Singgah Sebentar, Lalu ke Kahyangan

Singgah Sebentar, Lalu ke Kahyangan

  Minggu, 4 March 2018 08:30
MENUJU KAHYANGAN: Replika naga berada di kobaran api saat berlangsungnya ritual bakar naga di Kompleks Pemakaman Yayasan Bhakti Suci, Sabtu (3/3). Ritual tersebut menandai berakhirnya rangkaian perayaan Cap Go Meh. HARYADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Setiap naga yang akan tampil dalam Cap Go Meh, harus terlebih dulu menjalani ritual buka mata di kelenteng. Tujuannya agar masyarakat dijauhi dari bahaya dan mendapat berkah melimpah. Upacara sakral ini berawal dari cerita legenda Tiongkok bahwa ada naga yang pernah berkelahi dengan seorang manusia dan terkena panah di bagian mata. Beruntung ada pendeta yang mengobati dengan berbagai mantra sehingga mata naga dapat sembuh kembali.

Nah, sehabis perayaan Imlek dan Cap Go Meh, naga-naga yang pernah menjalani ritual tadi harus dibakar. Maksudnya untuk mencegah adanya korban bagi orang yang memainkan. Bila ritual buka mata yang dilakukan Rabu (28/1) lalu diadakan di Kelenteng Jalan Diponegoro Pontianak, maka ritual tutup mata dan bakar naga diselenggarakan di Klenteng Komplek Pemakaman Yayasan Bhakti Suci di Jalan Adisucipto Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (3/3) kemarin.

“Jadi tiap tahun naga yang sudah menjalani ritual buka mata pasti juga menjalani ritual tutup mata. Setelah ritual selesai naga dibakar,  di halaman kelenteng kompleks Pemakaman Bhakti Suci. Jadi naganya tidak pernah disimpan," ujar Ketua Panitia Festival CGM Pontianak Sugioto.

Tokoh Budaya Tionghoa, Shinse Aleng mengatakan, naga merupakan binatang paling dimuliakan masyarakat Tionghoa. "Di kalangan masyarakat Tionghoa, naga itu sebagai raja. Sedangkan permaisurinya adalah Burung Hong," ucapnya ketika Pontianak Post berada di kediamannya, Gang Gajah Mada 18, suatu sore.

Berdasarkan ceritanya, asal usul perayaan Cap Go Meh, arak-arakan naga buka mata, tutup mata sampai naga dibakar berawal dari cerita dulu ketika sang pangeran yang turun ke hutan untuk berburu binatang. Saat sampai di tengah hutan, satu busur panah yang dilesatkan pangeran mengenai mata binatang yang tak diketahui jenisnya. Rupanya panah itu mengenai mata naga.

Sang naga, kata Aleng, kesulitan melepaskan anak panah yang menancap di matanya. Naga itu, diceritakan dia, lalu pergi ke vihara untuk meminta bantuan biksu dengan doa, agar anak panah yang menancap di mata dapat terlepas. Agar panah terlepas, biksu, menurut dia, meminta naga berdoa pada tanggal 13 penanggalan Tiongkok. Setelah mendapat arahan biksu, naga pun berdoa dari pukul 1 hingga 3 sore. Setelah doa itu dilakukan, barulah anak panah di matanya dapat terlepas.

Usai kejadian itu, naga pun tinggal di vihara selama tiga hari. Dimulai sejak tanggal 13 sampai dengan 16. "Makanya sekarang ada tanda naga buka mata pada tanggal 13, sedangkan tanggal 16-nya naga harus dibakar untuk mengembalikan rohnya," ungkapnya.

Dikatakan dia, sebelum dan sesudah dibakar, naga harus dihormati, baik saat buka, tutup mata sampai proses naga dibakar. Menurut kepercayaan Tionghoa, di dalam replika naga, bersemayam roh naga sebenarnya.

Suasana acara bakar naga sendiri ramai disaksikan ratusan masyarakat. Kendati cuaca sangat terik pada siang hingga sore kemarin, ditambah hawa menyengat dari bakaran naga, mereka tetap antusia berjubel di lokasi. Masing-masing berlomba mengabadikan momen tersebut. Keramaian tersebut juga memancing para pedagang makanan, minuman, dan mainan anak-anak untuk meraih rezeki di lokasi. 

Perayaan Cap Go Meh di Pontianak tahun in lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya parade naga atau liong diikuti 28 naga. Sugioto mengatakan, tahun ini antusiasme masyarakat sangat tinggi. Kebanyakan naga-naga tersebut berasal dari yayasan pemadam kebakaran yang ada di Pontianak. Namun ada pula peserta dari luar kota. Ukuran naga sendiri bervariasi.

Naga terbesar berasal malah datang dari grup Sungai Pinyuh yang panjangnya saja 118 meter. Selain itu kepala naga yang diberi nama Naga Langit ini hampir seukuran bagian depan sebuah mobil. Selain naga aka nada juga parade replica kupu-kupu, ikan dan hewan lain. Tidak hanya itu, parade naga tersebut juga akan dibarengi dengan pawai budaya dan pertunjukan seni lainnya.

Parade sendiri akan dimulai pada Jumat (2/3), melintasi Jalan Patimura (depan Lapangan PSP) – Jalan Gajah Mada – Jalan Pahlawan – Jalan Tanjungpura. Sementara panggung kehormatan akan ditempatkan di halaman Yayasan Bhakti Suci, Jalan Gajah Mada. Naga-naga tersebut juga akan beratraksi kembali pada malam hari untuk pertunjukan naga bersinar. Di mana naga-naga itu akan dihiasi dengan lampu neon warna-warni yang aktraktif di sekitaran Jalan Gajah Mada.

Kendati demikian  rangkaian kegiatan sudah dilakukan sejak Januari lalu. Lampu-lampu lampion misalnya, sudah dipasang panitia sejak bulan lalu di sejumlah titik keramaian Pontianak. Pada 24 – 25 Februari akan digelar kompetisi dragon boat di Sungai Kapuas. Sementara pada 25 Februari hingga kemarin di Jalan Diponegoro digelar Festival Kuliner Vaganza dan panggung hiburan yang bisa disaksikan warga hingga malam hari. (ars)

Berita Terkait