelah dibagikan puluhan ribu kali di Instagram.

”Padahal, follower (Instagram, Red) kami cuma lima ribuan. Belum kami cek lagi yang di Twitter dan Facebook,” ucap Rendy Aditya Wachid, founder Parongpong Recycle and Waste (RAW) Management. 

Unggahan dari The Trash Bag Project yang dikampanyekan Parongpong itu berupa ajakan untuk membantu mengumpulkan sampah spanduk kampanye. Lalu, mengirimkannya ke markas besar mereka di kawasan Dago, Bandung. Selain Bandung, ada dua titik pengumpulan lain di Jakarta dan Jogjakarta. 

Hari ini semua spanduk bekas yang terkirim itu akan dihitung. Untuk selanjutnya diolah kru Parongpong menjadi kantong sampah.

”Kantong-kantong itu nanti kami gunakan sebagai tempat sampah di acara Happiness Festival di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 27-28 April,” kata Rendy.   

Mengapa kantong sampah? Sebab, kata Rendy, kalau dibuat berbagai bentuk kreasi tetap akan menimbulkan sampah. Belum lagi harus memikirkan nilai ekonomi dan daya beli konsumen. 

Yang dilakukan Parongpong RAW Management, perusahaan pengolah sampah itu, hanyalah satu di antara sekian upaya sejumlah pihak untuk turut menanggulangi sampah APK (alat peraga kampanye). Baik yang dilakukan instansi maupun pribadi. 

APK, baik untuk pemilu presiden, anggota DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, maupun DPD, harus bersih dari semua tempat publik sejak 14 April lalu. Saat Pemilu 2019 memasuki fase tenang. 

Jumlahnya begitu membeludak. Dalam beragam bentuk: spanduk, pamflet, dan baliho.   

Kewajiban untuk membersihkan sampah visual sebetulnya berada di pundak pelaku pemasangan. Hanya, realitasnya, banyak yang lepas tanggung jawab. Pada akhirnya tim gabungan dari satpol PP, TNI-Polri, hingga panitia pengawas pemilu (panwaslu) yang mengambil alih tanggung jawab tersebut.

Di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo ikut langsung turun ke jalan untuk memantau pembersihan APK. Dia mengajak semua warga untuk tidak membuang sembarangan bekas APK. Sebab, banyak di antaranya yang terbuat dari bahan plastik sehingga sulit terurai dalam tanah.

”Maka, saya pengin sampah APK ini didaur ulang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya di sela berkeliling Semarang untuk turut mencopoti APK. 

Ganjar pun memancing partisipasi warga itu dengan mengadakan lomba. Penggemar band rock progresif Dream Theater itu menantang masyarakat menyulap sampah APK menjadi berbagai produk kerajinan. 

Dia menyiapkan total hadiah Rp 20 juta. ”Bisa jadi payung, tas, jas hujan, atau apa pun. Silakan kirim hasil kreatifnya ke medsos (media sosial) saya, nanti dipilih pemenangnya,” ucapnya.

Upaya serupa dilakukan Wali Kota Jakarta Utara Syamsuddin Lologau. Dia menggerakkan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) atau pihak mana pun yang berminat di wilayahnya untuk memanfaatkan sampah-sampah APK. Tentunya yang masih dalam kondisi baik, untuk produk kerajinan.

Di Depok, Jawa Barat, berawal dari kegelisahan atas ”rusaknya” pemandangan oleh banyaknya APK, Harits Alfadri Dewanto pun tergerak untuk memanfaatkan. Founder produk jasa custom lukis apparel Funky Scars itu mencoba berkomunikasi bersama temannya dengan topik sampah visual yang sudah beredar lama. Sebab, hampir setiap ada pemilihan umum bakal terjadi penumpukan sampah. Di mana pun. 

”Berbagai angle (soal sampah digital, Red) diambil luar dan dalam oleh media digital. Tapi, kok belum dapat solusinya ya,” katanya.

Alumnus desain komunikasi visual (DKV) Sekolah Tinggi Desain Interstudi itu akhirnya mengambil alat kampanye yang terpampang di dekat rumahnya. Kemudian, dia mulai menggabungkan bendera-bendera partai. ”Saya bikin patchwork gitu,” paparnya. 

Adapun teknisnya, dari satu bendera dia melakukan split jadi empat bagian. Setelah itu diacak kembali biar menjadi motif yang diinginkan. ”Saya pakai mood warna biru yang lebih banyak terinspirasi dari mood outer denim Jepang gitu. Dari cutting-annya sengaja saya buat kayak gitu, susah banget jahitnya dari kain satu ke kain lainnya,” ceritanya. 

Dia juga membuat jaket dari spanduk bekas. Pria yang akrab disapa Tejet itu memanfaatkan elemen limbah visual sebagai sebuah karya yang fashionable. 

Kebetulan, selama tiga tahun ini, dia dan tim sudah membuat karya seni lukis yang diaplikasikan ke dalam pakaian. Menjadi produk yang terbatas sebanyak 400 buah. 

Jaket buatannya menggabungkan unsur berbagai partai politik. Lambang dan warna yang berbeda membuat jaket tersebut lebih variatif dan berwarna. 

Karyanya tersebut kemudian diunggah ke media sosial. ”Responsnya cukup bagus,” katanya. 

Dia berencana berkolaborasi dengan siapa saja yang sama-sama resah atas limbah visual dari APK. Caranya pun beragam. Masyarakat bisa menyerahkan limbah APK kepada pihaknya. Dari situ, nanti dia bersama tim mengolah bahan tersebut menjadi sesuatu. ”Kami olah sesuai dengan tantangan kontributor,” paparnya. 

Tujuan akhir semuanya memang menumbuhkan kultur bahwa sampah itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah bagaimana orang menangani sampah. 

”Harapannya, dalam jangka panjang, kami ingin mengurangi limbah yang ada di TPA (tempat pembuangan akhir),” terang Rendy. 

Sebab, banyak sekali TPA yang terengah-engah. TPA Bantar Gebang, Bekasi, misalnya, tiap hari harus menampung 7.500 ton sampah. Rendy juga masih ingat betul peristiwa ledakan gas metana yang terjadi di TPA Leuwigajah pada 2005. 

Saat itu 137 rumah kebanjiran sampah. Ratusan orang penduduk mati seketika. Tiga belas tahun berlalu. Tapi, hingga kini tidak banyak perubahan pengelolaan sampah. Berdasar data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hanya 5,6 persen dari sekitar 300 juta penduduk yang melakukan daur ulang.

Karena itulah, Parongpong RAW Management yang berdiri sejak Desember 2017 di Desa Parongpong, Bandung Barat, itu berkomitmen menjadi penggagas habitat kinerja tinggi zero waste tahun 2022. Minimal, di tempat asal mereka, Parongpong.

”Tujuan terdekat adalah membangun pusat studi daur ulang Parongpong,” harapnya

Parongpong juga memberikan pelatihan, bengkel, dan mesin yang berkolaborasi dengan Guna Olah Limbah dari Institut Teknologi Bandung. Menggunakan prinsip hidrotermal. Teknologi pengelolaan sampah dengan mengubah sampah menjadi produk yang bermanfaat dan ramah lingkungan. Mulai bahan bakar padat, pupuk cair, hingga pakan ternak.

Bagaimana memilih, memilah, mengelola, mengolah, dan mendaur ulang sampah itu pula yang akan ditampilkan di Happiness Festival. Yang dijamin Rendy bakal zero waste. Berkat bantuan kantong-kantong sampah hasil daur ulang sampah APK. (raf/hid/ida/c10/ttg)

Berita Terkait