Stres Hilang Dengar Raungan Motor sambil Ngopi

Stres Hilang Dengar Raungan Motor sambil Ngopi

  Jumat, 15 March 2019 10:42

Berita Terkait

Satu Dekade MedDocs and Friends Menjalani Dunia Paralel: Dokter Sekaligus Anak Motor

Tiap kali touring, itu berarti MedDocs sudah menyiapkan kontak rumah sakit tujuan, membawa perlengkapan medis, dan bersiap memberikan pertolongan pertama dalam situasi darurat. Selalu menyelipkan kegiatan kemanusiaan dalam setiap aktivitas mereka.

DINARSA KURNIAWAN, Jakarta

MOTOR adalah ’’belahan jiwa’’. Tapi, di belahan yang lain, mereka tetaplah dokter. Jadi, ketika siang itu seorang pengunjung pemandian air panas Ciater nyaris tenggelam, mereka dengan segera memberikan pertolongan pertama.

’’Kami berikan pertolongan pertama agar pengunjung itu tidak shock,’’ tutur Kolonel dr Birza Rizaldi SpOG.

Pada siang beberapa waktu lalu di kawasan Tangkuban Perahu, Subang, Jawa Barat, itu, Birza bersama rekan-rekannya di klub motor MedDocs and Friends tengah touring. Dan, kejadian seperti itu sudah sering sekali mereka hadapi.

Misalnya, ketika Birza dan kawan-kawan harus mengevakuasi seorang rider yang mengalami kecelakaan berat di Pangandaran, Jawa Barat, dalam event Wing Day Harley-Davidson Club Indonesian (HDCI). ’’Saat itu, kami harus mengevakuasi pengendara yang mengalami crash itu dengan helikopter ke Jakarta,’’ kenang pria yang juga berpraktik di RSPAD Gatot Subroto itu tentang peristiwa yang terjadi empat tahun silam tersebut.

Itulah yang membedakan MedDocs dengan klub motor lain di tanah air. MedDocs adalah klub motor besar yang awalnya hanya beranggota para dokter yang doyan menunggangi kuda besi di atas 500 cc. Tapi, seiring perkembangan waktu, klub itu juga membuka pintu untuk rekan, kolega, atau siapa saja dari kalangan nondokter yang memiliki hobi serupa. 

Pertautan dokter dengan motor bisa ditemukan dalam otobiografi Ernesto ’’Che’’ Guevara, Diarios de motocicleta atau The Motorcyle Diaries. Buku yang kemudian difilmkan tersebut mengisahkan bagaimana pada 1952 Che yang saat itu merupakan mahasiswa kedokteran menjelajah Amerika Selatan dengan motor Norton 500 cc. Sepanjang jalan, dia menemukan persahabatan, kepedihan, dan berusaha sekuat tenaga memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. 

MedDocs and Friends berdiri sejak 2 Februari 2009. Diinisiasi oleh 11 dokter yang sama-sama punya hobi moge (motor gede). Kebanyakan moge yang mereka miliki adalah Harley-Davidson. 

Awalnya, para dokter tersebut tersebar di sejumlah klub motor yang lebih dulu berdiri. Kemudian, suatu saat, ketika mereka berkumpul di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, tercetuslah ide untuk menyatukan para dokter tersebut dalam satu bendera klub motor.

Di usia sedekade sekarang ini, mereka sudah beranggota sekitar 500 orang yang tersebar di 12 chapter di seluruh Indonesia. Ke-12 cabang itu adalah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Tengah.

Total anggotanya mencapai 500 orang. Sekitar 300 di antaranya dari kalangan nondokter. Sedangkan para dokter yang bergabung kebanyakan dokter spesialis.

Bagi Presiden MedDocs and Friends Radja Simanjuntak SpAn FiPM, main motor adalah salah satu sarana dirinya dan rekan-rekan seprofesi melepaskan penat. Menyenangkan hati di sela rutinitas yang padat serta melelahkan. 

’’Dengar raungan motor sambil ngopi saja sudah bisa bikin stres hilang,’’ ujar dokter spesialis anestesi yang praktik di MRCCC Siloam Hospitals, Semanggi, Jakarta Pusat, itu ketika ditemui pada momen selebrasi Hari Jadi Ke-10 MedDocs and Friends di Epicentrum Walk, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Minggu (10/3).

Dokter yang juga termasuk salah seorang founder MedDocs and Friends itu menambahkan, motor memang sudah menjadi bagian dari hidupnya sehari-hari. Bahkan, dia kerap berangkat kerja dari rumahnya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, dengan menggunakan motor. Untuk tunggangan harian, dia memilih Vespa Kongo 1963. ’’Kalau untuk touring, saya pakai Harley-Davidson Softail 2014,’’ katanya.

Biasanya para member MedDocs and Friends menggeber tunggangan mereka setiap akhir pekan. Istilah kekiniannya sunmori alias Sunday morning ride. Pada acara kopi darat rutin itu, bisa sampai 30 motor gede berkumpul dan rolling thunder sekitar Jakarta Selatan. Sebelum kemudian berhenti di satu tempat untuk ngopi dan ngobrol bareng.

Kalau sudah mengenakan riding gear yang biasanya serbakulit plus sepatu bot, lalu ngeblar di atas sadel kuda besi berkubikasi mesin V-twin di atas 1.000 cc, pasti tidak ada yang menyangka bahwa mereka adalah seorang dokter. 

’’Itu hanya luarnya saja. Hatinya tetap dokter, hehehe…’’ ucap Radja, lantas terbahak. 

Itu bisa dibuktikan tak hanya saat mereka harus tetap ’’praktik’’ sebagai dokter kala berhadapan dengan kegawatdaruratan di tengah touring. Para member MedDocs and Friends juga sering terlibat sebagai tim medis ketika ada klub motor tur. Tak jarang juga mereka jadi tempat curhat anak motor lain untuk masalah kesehatan. 

Selain riding rutin setiap pekan, mereka memiliki sejumlah agenda. Antara lain, touring nasional yang diikuti hampir seluruh member. Misalnya, akhir tahun lalu mereka menggeber touring nasional. Dari Jakarta menuju Bali, melibatkan lebih dari 300 motor besar yang kebanyakan adalah Harley-Davidson. 

Bukti lain manunggalnya motor dengan profesi mereka, tiap kali touring, mereka tidak pernah lupa membawa perlengkapan medis. Terutama untuk mengantisipasi situasi gawat darurat. ’’Sampai alat jahit-menjahit pasti kami bawa,’’ papar Radja yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta Timur.

Sepanjang perjalanan, mereka juga sudah memiliki kontak rumah sakit tujuan. Itu untuk mengantisipasi ketika terjadi situasi yang membutuhkan penanganan medis.

Nah, yang jadi persoalan rumit justru mengatur waktu. Maklum, jadwal pekerjaan mereka begitu padat. 

Hal itu diakui dr Nurdadi Saleh SpOG, juga salah satu founder MedDocs and Friends.

Ada tanggung jawab besar sebagai dokter yang harus diperhatikan. Karena itu, harus pintar-pintar menyiasati.

’’Kalau (touring) lebih dari dua minggu, kan nggak mungkin ya. Kasihan pasien yang membutuhkan,’’ tuturnya.

MedDocs juga selalu menyelipkan aktivitas kemanusiaan dalam setiap kegiatan mereka. Misalnya, event Ride N Share pada 13 Januari lalu. Mereka mengadakan operasi bibir sumbing terhadap dua anak asal Halmahera, Malukun Utara, di RS Puri Cinere, Tangerang Selatan. 

Dalam kegiatan itu, mereka bekerja sama dengan komunitas motor lainnya, yaitu Harley-Davidson Owners Group (HOG) Jakarta Chapter, Royal Enfield Friends (REF), Gesers Indonesia, dan Pilotos Indonesia. 

Bersama komunitas moge lain seperti Harley Owners Group Anak Elang Jakarta Chapter, MedDocs juga menyalurkan bantuan kepada pasien. ’’Agar tidak sekadar happy-happy saja ya kelihatannya. Jadi, kami juga ingin berbagi dengan sesama,’’ ungkap Ketua MedDocs and Friends Chapter Jakarta dr I Ketut Sukarata SpKK. 

Dalam perayaan ulang tahun ke-10 lalu, selain diramaikan sejumlah band, DJ, dan dancer, juga dibuka tenda kesehatan yang melayani konsultasi kesehatan dan check-up ringan. Misalnya, cek gula darah, kolesterol, serta tekanan darah. 

Itu semua sejalan dengan filosofi yang mereka pegang sejak awal terbentuk: social and happiness. Bergembira sekaligus bederma. Menjalani dua dunia paralel: anak motor yang juga dokter.

Mencium debu. Berteman aspal. Mengulurkan tangan dalam kegawatdaruratan. 

’’Menempuh perjalanan adalah takdir saya,’’ kata si mahasiswa kedokteran Che Guevara dalam Diarios de motocicleta. (*/c5/ttg)

Berita Terkait