Sodom dan Gomora Kisah Pertama

Sodom dan Gomora Kisah Pertama

  Selasa, 18 June 2019 09:27
Ningsih S. Lumbantoruan (Nings S. Lumbantoruan) // Penulis & Blogger

Berita Terkait

Buku bukan benda asing bagi Ningsih S. Lumbantoruan. Sejak kecil ia senang membaca. Ketika dewasa, ia menjadi penulis novel dan blogger. Dia pun berhasil mendapatkan penghargaan kategori Apresiasi Perempuan Milenial Berwawasan Pembangunan Berkelanjutan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Rasa cinta Ningsih atau lebih dikenal dengan nama Nings S. Lumbantoruan ini terhadap buku tumbuh sejak sekolah dasar. Kisah Kota Sodom dan Gomora yang dikutuk Tuhan menjadi kisah pertama yang dibacanya. 

Hobi ini terus berlanjut hingga SMP. Saat itu ia sering membaca cerpen-cerpen yang terbit di koran Minggu Sumatera Utara. Ketika SMA, dia tinggal di Asrama St. Maria Pandan. Dia sangat senang karena di sana terdapat perpustakaan. 

Dari hobi membaca, Ningsih pun mulai mengembangkan diri dan mencoba menulis. Dia tertarik dengan tema isu intercultural, LGBT, pelacuran, dan kisah pelakor. Pada 2016, perempuan kelahiran Masundung, 18 September ini menerbitkan sebuah novel fantasi berjudul PARA-Kepulangan Bintang. Novel fantasi yang dicetaknya sebanyak 50 eksemplar ini mengambil tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan 'ajaib', yang berbentur dengan kepercayaan agama dan LGBT.

Tak terbatas isu-isu pada tersebut, Ningsih juga menulis artikel tentang tema lainnya. Salah satunya berjudul Internet Sebagai Hak Asasi Manusia. Menurut Ningsih, internet sebagai hak asasi manusia didukung oleh UUD 1945 pasal 28F. Pasal tersebut menyatakan setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi, dan lingkungan sosialnya. Serta, berhak untuk mencari, memperoleh, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. 

Ningsih mengapresiasi pembangunan infrastruktur yang sudah berjalan, terutama di bidang telekomunikasi.

“Sayangnya, belum seluruh daerah mendapatkan fasilitas tersebut,” kata Ningsih yang berharap seluruh masyarakat bisa mengakses Internet. 

Dalam artikel itu Ningsih juga memasukkan pengalamannya sebagai milenial yang mendapatkan uang dari tulisan dan internet. Apalagi saat ini dia juga bekerja di sebuah agensi digital branding yang kerja harus menggunakan internet. Agensinya berada di Jakarta, sedangkan dia di Pontianak. 

“Saya ingin masyarakat bisa memiliki kesempatan seperti saya. Melalui internet, saya bisa belajar, menghasilkan uang, dan lainnya. Sesuai dengan pasal 28F,” tutur Ningsih yang juga bekerja sebagai editor & proofreader freelance ini. 

Tak sedikit tantangan dihadapi Ningsih saat menulis artikel tersebut. 

“Sempat berkali-kali buat draft di topik pendidikan, rel kereta api, dan lainnya. Tapi, tak ada yang selesai. Entah mengapa, saat menulis yang berkaitan dengan internet, seluruhnya selesai dengan baik,” ujarnya. 

Tulisan ‘Internet Sebagai Hak Asasi Manusia’ ini berhasil meraih penghargaan kategori Apresiasi Perempuan Milenial Berwawasan Pembangunan Berkelanjutan dalam ajang lomba menulis artikel tingkat nasional. Lomba ini diadakan PT. Sarana Multi Infrastruktur (PERSERO). 

Ketika itu ada 914 tulisan dari seluruh wilayah Indonesia yang ikut serta. Tulisan diseleksi oleh salah satu media nasional hingga terpilih 30 besar. Kemudian, diseleksi kembali menjadi enam finalis oleh PT. Sarana Multi Infrastruktur (PERSERO). Artikel Ningsih salah satunya. Perusahaan tersebut memanggil dua orang pakar SDGs untuk menentukan juara 1,2,3, serta apresiasi kepada tiga orang terpilih. 

Kendati tidak keluar menjadi juara pertama, Ningsih tetap merasa senang. Dia berkesempatan mengikuti serangkaian acara yang di gelar PT. Sarana Multi Infrastruktur (PERSERO) selama tiga hari di Jakarta. Tak hanya itu, Ningsih juga bertemu Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati. **

Berita Terkait