Si Jangkung Arianto Mulai Menjulang Saat Usia 14 Tahun

Si Jangkung Arianto Mulai Menjulang Saat Usia 14 Tahun

  Sabtu, 8 Oktober 2016 21:49
FOTO Chandra Satwika/Jawa Pos

Berita Terkait

Mochammad Arianto Pribadi sejatinya tumbuh sebagai anak kecil yang normal. Tidak ada yang mengira bahwa tubuhnya akan tumbuh terus sampai menjulang. Saat masih sekolah di SDN Pejangkungan, Prambon, Sidoarjo tinggi dan berat Arianto terbilang biasa-biasa saja. Tidak ada tanda-tanda akan meraksasa.

Tanda-tandanya mulai muncul saat berusia 14 tahun. Tubuhnya mendadak sangat gemuk. Padahal, makannya masih wajar. Tidak ada perubahan.

Setelah ”tumbuh ke samping”, tak lama kemudian, tubuhnya tumbuh ke atas. Terus tinggi. Drastis. ”Itu kelas VI SD sampai kelas I SMP (kelas VII, Red),” kisah lelaki 26 tahun yang kini bertinggi 220 sentimeter tersebut.

Pada caturwulan kedua di kelas VII SMP, tingginya sudah di atas rata-rata. Saat itu, mencapai 197 sentimeter. Karena kondisi tersebut, dengan didampingi orang tua, dia memberanikan diri mengecek keadaannya ke dokter. Meski pria tinggi besar itu takut jarum suntik. Padahal, jarum kecil itu enggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ukuran jari tengahnya kini yang sepanjang 13,5 sentimeter.

Akhirnya, dokter menjelaskan bahwa Arianto menyandang gigantisme. Hormon pertumbuhan dalam dirinya berkembang terus. Jumlahnya berlebih. Tak heran, badannya terus tumbuh. ”Dulu dibilangi, saya masih mungkin tumbuh lebih tinggi lagi. Cara menghentikannya hanya dengan operasi memotong pertumbuhan hormon itu, tapi saya enggak mau,” jelasnya.

Keadaan berbeda itu membuat dirinya minder. Dia nekat tidak melanjutkan sekolah. DO. Drop out. ”Saat itu saya OD alias Out dewe (keluar sendiri, Red),” katanya, lalu terbahak.

Padahal, Arianto termasuk berprestasi. Bahkan, mendapat beasiswa. Tapi, Arianto telanjur shock. Dia memilih menutup diri dan berdiam di rumah. ”Minder-minder sendiri. Padahal, enggak ada satu pun anak yang mengejek,” ingatnya.

Tidak sampai dua bulan minder dan murung, guru seni di SMP-nya datang. Arianto diceramahi. Tapi, ceramahnya berisi dukungan untuknya.

”Kamu itu punya kelebihan. Kamu masih punya segalanya. Tanganmu, kakimu, enggak ada yang cacat. Enggak ada solusi kalau kamu hanya di rumah,” ucap Arianto menirukan nasihat dari guru yang dia sapa Pak Agus.

Nasihat itu benar-benar jadi pelecut semangat. Arianto kembali bangkit. Pada 2005, dia mulai keluar rumah. Mulai main ke tetangga. Tiap malam dia mengunjungi warung kopi. Kembali bermain dengan rekan sebayanya.

Ternyata, respons sekitarnya baik. Tidak ada yang mengejeknya. ”Sejak itu malah sering keluar. Tiap malam ke warung kopi nongkrong,” ujarnya.

Daripada nganggur, akhir 2005 dia memilih bekerja. Karena hanya lulusan SD, dia tidak bisa memilih banyak jenis pekerjaan. Terpaksa, Arianto bekerja serabutan di pabrik saus di desanya. Lumayan untuk uang ngopi setiap hari.

Tapi, ternyata dia tak betah. Dia berhenti pada akhir 2006. ”Saya coba peruntungan lain saja. Pada 2007, ikut tim voli Surabaya. Tapi, baru seminggu karantina, saya sudah pulang lagi karena enggak kerasan,” ujarnya. (Firma Zuhdi/dos)

Berita Terkait