Siap Bangun Pembangkit Nuklir di Kalimantan Barat

Siap Bangun Pembangkit Nuklir di Kalimantan Barat

  Kamis, 14 March 2019 09:06
NUKLIR: Manajer Proyek ThorCon Heddy Krishyana menunjukan desain instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir dengan bahan baku thorium. ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Bahan Bakar Thorium Lebih Efisien dan Aman

PONTIANAK – Perusahaan energi asal Amerika Serikat ThorCon International, PTE Ltd siap membangun pembangkit listri bertenaga nuklir di Kalimantan Barat. Manajer Proyek Thorcon , Heddy Krishyana mengatakan apabila mendapat izin dan diminta, pihaknya akan segera membangun instalansi dan reaktornya. “Kami mencoba tawarkan kepada siapapun yang mau. Termasuk di Kalimantan Barat ini,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin (12/3).

Teknologi nuklir generasi ke-empat yang ditawarkan ThorCon sendiri hanya memakai uranium 15% selebihnya thorium, yang di Indonesia ketersediannya cukup berlimpah bahkan di duga cukup untuk 1000 tahun.  Thorium Molten Salt Reactor (TMSR) yang lebih popular disebut Pembangkit listrik tenaga thorium (PLTT) bukan saja sangat aman dan tidak ada emisi dengan tapak kecil sehingga ramah lingkungan tetapi secara ekonomis dapat bersaing dengan batubara. 

“PLTT dapat menjadi terobosan bagi masyarakat untuk mendapatkan listrik murah dan handal. ThorCon telah menunjukkan minat membangun PLTN berbasis Thorium dengan investasi swasta (tanpa APBN) sebesar US$ 935 Juta atau setara dengan Rp13 Triliun untuk PLTT 2 X 500MW,” kata Heddy. 

Untuk mengidentifasi kemungkinan pengembangan dan Implementasi PLTT khususnya Desain Thorium Molten Salt Reactor (TMSR) 500 MW di Indonesia berdasarkan aspek keekonomian, regulasi, keselamatan, jaringan. dan beban maka di lakukan kegiatan studi oleh BLU P3tek KEBTKE yang bekerjasama dengan Thorcon. Salah satu tahapannya dengan menggelar Forum Group Discussion di Hotel Orchardz Pontianak, kemarin. Diskusi ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari Pemrov Kalbar, PLN dan akademisi.

Berdasarkan perhitungan, PLTT di Kalbar mampu menjual listrik di bawah BPP Nasional, antara 6-7 sen per kwh yang tidak mungkin di capai oleh PLTN komersial lainnya sehingga dapat menurunkan BPP Kalbar yang ada pada kisaran $10 sen per kwh yang akan berdampak tumbuh nya berbagai industri di Kalbar dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  “Sebagai informasi, salah satu opsi pemenuhan kebutuhan energi nasional adalah dengan menggunakan nuklir yang sebenarnya sudah di amanatkan dalam UU No 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, bahwa PLTN beroperasi pada tahun 2025,” terangnya.

Sementara itu, dari sisi keselamatan, Heddy menyebut, PLTT memiliki tingkat keselamatan lebih tinggi dibanding PLTN lainnya. Pertama tidak bertekanan dan bahan bakar dalam keadaan cair. Dengan kata lain kejadian Seperti Fukushima tidak mungkin terjadi, sebagaimana yang di sampaikan oleh Dr Staffan Qvist, pakar Nuklir dari inggris yang di undang oleh ESDM untuk memberikan paparan belum lama ini. 

kebutuhan energi listrik nasional terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Untuk mencapai tingkat kesejahteraan setara dengan Malaysia maka indonesia harus membangun kapasitas. 4X dari yang sekarang artinya perlu menambah sekitar 180 GW. Bila di bangun dalam 20 tahun artinya setiap tahun harus membangun 9GW dari saat ini hanya 5 GW per Tahun. Hal ini tidak mungkin di capai tanpa Nuklir. 

“Tentunya juga untuk dapat mencapai target 23 persen EBT pada 2025 tidak mungkin tercapai tanpa Nuklir. Kasus Jerman dan Perancis sudah membuktikan bahwa adalah perancis yang berhasil menurunkan emisi dengan menambah bauran Nuklir dibanding Jerman yang justru menutup PLTN. sebaiknya kita mengikuti negara yang terbukti berhasil menurunkan emisi bukan yang gagal,” pungkas dia. (ars)

Berita Terkait