Suka Duka Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri

Suka Duka Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri

  Minggu, 2 December 2018 08:29
IDENTIFIKASI: Petugas DVI Polri melakukan identifikasi terhadap barang-barang korban Lion Air JT 610 di JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (31/10). FEDRIK TARIGAN/JAWAPOS

Berita Terkait

Batal Tugas di Nepal hingga Tinggalkan Anak yang Sakit

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri telah selesai mengidentifikasi 125 korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Banyak pengorbanan tim tersebut dalam menjalankan tugas. 

ILHAM WANCOKO, Jakarta

KEGALAUAN menyeruak di hati Kombespol Lisda Cancer Senin (29/10) pukul 08.00, sesaat sebelum pembukaan acara Training DVI Se-Asia Selatan dan Tenggara di Nepal. Dia membaca grup WhatsApp kantornya. Terdapat kiriman berita tentang pesawat jatuh.

Namun, dia tidak bisa mencari informasi lebih jauh. Sebab, Lisda yang diundang sebagai trainer harus mengikuti pembukaan acara. Setelah pembukaan selesai, dia baru kembali memegang ponselnya. ”Miscall dan pesan WA sudah banyak,” tuturnya. 

Saat itu dia langsung menelepon seorang atasannya. Lisda ternyata diharuskan pulang ke Indonesia saat itu juga. Padahal, dia baru tiba di Nepal Sabtu (27/10). ”Minggu brifing dulu dan Senin pembukaan, rencana sampai Sabtu (3/11),” papar dia. 

Memang tugas Lisda sangat penting. Dia merupakan commander DVI yang harus memimpin operasi identifikasi korban. Akhirnya, Lisda meminta izin Interpol yang menjadi penyelenggara acara tersebut. ”Untung, mereka bisa memahami,” kata Lisda. 

Pada hari yang sama pukul 13.00 waktu setempat, Lisda pulang ke Indonesia. Pesawat transit di Malaysia. Dia melanjutkan penerbangan dengan pesawat milik maskapai yang berbeda pada pukul 22.00. ”Tiket pesawat diatur Interpol, tapi memang terlalu mepet. Walau begitu, saya berangkat,” jelasnya. 

Sayang, pesawat yang dia tumpangi terlambat. Waktunya terpangkas 1,5 jam. Akibatnya, Lisda terlambat check-in untuk penerbangan lanjutan ke Indonesia pada pukul 22.00. ”Padahal, saya sudah dibantu polisi Diraja Malaysia agar lebih cepat,” tuturnya. 

Lisda lalu kembali menghubungi Interpol. Dia menuturkan, sejak awal memang Interpol memahami kinerja anggota DVI. ”Akhirnya, dicarikan tiket, dapatnya Selasa (30/10) pukul 06.00. Saya menginap di hotel bandara,” terang dia. 

Setelah tiba di Indonesia pada pukul 10.00, Lisda tidak pulang ke rumah. Anggota DVI yang berseragam lengkap sejak di Malaysia itu langsung menuju Rumah Sakit R. Said Sukanto di Kramat Jati. ”Saya langsung bertugas,” ujarnya. 

Terlintas dalam pikirannya untuk pulang ke rumah, menemui keluarga. Namun, tugas terasa lebih mendesak. ”Saya memahami apa yang dirasakan keluarga korban. Mereka membutuhkan data identifikasi secepatnya,” paparnya. 

Pengorbanan juga dilakukan anggota lain tim DVI, Kanit Odontologi Forensik LKOK Pusdokkes Polri drg Astiti Handayani. Pada hari pertama pesawat Lion Air itu diketahui jatuh, dia langsung mendapat instruksi untuk meluncur ke RS R. Said Sukanto. Padahal, saat itu dia membawa anak bungsunya yang berusia enam bulan. ”Saya memang membiasakan diri untuk tidak memiliki asisten. Makanya, semua anak saya jadi anak kantoran. Anak yang main di kantor,” ujarnya, lalu tersenyum. 

Kondisi itu membuat dia memikirkan cara agar ada yang menjaga anaknya. Suaminya, Hari Yulianto, sedang menjalani pendidikan dan tidak bisa pulang. ”Ibu saya di luar kota,” kata dia. Akhirnya, dia meminta bantuan asisten rumah tangga baru untuk menemani anaknya. Termasuk yang sulung, Rido Bagus Wicaksono, 10, dan adiknya, Rianti Hayu Pinandita, 5. ”Itu kali pertama dalam sepuluh tahun ini saya memiliki asisten rumah tangga,” paparnya. 

Hampir seminggu bertugas dalam operasi DVI jatuhnya pesawat Lion Air, Astuti selalu pulang pada pukul 24.00. Kondisi itu memengaruhi anak bungsunya. Saat masih berada di RS, sekitar pukul 22.00, ada telepon dari ibunya. ”Anak saya sakit, panas sampai 39,3 derajat (Celsius, Red),” ujarnya. 

Kondisi itu tidak membuat Astuti yang sudah bekerja melebihi jam kerja langsung pulang. ”Saya selesaikan dulu tugas merekap antemortem data gigi, baru bisa pulang. Saya sudah minta diberikan obat,” tuturnya. 

Sejak kecelakaan nahas itu, Astuti juga mendapat berbagai pertanyaan dari teman-temannya. ”Ada teman dekat, teman Facebook, dan teman lama. Mereka merupakan teman dari korban,” urainya. 

Kebanyakan pertanyaannya adalah apa yang harus dilakukan untuk bisa dilakukan identifikasi. Saat itu Astuti membuat daftar antemortem yang harus diserahkan. ”Daftar itu saya bagi ke yang bertanya, dari struktur gigi, sidik jari dari ijazah, dan sebagainya,” jelasnya. Saat itu belum terbentuk tim mana yang bertugas mengumpulkan data antemortem. Astuti berinisiatif sendiri. Setidaknya ada sepuluh antemortem yang dia kumpulkan. ”Mereka foto semua antemortem itu, dikirim ke e-mail saya dulu. Begitu tim antemortem terbentuk, saya serahkan,” ujarnya. 

Hal berbeda dirasakan pula oleh Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri Kombespol Putut Cahyo Widodo. Anggota tim DVI itu menuturkan, timnya bekerja 24 jam untuk bisa mengidentifikasi korban. ”Ya, hasilnya, 125 teridentifikasi dan 64 korban belum ditemukan,” terang dia. 

Bagi dia, kesuksesan mengidentifikasi jenazah merupakan kebanggaan tersendiri. ”Zaman now, yang kami tes DNA-nya, tapi lama. Juga, risikonya, memang akhirnya diketahui ada yang belum ditemukan,” ujarnya. (*/c11/oni)

Berita Terkait