Sosok Religius Polisi Korban Teroris, Ipda Auzar Meninggal Usai Salat

Sosok Religius Polisi Korban Teroris, Ipda Auzar Meninggal Usai Salat

  Rabu, 16 May 2018 16:03
Ipda H Auzar

Berita Terkait

Tiga polisi menjadi korban serangan terduga teroris di Mapolda Riau, sekitar pukul 09.00 WIB, Rabu (16/5). Salah satu korban meninggal dunia bernama Ipda H Auzar. Almarhum bertugas di Direktorat Lalu Lintas Polda Riau.

Ia meninggal setelah ditabrak oleh mobil yang dikendarai oleh komplotan teroris yang menyerang Mapolda pagi itu. Di tempatnya bertugas Auzar dikenal sebagai sosok yang religius.

Sebelum meninggal dunia, Ipda Auzar diketahui baru saja melaksanakan salat Duha di musala lantai dua Polda Riau.

"Kita semua merasa kehilangan sosok beliau. Bukan hanya Polisi, tapi juga ulama dan ustad di sini," ujar Direktur Lalu Lintas Polda Riau, Kombes Pol Rudi Syarifudin.

Almarhum Ipda Auzar, meninggal pada usia 55 tahun. Ia memulai karirnya di Lantas Polda Riau sejak dari Bintara hingga kini menyandang Ipda.

Selama menjadi anggota Polri, beliau sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Almarhum dikenal sebagai ustad di kalangan Polda Riau. Beliau juga memiliki sebuah pesantren dan yayasan anak yatim piatu yang mendidik lebih dari 500 anak-anak kurang beruntung.

"Sebelum kejadian beliau juga sempat memberikan pengarahan jadwal tausiah dan kegiatan Ramadan di lingkungan masjid Polda Riau," bebernya.

Kompol Sugeng yang bertugas di Itwasda Polda Riau, yang telah mengenal sosok Ipda Auzar sejak 11 tahun lalu juga merasa kehilangan.

"Dia sering salat ke masjid. Subuh di masjid sana, lalu Duhur di masjid yang berbeda. Pastinya sangat kehilangan. Terakhir ketemu itu pas salat Asar di Masjid Al-Falah," tutupnya.

Suasana duka menyelimuti keluarga Ipda Auzar. Pantauan Riau Pos (Jawa Pos Group) di rumah duka, ratusan pelayat datang memenuhi kediaman Ipda Auzar. Ipda Auzar gugur akibat ditabrak pelaku yang datang menyerang dengan menggunakan mobil.

Rumah korban yang terletak di Jalan Bambu Kuning, Kelurahan Sail, Kecamatan Tenayan Raya padat dipenuhi para pelayat. Dalam kunjungan itu, tampak dihadiri beberapa orang anggota dewan, Gubernur Riau Thamrin Hasyim dan pejabat lainnya.

Di sekeliling rumah almarhum terlihat dijaga ketat oleh pihak kepolisian, dengan menggunakan senjata lengkap. Akibat dari peristiwa itu, Gubernur Riau Thamrin Hasyim mengatakan bahwa untuk mengantisipasi peristiwa yang tidak diinginkan, tradisi petang megang tidak akan dilakukan. "Ya, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan tidak dilakukan petang megang atau petang belimau," tuturnya.

Dia juga telah memerintahkan agar semua pihak tetap siaga terutama siskamling seluruh masyarakat.

KRONOLOGIS KEJADIAN 

Situasi mencekam masih terasa pasca penyerangan yang dilakukan komplotan terduga teroris di Mapolda Riau, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Riau, sekitar pukul 09.00 WIB. Meski empat pelaku dinyatakan tewas ditembak polisi, namun seorang lainnya masih belum tertangkap.

Kabid Humas Polda Riau AKBP Sunarto mengatakan, saat itu kondisi Mapolda dalam keadaan siaga. Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak penyerangan Mapolres Surabaya beberapa waktu lalu.

"Kondisi dalam keadaan siaga," ungkap Narto dalam konferensi persn pada Rabu (16/5). Sunarto pun membeberkan kronologi penyerangan para pelaku teroris.

Saat itu, petugas jaga yang dilengkapi dengan senjata laras panjang sedang melakukan penjagaan di pagar depan Mapolda Riau. Tepat pukul 09.00 WIB, ada kendaraan minibus Avanza warna putih yang menerobos masuk.

Petugas sempat menutup pagar. Namun mobil itu berhasil masuk setelah menabrak pagar berwarna hitam.

"Ada beberapa orang di dalamnya, kemudian sampai di halaman Polda, penumpang turun dan melakukan penyerangan kepada anggota dengan senjata tajam jenis samurai," jelasnya.

Dua orang penumpang turun di depan Intel. Mereka mengayunkan pedangnya kepada petugas. Akibatnya, dua petugas mengalami luka.

"Dua anggota mengalami luka bacok. Satu Brigadir Jhon Hendrik luka pada jarinya. Kompol Farid Abdullah Bidkum, luka belakang kepala," terangnya.

Petugas pun mengambil tindakan tegas dengan melumpuhkan pelaku dengan timah panas. Terdengar puluhan kali suara tembakan dari halaman Polda kala itu. Tak lama setelah turunnya dua pelaku di pagar depan, mobil yang dikendarai pelaku langsung melaju cepat ke arah lobi Mapolda dan menurunkan seorang pelaku.

Saat itu di lobi, Mapolda akan melangsungkan ekspose pengungkapan narkoba sekitar 40 kilogram sabu-sabu. Pelaku satu itu berhasil dilumpuhkan. Kemudian mobil kembali melaju dan menabrak dua jurnalis televisi, Ryan Rahman dan Rahmadi. Mereka juga menabrak anggota polisi Ipda H Auzar hingga meninggal dunia.

Kemudian sopir mobil itu menginjak gas ke pagar samping Mapolda. Dua pelaku turun, dilakukan pengejaran dan satu berhasil dilumpuhkan. Namun satu lainnya berhasil melarikan diri.

"Kita dalam kondisi siaga, kita lakukan tindakan tegas berhasil melumpuhkan empat orang pelaku. Tewas. Kemudian pelaku yang diduga sopir masih dalam pengejaran," katanya.

Pelaku yang selamat dari kejaran petugas diduga melarikan diri ke sekitar rumah dinas Wakapolda Riau dan kantor Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau. Begitu mengetahui satu orang melarikan diri, polisi bersenjata lengkap langsung melakukan pengejaran.

(ce1/ica/JPC)

Berita Terkait