Siaga Menuju Euro 2016

Siaga Menuju Euro 2016

  Jumat, 10 June 2016 09:30
EKSTRAKETAT: Tentara Prancis berjaga di Fan Zone di Nice, kemarin. Menjelang pembukaan Euro 2016, pengamanan di negara ini ekstraketat menyusul adanya isu bahwa Euro bakal menjadi target serangan teror. VALERY HACHE / AFP

Berita Terkait

Sulit bagi warga Prancis melupakan insiden 13 November 2015. Trauma itu belum hilang menjelang perhelatan akbar Euro 2016 yang dibuka pada Jumat, 10 Juni ini.  
--
MEMORI Olivier Pochet langsung tertuju kepada insiden memilukan di San Denis pada 13 November 2015. Sulit baginya melupakan apa yang terjadi hari itu. Saat itu dia ada di antara ribuan orang yang menonton pertandingan persahabatan antara Prancis melawan Jerman di Stade de France, Saint-Denis.

”Semuanya berjalan seperti biasa. Saya dan beberapa orang teman ingin bersenang-senang dan memberikan dukungan kepada Les Bleus (julukan timnas Prancis). Kebetulan, ada teman yang membelikan tiket,” kisah Pochet yang ditemui di kereta api dari Gare Montparnasse menuju Rambouillet.

”Kami tidak tahu apa yang terjadi di luar stadion. Mulanya, saat ledakan pertama, kami tidak mengira itu serangan teroris. Biasa saja, belum ada yang terlalu panik. Lalu, datang serangan kedua dengan bunyi ledakan yang lebih besar dan menakutkan,” ujar pria yang memiliki restoran pizza di Rue de la Fosse Jean, Rambouillet, itu.

Sejurus kemudian, kepanikan terjadi. Para penonton bingung apakah harus berlari keluar stadion atau tetap berada di dalam. ”Lalu, kami mendengar mungkin akan ada serangan lanjutan dan semua orang berupaya untuk pergi dari tribun,” kata pria yang mengidolakan klub Paris-Saint Germain (PSG) itu.

”Saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk berlari ke arah lapangan. Kami pikir di sana lebih aman ketimbang di tribun. Kami lihat semua orang mulai berlari ke lapangan. Kepanikan yang luar biasa. Itu hari yang sangat menakutkan buat saya,” kata Pochet.

Teror pada 13 November 2015 itu membuat 129 orang meninggal, 352 orang terluka, dan 99 di antaranya berada dalam kondisi kritis. Serangan tidak hanya terjadi di stadion, melainkan juga di beberapa tempat dalam waktu yang hampir bersamaan.

Ada penembakan dan tiga kali ledakan bom. Terjadi di Rue de la Fontaine-au-Roi, Rue de Charonne, dan Rue Bataclan. Di pusat kota Paris juga terjadi serangan di Les Halles. ”Sejak saat itu, saya belum pernah lagi pergi ke sana (Saint-Denis),” kata Pochet.

Tak ingin terjadi kekacauan serupa pada Euro 2016, pengamanan ekstra ketat dilakukan pemerintah Prancis. Di Paris, selalu ada mobil polisi dan tentara yang berkeliling. Biasanya, beriringan dua mobil. Setiap mobil berisi empat orang aparat.

Selain polisi yang nyaris berada di setiap sudut keramaian, juga ada tentara yang siap dengan senjata otomatis. Di Saint-Denis, bukan hanya tentara dan polisi, terlihat petugas keamanan swasta dengan pakaian bebas, tetapi selalu membawa alat komunikasi.

Saat berada di stasiun Metro Pasteur, tiba-tiba empat polisi mendatangi seorang warga yang berjalan. Mereka menggeledah dan menginterogasi warga tersebut. Meski ada CCTV di mana-mana, tapi polisi dan tentara ogah kecolongan. Sedikit saja melihat hal yang mencurigakan, mereka turun tangan. 

Ekstra Ketat 
Tempatnya memang bernama Fan Zone. Tapi, jangan berharap fans merasa fun dan nyaman memasuki area ini. Tensi ancaman yang meningkat memaksa panitia penyelenggara Euro 2016 meningkatkan standar pengamanan. Seperti yang terjadi di area Fan Zone Paris di Parc de Champ-de Mars. 

Untuk masuk ke area Fan Zone, fans harus melewati barikade pengamanan yang berlapis.  Ratusan polisi dan tentara disebar di beberapa titik yang dianggap berpotensi menimbulkan kerawanan. Pengamanan tertutup pun diterapkan dengan memasang sejumlah kamera dan petugas berpakaian preman. 

Lalu, saat masuk gate Fan Zone, suporter harus rela tas dan barang bawaannya digeledah. Fans juga dilarang membawa tongsis, kamera, serta botol minuman. ‘’Booth penjual minuman banyak di dalam,’’ ucap seorang petugas yang diprotes fans saat botol minumannya disita.

Pemeriksaan dan penggeledahan itu jelas memakan waktu. Karena itu, panitia menghimbau fans untuk datang lebih awal. Standar pengamanan itu dilakukan untuk memastikan agar Fan Zone tak hanya nyaman untuk dipakai acara nonton bareng pertandingan. Tapi, juga tempat yang aman untuk mencari hiburan. 

Khusus di Paris, standar pengamanannya memang lebih ketat. Sebab, di sinilah pusat aktivitas perhelatan Euro 2016. Apalagi, area Parc de Champ-de Mars tak hanya menjadi lokasi berkumpulnya suporter. Kawasan di komplek Menara Eiffel itu juga akan menjadi tempat manggungnya Muse pada 28 Juni.  

Tak hanya di area Fan Zone. Petugas keamanan juga bakal disebar di luar. Terutama di tepi sungai Pont de Solferino hingga Port dua Gros Caillou. Tempat ini dinamakan Les Berges de I’Europe atau Tepi Sungai Eropa. Belum banyak aktivitas suporter yang mendirikan tenda di area tersebut. Terutama suporter Prancis dan Rumania yang akan bertanding dini hari nanti. ‘’Anda bisa melihat kehadiran mereka jelang pertandingan,’’ kata Julien Bacquet, suporter Prancis. (*/ca)
 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait