SMK Rasa Hollywood dan Kandang Legenda

SMK Rasa Hollywood dan Kandang Legenda

  Jumat, 27 July 2018 10:00
FASILITAS: Salah satu ruang menggambar di SMA Raden Umar Said Kudus. Sekolah binaan Djarum Foundation ini membina banyak SMK di Kudus dan daerah lain di Jawa Tengah | ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Catatan Djarum Culvis 2018 (4)

DJARUM Foundation adalah yayasan paripurna. Semua bakti sosial ada, seperti kesehatan, pendidikan, sosial, lingkungan, budaya, olahraga dan lainnya. Bantuan-bantuan dari yayasan milik Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono ini tersebar di berbagai kota di Indonesia. Apalagi di Kudus, markasnya Djarum. Di Kota Kretek, penulis bersama para peserta Djarum Cultural Visit mengunjungi karya-karya monumental dari lembaga nirlaba ini. 

Tempat pertama yang dikunjungan adalah SMK Raden Umar Said (RUS). Kami ditemani langsung Primadi H Serad. Dia adalah Direktur Program Bakti Pendidikan Djarum Foundation, otak dibalik kerja-kerja pendidikan yayasan ini. Dari pintu gerbang dan bangunan paling depan, SMK ini tak ubahnya sekolah lain. Tapi begitu memasuki kawasan agak dalam, ada bangunan berbeda. Bukan khasnya bangunan sekolah pemerintah. Tampilan mukanya mirip kampus. Tapi ruang kelas dan fasilitas di dalamnya lebih wow lagi.

Ada lima jurusan di sini; grafika, produksi grafika, desain komunikasi visual, animasi dan rekayasa perangkat lunak. Masing-masing kelas punya desainnya sendiri-sendiri. Jauh berbeda dengan kelas konvensional yang seragam dan monoton. Ruang kelasnya dirancang agar para siswa saling berdiskusi. Selain itu ada juga ruang-ruang khusus untuk praktik. Seperti ruang animasi, ruang recording, ruang colour grading, mini theatre, sound editing, dan lain-lain. Ada juga ruang untuk fitnes, kafetaria, ruang bersantai, bermain gim, ruang fotografi dan lain-lain.

Perangkat kerasnya pun canggih-cangih. Komputer yang biasa ditemui dalam industri fillm Hollywood ada di sini. Ada juga alat simulator yang harganya ratusan juta rupiah, dan banyak lagi. Sama juga dengan perangkat lunaknya. Hanya industri film besar di dunia yang memilikinya. Kampus-kampus ternama di Indonesia pun belum memilikinya. Saya bisa menulis lebih panjang barang-barang aneh dan mahal di sekolah ini kalau mau.

Tak heran, anak-anak di sini sangat asyik  belajar. “Mereka betah belajar sampai jam sembilan malam. Bahkan sering yang nginap di sekolah. Tidak mau meninggalkan sekolah. Sampai-sampai kami yang meminta agar mereka mau pulang ke rumahnya,” ujar Primadi. 

Dia mengatakan, pihaknya merancang kurikulum sendiri. Desain besar yang sesuai dengan dunia kerja. Harus sesuai juga dengan perkembangan dunia. Adaptigf terhadap trend an teknologi kekinian.  

Selain fasilitasnya yang berkualitas wahid. Kemampuan anak-anak di sini dalam membuat animasi juga sudah mendunia. Tidak jarang sekolah mendapat orderan untuk membuat video hingga film animasi. Tidak hanya dari dalam negeri, tetapi luar negeri. “Pendapatan bersih anak-anak di sini sekitar Rp500 juta per bulan,” sebut Primadi.

Namun yang paling bikin tercengang. SMK RUS ini bukan sat-satunya sekolah vokasi yang dibina Djarum Foundation. Ada belasan SMK lainnya yang dipermak Djarum. Sebagian besar di Kudus. Ada juga yang di kabupaten lain di Jateng. Seluruh kurikulumnya dirancang Djarum. Desain kelas dan ruang praktiknya diubah. Lalu masih ditambahi fasilitas dan alat-alat mahal. Tentu saja sampai ke pemasaran. SMK NU Banat misalnya yang spesialisasi tata busana. Pakaian-pakaian rancangan siswa di sini kini dihargai jutaan rupiah. Sering mereka diudang untuk even peragaan busana taraf dunia di luar negeri.

 Lalu ada SMK Wisudha Karya yang khusus pelayaran yang terbaik nasional. Padahal Kudus tidak punya laut. Tapi sekolah ini punya simulator kapal. Ombaknya seperti benaran. Bisa disetel mau setinggi apa ombaknya. Lalu ada SMK N 1 Kudus yang kini menghasilkan jago-jago masak. Hotel dan restoran bintang lima banyak mengambil tenaga kerja dari sekolah ini. Sayang hanya SMK RUS yang kami kunjungi.

Kandang Para Legenda

Tempat terakhir yang kami sambangi adalah markas Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum. Salah satu klub bulutangkis terbaik di Indonesia yang berdiri tahun 1974. Tempat lahirnya juara-juara dunia olahraga tepok bulu. Namun siapa sangka ternyata PD Djarum dulunya hanya tempat kumpul-kumpul karyawan pabrik rokok untuk bermain bulutangkis.

Dari sini lah, King Smash, Liem Swie King yang meraih prestasi dunia. Legenda lama lain yang berasal dari sini adalah Hastomo Arbi, Hadiyanto, Kartono, Heryanto, Christian Hadinata, Hadibowo, Alan Budikusuma dan nama lainnya. Sekarang ada Mohammad Ahsan, Tontowi Ahmad, Kevin Sanjaya dan nama mahsyur lainnya.

GOR PB Djarum ini terletak di Desa Jati. Luas area kawasannya 30 ribu meter persegi. Di dala GOR ada 12 lapangan. Kanan kirinya tribun penonton. Ada juga ruang pertemuan, ruang perkantoran, ruang makan, ruang fitness, ruang computer, ruang audio visual, dan ruang perpustakaan. Selain itu di luar GOR terdapat astrama atlet. Tidak heran dengan segala fasilitasnya, ini adalah tempat pelatihan bulutangkis terbaik di Asia. 

Namun PB Djarum di Kudus adalah tempat untuk pemain usia dini dan pemain tunggal. Ada juga pusat pelatihan di Jakarta khusus pemain ganda. Bila sudah beranjak dewasa, dan memilih untuk bermain ganda, maka atlet akan dipindahkan ke Jakarta. Saat ini di PB Djarum Kudus ada 30 atlet yang tinggal. Mereka adalah anak-anak dan remaja.

PB Djarum sendiri bukan hanya soal kemegahan gedung dan fasilitas. Bukan hanya sejarah dan nama besar. Tetapi juga tentang kurikulumnya yang ketat. Sebagian besar para atlet di sini adalah penerima Djarum Beasiswa Bulutangkis. Untuk mencari bibit unggul, PB Djrum menggelar audisi di berbagai daerah se-Indonesia.  Atlet yang direkrut di bawah usia 13 tahun, dan atlet di bawah usia 15 tahun.

Mereka yang lulus seleksi wajib tinggal di asrama. Sekolah formal mereka dicarikan pihak Djarum. Ada juga yang home schooling. Mereka hanya diberi waktu di akhir pekan untuk keluar. Biasanya digunakan untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan harian. Pola makan mereka dijaga. Asupan gizi mereka tidak boleh kurang. Mereka dilatih setiap hari fisik dan teknik. Agar menjadi juara dunia. (Aristono/Habis) 

Berita Terkait