Studi Banding Dunia Malam, Memualafkan Satu Keluarga di Belanda

Studi Banding Dunia Malam, Memualafkan Satu Keluarga di Belanda

  Senin, 17 December 2018 10:53
AKRAB: Gus Miftah dan istri saat bersama Menhub, Budi Karya Sumadi yang berkunjung ke Pesantren Ora Aji di Kalasan, Sleman. JAUH HARI WAWAN S/RADAR JOGJA

Berita Terkait

Gus Miftah Berbagi Oleh-Oleh dari Keliling Eropa

Kiprah seorang pendakwah, Miftaim Anam Maulana Habiburrohman atau yang akrab disapa Gus Miftah, memang tidak lepas dari kontroversi. Usai ceramah di klub-klub malam, pria 37 tahun ini berjasa memualafkan satu keluarga di Belanda.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

PRIA berambut gondrong itu baru tiba dari Negeri Kincir Angin, Jumat (14/12) pagi. Sebenarnya, sepulang dari Belanda dia harus bertolak ke Jombang dan berlanjut ke Kediri. Namun, kunjungan mendadak Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, membuat Gus Miftah kembali ke Jogjakarta. Yaitu ke Pesantren Ora Aji di Kalasan, Sleman.

Di pesantren ini, ratusan jemaah telah menunggu. Lantaran sudah masuk waktu salat Jumat, Gus Miftah dan rombongan Menhub lantas menunaikan ibadah salat Jumat yang diawali dengan khotbah.

Usai salat dan zikir, kegiatan berlanjut dengan menyapa jemaah melalui sedikit ceramah. Gaya Gus Miftah yang lugas, blak-blakan dan diselingi dengan guyon saat ceramah mampu membius para jemaah, tak terkecuali Menhub Budi Karya Sumadi.  Ia memuji kualitas seorang Gus Miftah. “Saya kagum dengan cara bicara Gus Miftah yang lancar dan mengalir ini,” puji Budi.

Menhub sejatinya dijadwalkan meninjau pembangunan proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. Namun, sebelum bertolak ke UGM untuk menghadiri Musyawarah LB PP Kagama, Budi menyempatkan untuk salat Jumat di Ponpes Ora Aji. “Ini juga karena diutus oleh Pak Presiden,” ungkapnya.

Selepas mengantar Menhub ke mobil untuk menuju UGM, Gus Miftah pun lantas membagi sedikit “oleh-oleh” dari Eropa.  “Saya sebenarnya hanya menghadiri undangan,” katanya. Keberangkatannya ke Eropa juga bersamaan dengan viralnya video tentang Habib Bahar bin Smith. “Jadi ketika saya diserang orang-orang itu, saya pergi saja,” kelakarnya.

Kunjungannya ke Swiss, Belgia, Italia, dan Belanda, membuahkan hasil manis. Tanpa paksaan, satu keluarga di Belanda menyatakan diri masuk Islam. Keluarga itu juga yang membiayai perjalanan Gus Miftah.

“Satu keluarga dengan anggota keluarga lima orang, menyatakan masuk Islam tanpa paksaan. Itu mereka Belanda tapi keturunan Indonesia,” bebernya. Selama di Eropa, dia juga tak lepas dari pertanyaan awak media. Tentu pertanyaan tak lepas tentang dunia malam. Dakwah di klub, apa input dan output-nya. Bahkan dia sempat ditawari untuk mencoba berdakwah di klub malam di Belanda. 

“Saya bilang sulit karena keterbatasan bahasa, masa iya cuma chicken...chicken saja,” katanya disambut gelak tawa seisi ruangan.  Sosok Gus Miftah cukup  dikenal di luar negeri. Itu karena banyak media dalam maupun luar negeri yang memberitakannya. “Undangan itu juga karena mereka telah melihat video-video dakwah saya,” ungkapnya.

Maret 2019 mendatang, dia diundang untuk mengisi pengajian di komunitas Islam di Texas dan New York, Amerika Serikat. Bahkan segala macam dokumen dan administrasinya diurusi oleh orang yang beragama Nasrani keturunan Indonesia. “Ini yang saya tekankan, pluralisme tanpa membeda-bedakan agama,” kata dia dengan nada serius.

Selepas dari Eropa, Gus Miftah menyatakan bisa memahami dunia malam dan prostitusi di sana, serta bagaimana model pendekatan dakwah yang dirasakan cocok. “Ya, jadinya malah semacam studi banding,”  ujarnya seraya tersenyum.

Oleh-oleh dan pengetahuan itu, lanjut dia, akan diterapkan di Indonesia. Terutama dengan adanya kasus pesta seks di Sleman yang baru saja dibongkar aparat Polda DIJ. “Karena bentuk-bentuk prostitusi baru. Artinya, imajinasinya terus berubah,” katanya. (laz)

Berita Terkait