Si Pengulik Kopi

Si Pengulik Kopi

  Selasa, 22 January 2019 09:46

Berita Terkait

KOPI, si hitam yang terkenal dengan cita rasa pahitnya ini tentu udah sering disesap oleh tiap kalangan, entah itu anak muda, kaum dewasa hingga manula. Terlebih bagi para anak muda yang sering begadang mengerjakan tugas, pasti kopi udah menjadi sahabat sejatinya karena kandungan kafein dalam kopi dapat membuat mata melek.

Seiring perkembangan zaman, penggemar kopi juga ikut berkembang hingga saat ini dikenal adanya sebutan coffee snob. Yup, coffee snob kini menjadi sebutan bagi para geek di dunia perkopian. Umumnya, para coffee snob dikenal karena fanatisme mereka pada kopi lokal dan bagaimana kopi tersebut disajikan.

“Coffee snob menurutku orang yang pengin tahu tentang kopi. Apalagi sekarang kecepatan informasi dan media sosial tuh berkembang cepat. Jadi wajar kalo sekarang ada banyak coffee snob,” ujar Dimas Fajar dari Segitiga Coffee & Roastery.

Hadirnya coffee snob dipicu ketertarikan orang terhadap sesuatu yang baru, yakni kopi. Fyi, Indonesia menjadi negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia, namun tren coffee snob baru muncul beberapa tahun belakangan ini. Tren coffee snob ini cenderung diikuti oleh anak muda yang mana rasa ingin tahunya memang besar.

Di Pontianak sendiri, kopi udah menjadi budaya masyarakat sehingga para coffee snob nggak sulit menemukan kedai kopi. Dimas menceritakan jika kemunculan banyak coffee shop di Pontianak pun baru enam tahun belakangan ini. Beragam coffee shop yang hadir di Pontianak secara nggak langsung dapat bertahan karena tren filosofi kopi.

“Film Filosofi Kopi tuh berpengaruh pada munculnya coffee snob. Di Pontianak nih coffee snob-nya mayoritas berumur di atas 20-an. Nggak banyak anak sekolahan yang jadi coffee snob,” tambah lelaki yang pernah mengikuti World Cup Tasters Championship ini.

Para coffee snob biasanya lebih sering mengulik sendiri teori kopi, sementara untuk praktiknya dilakukan coffee shop yang menyediakan open bar, seperti Segitiga Coffee & Roastery. Teori kopi yang dipelajari coffee snob berkisar pada membongkar karakter kopi, bagaimana kopi disajikan dengan berbagai alat menarik, kenapa air seduhan kopi harus diukur suhunya, kenapa kopinya disaring dan ditimbang, dan lain-lain.

Berdasarkan pengamatan Dimas, pengunjung Segitiga terkadang banyak yang tahu mengenai kopi. Namun, kembali lagi apakah coffee snob ini ingin berinteraksi dengan barista atau nggak. Akhirnya mereka hanya menilai sendiri kopi pilihannya.

Lewat media sosial pun bisa dilihat terkadang ada coffee snob yang terlalu banyak menghakimi bagaimana kopi disajikan. Padahal tiap bar punya keterbatasan sendiri, entah itu alat atau barista karena alat-alat dan mesin kopi terhitung mahal.

“Semakin banyak coffee snob nih berarti kopi semakin menarik untuk dijual. Terus kalo mau mempelajari kopi usahakan cari teori dan referensi yang benar sesuai dengan kemampuan finansial,” pungkas Dimas. (ind)
 

Berita Terkait