Sudah dan Tengah Garap Kamus Bahasa Isyarat Versi Berbagai Daerah

Sudah dan Tengah Garap Kamus Bahasa Isyarat Versi Berbagai Daerah

  Senin, 28 January 2019 13:05
TAK MUDAH MENYERAH: Laura Lesmana Wijaya di Jakarta jelang tutup tahun lalu (26/12/2018). Selain mengajar, dia juga menyusun kamus bahasa isyarat. FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Berita Terkait

Ragam Upaya Laura Lesmana Wijaya Perjuangkan Kesetaraan Kalangan Tuli 

Bersama sejumlah kawan sesama tuli, Laura Lesmana Wijaya telah melatih setidaknya 1.500 juru bahasa isyarat. Semua dilakukan demi menghapus stigma ”orang tuli biar di rumah saja”. 

FOLLY AKBAR, Jakarta 

BUAH kerja keras selama empat tahun itu mulai dipetik R.N. Jasmina. Dia kini bisa berinteraksi langsung dengan kawan, saudara, atau kenalan yang tuli. 

”Senang sekali. Karena kebetulan saya ini suka kepo, hehehe,” kata mahasiswi Sastra Jawa Universitas Indonesia itu. 

Penguasaan bahasa isyarat tersebut dipelajari Mine –sapaan akrab R.N. Jasmina– di Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo). Di matanya, iklim belajar di sana yang mengharuskan siswa terjun ke lapangan sangat membantu. 

”Jadi berasa kurangnya apa, harus diperbaiki apanya, tahu juga situasi yang dihadapi,” imbuhnya.

Laura Lesmana Wijaya berada di balik penciptaan iklim tersebut. Perempuan 28 tahun itulah yang selama beberapa tahun terakhir menakhodai Pusbisindo. 

Laura pula yang dalam tiga tahun terakhir bersama sejumlah kerabat sesama tuli mendirikan Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat (PLJ), produsen juru bahasa isyarat profesional. Satu-satunya lembaga resmi di Indonesia, dalam catatan Laura, yang menyediakan jasa juru bahasa isyarat.

Hingga saat ini, menurut Laura, setidaknya sudah 1.500 orang yang pernah dilatih menjadi juru bahasa isyarat. Meskipun masih pada taraf bahasa standar ataupun dasar-dasar. ”Sekarang baru level 3. Ke depan, ingin dibuat sampai level 6,” tutur dia yang diterjemahkan oleh Aliyah, lulusan Pusbisindo juga.

Laura terlahir sebagai penyandang tuli. Kondisi itu otomatis membuat dia tak bisa berbicara. ”Bapak, mamah, dan kakak saya tuli. Mungkin keturunan. Tapi, saya juga tidak tahu dari mana penyebabnya,” ujar perempuan lajang itu.

Sangat tak mudah terlahir sebagai difabel di Indonesia. Minimnya orang yang paham bahasa isyarat, misalnya, sangat menyulitkan penyandang tuli. Termasuk di dunia pendidikan. 

Laura mengalami sendiri bagaimana dirinya sejak duduk di bangku TK dipaksa memahami pelajaran secara oral. ”Saya berjuang memahaminya sendiri,” katanya dalam perbincangan menjelang tutup tahun lalu di sebuah food court di Jakarta Barat.

Puncaknya adalah stigma miring di lingkungan masyarakat. Penyandang tunarungu dianggap sebagai sosok yang tidak bisa diandalkan. Karena itu, tidak jarang mereka terpinggirkan. Tidak diberi kesempatan yang sama untuk berkembang. ”Banyak orang berpikir, orang tuli biar di rumah saja,” kata dia.

Berangkat dari kegelisahan itu, Laura bertekad melakukan sesuatu bagi orang-orang yang bernasib sama dengannya. Apalagi, berdasar pengalaman menempuh pendidikan S-1 di Chinese University, Hongkong, dia menemukan kondisi yang berbeda. 

Itulah yang tak dia temukan di Indonesia, kecuali mungkin di Universitas Indonesia. Namun, Laura tidak mau menyalahkan lembaga pendidikan di Indonesia sepenuhnya. 

Sebab, faktanya, memang tidak banyak orang di Indonesia yang mampu menjadi juru bahasa isyarat. Apalagi, tidak ada lembaga yang benar-benar menyediakan kebutuhan tersebut. 

Di situlah Pusbisindo berperan. Alumninya tidak hanya diberdayakan di PLJ, tapi juga merambah sektor lain. Misalnya, menjadi guru bantu di sekolah luar biasa (SLB) atau bertindak sebagai pembimbing bahasa isyarat bagi orang tua yang memiliki anak tuli. 

Ada pula yang bekerja sebagai penerjemah freelance seperti Aliyah. Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah itu kini ditugasi sebagai juru bahasa isyarat di wilayah Tangerang, Banten. 

Namun, jika ada job di Jakarta yang tidak bisa diambil anggota lain, dia kerap diminta untuk menggantikan. ”Buat nambah-nambah biaya skripsi,” katanya.

Di Pusbisindo, pembelajaran sepenuhnya dilakukan oleh Laura bersama para guru yang kompeten. Semua pengajar di sana tuli. Mereka memiliki kemampuan bahasa isyarat yang alami dan sesuai dengan kebiasaan di Indonesia. 

Selain teori, pembelajaran kebanyakan dilakukan dengan praktik langsung. ”Kami berinteraksi langsung dengan penyandang tuli,” kata Mine, mengenang masa-masa dirinya belajar di Pusbisindo. 

Selain membentuk PLJ dan memimpin Pusbisindo, upaya yang tengah ditempuh Laura adalah menyusun kamus bahasa isyarat. Dengan bermacam versi daerah. 

Saat ini dia sudah membuat kamus bahasa isyarat versi Jakarta dan Jogja. Sementara itu, versi lain yang sedang dikerjakan adalah versi Banten, Pontianak, dan Makassar.

Banyaknya versi bahasa isyarat, lanjut dia, menunjukkan bahwa kekayaan bahasa di Indonesia tidak hanya terjadi pada metode oral. Kosakatanya memiliki gerakan isyarat yang berbeda-beda dan berangkat dari budaya daerah masing-masing.

Kamus-kamus tersebut bisa menjadi panduan. Sebab, saat ini standar bahasa isyarat yang dibuat pemerintah Indonesia diadopsi dari Amerika Serikat sehingga menimbulkan resistansi dari kelompok tunarungu di seluruh Indonesia. 

”Teman-teman tuli Indonesia melihat bahasa isyarat yang dari Amerika, tidak paham,” tuturnya.

Namun, dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan untuk merealisasi kamus berbagai versi tersebut. Selain anggaran, menurut dia, diperlukan riset dan kerja sama dengan universitas di daerah maupun komunitas tuli lokal. 

”Kira-kira butuh waktu 3 sampai 5 tahun untuk membuat kamus,” terangnya.

Mine sangat kagum dengan kegigihan Laura berjuang untuk kesetaraan kalangan tuli itu. ”Mbak Laura itu pantang menyerah, tegas, dan sangat menghargai orang lain. Contoh kecil saja, meski sibuk, masih mau membalas (pesan, Red) WhatsApp,” katanya. 

Sejauh ini, perjuangan kerasnya telah membuahkan banyak hasil. Jumlah penyandang tunarungu yang mau ”keluar rumah”, memperlihatkan bakat terpendam mereka di berbagai bidang, menunjukkan tren membaik. 

Misalnya, jumlah peserta acara perkemahan tunarungu yang dia gagas bersama komunitas juga semakin banyak. Mulai kategori usia 9–12, 13–17, hingga 18–30 tahun.

Namun, Laura sadar, perjuangannya belum sampai ke garis finis. Masih banyak yang harus dia kerjakan sembari berharap itu semua bisa membuka mata pemerintah. 

”Bagi saya, yang paling berharga adalah ketika apa yang saya kerjakan, baik mengajar atau membuat kamus, bisa dimanfaatkan banyak orang. Membuat kalangan tuli percaya diri,” katanya. (*/c11/ttg) 

Berita Terkait