Sintang Kehilangan Bangunan Sejarah

Sintang Kehilangan Bangunan Sejarah

  Jumat, 27 July 2018 10:00
HANGUS TERBAKAR: Petugas pemadam kebakaran mengecek kondisi Pendopo Bupati Sintang yang terbakar Kamis (26/7) dini hari. SITI SULBIYAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

*Pendopo Bupati Sintang Bakal Dibangun Lagi

*Koordinasi ke Belanda Cari Desain Asli

SINTANG – Kebakaran yang melanda Pendopo Bupati Sintang pada, Kamis (26/7) dini hari, menyisakan duka warga Sintang. Pasalnya, bangunan yang dibangun di era kolonial Belanda itu sarat dengan nilai sejarah Bumi Senentang. Musibah yang terjadi itu telah membuat bangunan tersebut hangus dan hanya menyisakan puing-puing. 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sintang pun berjanji akan membangun kembali pendopo bupati. Berdasarkan keterangan beberapa saksi di lokasi kejadian, kebakaran terjadi sekira pukul 00.45 ketika cuaca hujan lebat disertai petir. Saat itu ada petir yang menyambar gardu listrik pendopo. Akibatnya, asap terlihat mengepul di dek sisi kiri bangunan. 

Seketika lampu padam dan genset pun hidup secara otomatis. Namun, tiba-tiba percikan api bermunculan. Mengetahui hal itu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang tengah bertugas langsung menghubungi Pemadam Kebakaran Sintang. Tak lama berselang, petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi. 

“Waktu itu kondisinya baru terlihat asap yang keluar dari dek. Kami datang tepat waktu, hanya saja kami terkendala dengan kondisi bangunan yang tidak memungkinkan untuk ditembus. Dek terbuat dari kayu papan, sementara atapnya seng, sehingga kami tidak bisa menembusnya dengan air,” jelas Marthin Nandung, Kasat Pol PP Sintang.

Setelah api terlihat, lanjut dia, pihaknya baru bisa mengupayakan pemadaman. Hanya saja, kondisi angin yang kencang, serta bangunan yang terbuat dari kayu membuat api menjalar begitu cepat. Petugas pemadam kebakaran kalah cepat dengan kobaran api yang telanjur membara. 

“Sebenarnya kami punya personel dan peralatan yang cukup, namun anginnya kencang. Hujan lebat pun tak membantu proses pemadaman, malah justru menghambat,” bebernya.

Sementara itu, petugas jaga bersama pemadam kebakaran juga berupaya menyelamatkan sejumlah dokumen penting, serta inventaris Pemkab Sintang seperti kendaraan, dan kursi. Barang-barang pribadi Bupati Sintang juga turut diamankan, seperti pakaian, motor, hingga sepeda. 

“Pengalaman kita, dalam kebakaran yang terjadi pada bangunan yang berbahan kayu, sulit untuk diselamatkan. Tapi syukur seluruh berkas penting dan barang-barang bisa kami selamatkan,” tambah Yudius, Kasi Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Satpol PP Sintang. 

Kebakaran ini diduga kuat karena sambaran petir yang menyerang gardu listrik pendopo sehingga menyebabkan hubungan arus pendek. Meski demikian, hasil investigasi dari Polres Sintang masih  dilakukan.

“Hingga saat ini kami masih belum bisa menduga-duga, sebab saksi-saksinya juga belum diperiksa. Kami telah mengamankan gardu listrik dan potongan kayu yang diduga api berasal dari potongan kayu tersebut,” ungkap Kasat Reskrim Polres Sintang, AKP Eko Mardianto.

Menurutnya, investigasi terkait penyebab kebakaran ini juga akan melibatkan Polda Kalbar. Pihaknya memastikan sudah berkoordinasi agar Polda Kalbar agar segera menurunkan Tim Labfor Polda guna mengetahui secara pasti dari mana titik api berasal serta penyebab terjadinya kebakaran. “Rencananya tim Polda Kalbar akan datang besok (hari ini, red),” katanya. 

Dalam kebakaran ini, api berhasil dipadamkan sekira pukul 03.00 WIB. Kendati demikian, hingga pagi hari petugas masih berada di lokasi. Mereka tetap menyemprotkan air guna mendinginkan sisa-sisa kebakaran. Asap akibat kebakaran pun masih terlihat hingga pagi. Kayu-kayu belian berubah menjadi arang. Beberapa di antaranya masih berdiri tegak, tetapi sudah rapuh. 

Sejumlah petugas juga bekerjasama merobohkan kayu-kayu tersebut. Sedangkan bagian lantai seluruhnya sudah ditutupi puing-puing. Bangunan yang terbakar itu merupakan bangunan utama pendopo. 

Menurut keterangan Humas Pemkab Sintang, Syukur Saleh, di bangunan utama itu terdapat ruang tamu, serta kamar VIP. Sementara di sisi kanan bangunan yang ludes terbakar merupakan kamar Bupati Sintang. Sedangkan sisi kiri bangunan tidak terkena kobaran api. Itu lantaran angin yang berembus mengarah ke kanan bangunan, kendati titik api pertama di sisi kiri bangunan, tepatnya di sebelah pos jaga.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Hanya ada satu petugas jaga yang dilarikan ke rumah sakit lantaran terlalu banyak menghirup asap saat menyelamatkan sejumlah barang. Sementara kerugian materil sejauh ini belum dapat ditaksir.

Saat kejadian, Bupati Sintang, Jarot Winarno sedang tidak berada di lokasi. Ia tengah berada di luar kota dan dijadwalkan pulang ke Sintang, Kamis (26/7). Dengan pesawat pertama, ia berangkat dari Bandara Supadio Pontianak menuju Bandara Tebelian Sintang. Sekira pukul 09.30, Jarot tiba di Pendopo dan langsung memantau bangunan yang telah terbakar itu.

“Saya minta maaf, sebab diberi amanah (untuk menjaga bangunan ini), tapi tidak bisa menjaga,” tutur Jarot kepada awak media. Saat memberikan keterangan, dia berdiri tepat di atas reruntuhan kamarnya.

Jarot mengatakan bahwa Pendopo Bupati merupakan rumah bagi masyarakat Sintang. Di tempat itulah,  dia biasa menyambut warga Sintang yang ingin bersilaturahmi. “Tempat ini biasa saya jadikan untuk menerima kedatangan warga dari sore, bahkan hingga tengah malam,” tuturnya.

“Bangunan ini adalah warisan budaya, namun sekarang bangunan bersejarah sudah hilang,” katanya penuh keprihatinan.

Meski demikian, dia mengajak masyarakat agar tidak larut dalam kesedihan atas peristiwa ini. Jarot memastikan akan tetap melayani masyarakat, meski kemungkinan pelayanan itu akan lebih banyak dilakukan di Kantor Bupati.

“Sementara ini saya bisa tinggal di rumah pribadi. Di sini saya punya dua rumah yang bisa saya tempati,” bebernya.

Dibangun Lagi

Harapan agar bangunan tua itu untuk dibangun kembali pun berdatangan. Salah satu warga Sintang, Riki Aris amat menyayangkan kejadian tersebut. Dia berharap bangunan tersebut dapat dibangun kembali mirip dengan bentuk asli. 

“Harapannya mungkin bisa diperbaiki tanpa mengubah bentuk aslinya. Soalnya untuk zaman sekarang susah menjaga dan mempertahankan ciri atau bentuk bangunan asli tanpa campur tangan modernisasi,” katanya. 

Sementara itu, Jarot memastikan bahwa Pendopo Bupati Sintang akan dibangun kembali. Dia pun ingin bangunan baru nanti mirip dengan bangunan sebelumnya, agar tidak menghapus nilai sejarah banguan tua tersebut.

“Saya telah berkoordinasi dengan pihak terkait agar memabangun kembali cagar budaya ini. Desainnya harus mengikuti bentuk aslinya,” jelas dia.

Hanya saja, Pemkab Sintang tidak memiliki desain asli bangunan tersebut. Kabarnya desain asli ada di Leiden University Libraries (UBL), Belanda. Pihaknya akan berkoordinasi agar mendapatkan desain serta arsitektur asli bangunan yang memang dibangun pada masa kolonial Belanda tersebut. “Semoga di sana ada acuan untuk membangun kembali,” harapnya.

Namun, Jarot tidak ingin mengesampingkan anggaran pembangunan hanya demi perbaikan pendopo, meski ada jaminan asuransi serta anggaran tak terduga yang dapat dimanfaatkan.

Ketua DPRD Sintang, Terry Ibrahim juga memastikan Pendopo akan kembali dibangun, entah itu melalui anggaran tahun ini atau tahun depan. Kemungkinan untuk penggunaan sisa lebih penggunaan anggaran (silpa) juga akan dipertimbangkan.

“Yang jelas kita akan membangun rumah dinas, namun perlu pembahasan secara teknis oleh DPRD nantinya. Kalau pada akhirnya pemerintah menetapkan silpa dan memungkinkan untuk dibangun, tentu kita tidak masalah,” katanya.

Lebih bagus lagi, kata dia jika ada bantuan pusat. “Nanti akan kita bahas ini,” pungkasnya. (sti)

Berita Terkait