Sindikat Uang Palsu Sasar Kalbar

Sindikat Uang Palsu Sasar Kalbar

  Kamis, 19 Oktober 2017 10:00
UANG PALSU: Bareskrim Polri mengungkap kasus pencetakan uang palsu yang diedarkan di enam provinsi di Indonesia, salah satunya di Kalimantan Barat. Uang palsu yang telah dicetak bernilai miliaran rupiah. MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Berita Terkait

JAKARTA – Kalimantan Barat menjadi sasaran pengedaran uang palsu bernilai miliaran rupiah. Kasus ini berhasil diungkap oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Enam tersangka yang memproduksi uang palsu tersebut berhasil ditangkap. Selain Kalbar, ada lima provinsi lain yang menjadi sasaran pengedaran uang palsu itu. Yakni, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), dan Bali. Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dirtipidesksus) Bareskrim Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Agung Setya mengatakan, berdasarkan penyelidikan, uang palsu itu sudah beredar di enam provinsi tersebut. “Kami temukan ada di enam provinsi uang ini sudah beredar,” kata Agung di kantor Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, kemarin (18/10). 

Upal yang ditemukan di masing-masing provinsi jumlahnya berbeda-beda. Agung memerinci berdasarkan penelusuran polisi setelah mendapat informasi dari BI ditemukan 24 lembar upal di DKI Jakarta. Kemudian, di Kota Pontianak Kalbar satu lembar, di Banten tujuh lembar. Uang palsu yang sudah beredar diyakini jauh lebih banyak. 

Selain itu, Polri juga mendapatkan informasi upal beredar di Grobogan dan Semarang, Jateng, kemudian Bekasi, Bogor, Depok, Jabar. “Yang cukup banyak di Bali, yakni 41 lembar,” tegasnya. Sebarannya di Buleleng, Gianyar, Jembrana, Tabanan dan Denpasar. 

Dalam pengungkapan ini, Bareskrim menyita ratusan lembar upal serta alat pembuatnya. Pembongkaran praktik ini berawal dari penangkapan dua pengedar berinisial S dan M, di Majalengka, Jabar, Senin (9/10) lalu. 

Dari tangan mereka, polisi mengamankan 310 lembar upal. “Sudah diidentifikasi, dan hasilnya ternyata benar uang palsu karena nomor serinya sama,” katanya. 

Setelah meringkus S dan M, polisi kemudian melalukan pendalaman lebih lanjut. Alhasil, dari keterangan dua tersangka upal diperoleh dari seseorang berinisial R di Surabaya, Jatim. 

Polri pun mengejar R pada Rabu 11 Oktober 2017.  Setelah berhasil ditangkap, Polri menyita  tiga lembar upal pecahan Rp300 ribu. Nah,  kata Agung, tersangka R mengaku upal itu diproduksi oleh suaminya bernisial I di rumah mereka di Bangkalan. “Kami temukan tempat pembuatan uang palsu di Jalan Jaya Wijaya, Bangkalan, Madura,” tutur Agung. 

Tidak hanya sampai di situ, Polri juga menyita sejumlah alat pencetak upal. Antara lain, seperangkat komputer, printer mesin offset, oven, ribuan kertas dan alat sablon. Polisi juga menangkap T yang diduga turut membantu membuat upal.  “Dalam membuat upal ini (T) dibantu oleh Saudara T,” katanya. 

Hanya, tersangka I yang diduga sebagai pelaku utama produsen upal belum ditemukan.  Namun, Polri terus melakukan perburuan. Agung menjelaskan, Kamis (12/10), polisi menangkap I di dalam goa sebuah hutan Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jatim. Menurut Agung, tersangka I bersembunyi di goa untuk menghindari kejaran polisi. Pilihan I bersembunyi di goa itu setelah mendengar saran dari seorang dukun.  “Atas petunjuk orang pintar, katanya kalau di goa tidak bisa ditangkap oleh Bareskrim,”  ujarnya. Hanya saja, upaya I bersembunyi gagal. Polisi berhasil meringkus I yang merupakan residivis dalam kasus ini di persembunyiannya. 

Tersangka I sudah memproduksi I di rumahnya di Bangkalan sejak 2008 silam. Hanya saja, I belum berhasil memproduksi upal dalam jumlah yang besar karena  masih coba-coba. “Ada pula yang gagal,” katanya. 

Dari penelusuran Polri, diduga ada orang yang menyuruh I memproduksi upal yakni AR. Tersangka AR diduga membiayai produksi  upal itu. “Dia diduga membiayai proses pembuatan upal, dengan menyerahkan Rp120 juta untuk belanja alat-alat,” kata Agung. Perjanjiannya, uang modal akan dikembalikan dua kali lipat jika bisnis berjalan lancar. Akhirnya, AR berhasil diringkus Polri di Cirebon, Jabar, Senin (16/10). 

Lebih lanjut Agung menuturkan, sindikat ini sempat membakar upal Rp400 juta untuk menghilangkan barang bukti. Polisi menemukan barang bukti itu sudah hangus terbakar. “Setelah dilakukan pengejaran mereka bakar,”  ujarnya.

Meski demikian, Agung menegaskan penyidik sudah memiliki barang bukti ratusan lembar upal dari penangkapan S dan M di Majalengka.  Dari hasil penangkapan ini, penyidik berhasil menyita uang palsu dalam pecahan seratus ribu sebanyak 400 lembar.  

Agung menduga masih ada pelaku lain dari sindikat upal itu yang diduga berperan sebagai pengedar. “Kami akan kejar pelaku yang mengedarkan,” kata jenderal bintang satu ini.  

Para tersangka yang ditangkap dijerat pasal 36 ayat 1 dan atau ayat  3, pasal 37 Undang-undang nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup. (ody) 

Berita Terkait