Sinar Mas Berikan Reward ke Desa Berprestasi

Sinar Mas Berikan Reward ke Desa Berprestasi

  Rabu, 20 March 2019 09:53
TIDAK MEMBAKAR: Melalui program Desa Makmur Peduli Api yang diusung Sinar Mas sejak tiga tahun belakangan, berhasil menorehkan prestasi terhadap delapan desa yang tidak membuka lahan dengan cara membakar. Hasil panen yang didapatkan pun melimpah.

Berita Terkait

Ajak Masyarakat Tidak Buka Lahan dengan Membakar 

 

SINAR Mas Agribusiness and Food memberikan penghargaan kepada delapan desa binaannya di kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kamis (14/3) lalu.

Penghargaan tersebut bukan tanpa alasan, melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang diusung oleh Sinar Mas sejak tiga tahun belakangan berhasil menorehkan prestasi terhadap delapan desa ini untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. 

CEO Sinar Mas Agribusiness and Food wilayah Kalimantan Barat, Susanto menjelaskan program DMPA sengaja dirancang menyesuaikan kebutuhan masyarakat dari delapan desa tersebut.

Untuk mendukung program ini, dibentuk Masyarakat Siaga Api (MSA) yang menjadi ikon masyarakat peduli api di desa sekitaran perusahaan. Sebetulnya, program DMPA merupakan salah satu program penyaluran dana CSR oleh Sinar Mas kepada desa-desa binaan yang lokasinya berada di wilayah kerja perusahaan, yang tujuannya membangun kelembagaan di masyarakat untuk tanggap dan sigap terhadap pencegahan maupun penanganan kebakaran melalui MSA. 

Dalam pembentukannya, setiap MSA di masing-masing desa memiliki jumlah anggota sebanyak 15 orang, yang kemudian seluruh anggota ini dilatih langsung oleh tim Manggala Agni, berupa latihan pendeteksian potensi kebakaran di masing-masing desa, pendataan area-area yang rawan kebakaran terutama di musim kemarau yang kemudian dari hasil pendataan tersebut langsung dikoordinasikan kepada pemerintah desa setempat.  

Adapun delapan desa tersebut adalah Desa Lembah Hijau 1, Desa Siantau Raya, Desa Simpang Sembalangan, Desa Tanjung Medan, Desa Tajok Kayong mendapatkan prestasi sebagai desa siaga dan menerima reward Rp100 juta.

Sedangkan tiga desa lainnya adalah Desa Lembah Hijau 2, Desa Nanga Tayap serta Desa Sungai Kelik, mendapatkan prestasi sebagai desa tanggap dan menerima reward senilai Rp50 juta.  

Camat Nanga Tayap, Hafid mengapresiasi atas reward dari PT Sinar Mas yang diberikan kepada delapan desa di wilayah pemerintahnya tersebut.  

Berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, bagi dia adalah suatu bencana yang semestinya sedini mungkin harus dicegah. Meskipun sudah terungkap, secara temurun masyarakat di sana membuka lahan, khususnya di bidang pertanian dengan cara membakar, namun semestinya hal tersebut sudah mulai ditinggalkan karena dampaknya cukup besar bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. 

Dijelaskan dia, jika menilik tiga tahun belakangan, terhitung sejak dimulainya pembinaan kepada masyarakat tentang Karhutla melalui MSA ini bukanlah waktu yang cukup, apalagi jangkauan desa yang dibina jika dikalkulasikan baru sekitar 40 persen dari total seluruh desa yang ada di Kecamatan Nanga Tayap. 

"Oleh karena itu kita (pemerintahan setempat) akan tetap bersinergi dalam penanggulangan ini dan memberikan edukasi kepada masyarakat (dengan pihak perusahaan),” ungkapnya. 

Selain itu, ia juga menambahkan dalam melakukan pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, dirinya meminta agar delapan desa ini tidak terpaku dengan reward yang diterima dari Sinar Mas. Semestinya, prestasi ini akan terus berlanjut hingga ke depan nanti, meskipun keberhasilan dalam melakukan pencegahan terjadi kebakaran hutan dan lahan tidak dihadiahi dengan reward. 

“Sebab program CSR dari pihak perusahaan ini, terutama mengenai pemberian penghargaan  melalui Program Desa Makmur Peduli Api tidak mungkin akan dilakukan selamanya,” ujarnya. 

Bukan hanya itu, mengenai peralatan pemadam kebakaran yang telah diberikan oleh pihak Sinar Mas tiga tahun belakangan, dia juga berharap desa-desa ini dapat merawatnya dengan baik. Bila perlu biaya perawatan itu menggunakan dana desa yang telah dialokasikan. Tentunya dalam mengalokasikan biaya perawatan tersebut harus sesuai regulasi yang berlaku. 

“Kalau regulasinya tidak ada, jangan berani, nanti kena masalah, kena audit kepala desanya, tidak sesuai dengan rencana APBDes-nya, ya susah juga,” tuturnya. 

Di tempat yang sama, Kepala Desa Tajok Kayong, Yamasaki mengatakan, pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di desanya bukan karena ingin menerima reward semata. Namun hal itu sudah menjadi bagian penting dari masyarakat untuk menjaga hutan dan lahan bagi kehidupan di sana. "Api adalah musuh kami. Tanah, hutan dan air adalah teman kami di desa, dan tentunya akan kami jaga," ungkapnya. 

 Disebutkan dia, jauh sebelum adanya bantuan atau pembinaan baik dari pemerintah maupun dari pihak perusahaan, kearifan lokal masyarakat di desanya terkait dengan membuka lahan memang pada dasarnya dengan cara membakar. Hal itu dipercaya bahwa abu dan arang hasil pembakaran menjadi pupuk penyubur tanah di lahan tersebut. 

Namun, lambat laun kesadaran masyarakat akan besarnya dampak buruk dari kebakaran hutan semakin tumbuh, hingga kebiasaan lama itupun mulai ditinggalkan. “Apalagi dari pihak pemerintah dan pihak perusahaan yang bersentuhan langsung dengan aktifitas kami di desa memberikan pemahaman dampak ini (kebakaran),” jelasnya. 

Selain itu, Kepala Desa Tanjung Medan mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sinar Mas yang telah membimbing dan membina masyarakatnya serta memberikan bantuan ke desanya melalui program DMPA tiga tahun belakangan. 

Disebutkan dia, meskipun tidak akan ada lagi reward yang akan diterima oleh desanya, dia berkomitmen akan menjaga desanya untuk tidak akan ada lagi kebakaran, baik hutan maupun lahan. “Mengenai dana reward yang desa kami terima ini, akan kami kelola untuk membangun desa,” tutupnya. (ser/*) 
 

Berita Terkait