Si Dia Banyak “Musuh”

Si Dia Banyak “Musuh”

  Sabtu, 24 September 2016 10:02

Pasangan sering bertengkar dengan tetangga ataupun dengan keluarga? Tentu ini bukan perkara mudah. Kehidupan rumah tangga menjadi tidak tenang. Apalagi ketika sudah pindah dilingkungan yang baru pun, tetap saja pasangan Anda memiliki lawan untuk bertengkar.

 
 

Oleh : Marsita Riandini

 

Hidup berdampingan dengan tetangga tak bisa dilepaskan dalam kehidupan. Namun, menjalani hidup bertetangga termasuk perkara yang susah-susah gampang. Setiap hari bertemu tak jarang menimbulkan gesekan. Alhasil perselisihan pun tak terhindarkan. Cekcok mulut yang berujung keributan pun dapat terjadi.

Bagaimana jika itu terjadi pada pasangan Anda? Beberapa kali pindah tempat tinggal, ada saja yang diajak bertengkar, mulai dari tetangga hingga dengan ipar dan mertua. Agus Handini, M. Psi, Psikolog mengatakan beragam alasan menyebabkan seseorang memiliki “musuh” di mana pun ia tinggal. 

“Seseorang yang di mana pun dia tinggal, selalu saja ada lawan untuk bertengkar, lalu bermusuhan. Biasanya orang tersebut tidak mencapai tahapan keterampilan sosialisasi yang maksimal. Akhirnya kemampuan bersosialisasinya kurang dan timbul benturan-benturan dengan banyak orang,” jelas dosen IAIN Pontianak ini.

Kurangnya kemampuan sosialisasi juga dapat dipengaruhi pola asuh. Misalnya, dia sering merasa dibandingkan dengan saudara kandung. Kemudian hal ini digeneralisasikan dalam realisasi sosial yang lebih kompleks.

“Dia kerap dibandingkan dengan saudara kandung, akhirnya dia sering merasa cemburu dengan saudaranya sendiri. Timbul perilaku-perilaku yang mudah sekali menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap saudaranya yang kemudian berlanjut pada lingkungan yang lebih luas yakni kepada tetangganya,” papar Agus.

Keterampilan bersosialisasi juga dipengaruhi oleh kesempatan yang biasanya tidak sepenuhnya dimiliki. Ini menyebabkan terjadinya keterbatasan dalam kuantitas pergaulan akan mempengaruhi kualitas keterampilan bersosialisasi.

“Bisa pula dipengaruhi oleh aspek pemikiran yang tidak rasional, sehingga dia merasa orang lain lebih daripada dirinya atau dia merasa dirinya lebih dari orang lain. Pemikiran inilah yang akan memperkuat perilaku maladaptif itu sendiri,” jelasnya.

Perilaku maladaptif merupakan kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek identitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikisosial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.

“Selain pemikiran yang tidak rasional seperti itu, rasa kurang percaya diri pada orang lain juga menimbulkan perilaku yang merasa tidak nyaman dengan orang lain,” ungkapnya. 

Menurut Agus, ketika seseorang berkonflik dengan orang lain, sesungguhnya itu menunjukkan bahwa dia sedang berkonflik dengan dirinya. Sebab kemampuan menerima perbedaan, persepsi, sikap, dan perilaku orang lain di lingkungan juga menunjukkan kemampuan dalam menerima dirinya sendiri.

“Keterampilan menerima diri sendiri membutuhkan energi lebih daripada kemampuan untuk menerima persepsi, sikap, dan perilaku yang berbeda dari orang lain. Sebab rasa nyaman, aman, dengan lingkungan dimulai dari rasa nyaman dan aman dengan orang tua, dan kemudian berkembang dalam bentuk pemikiran yang rasional ataupun yang tidak rasional,” terangnya.

Agus menambahkan pasangan tentu harus membantu untuk memperbaiki kemampuan sosialisasi suami atau istrinya. Sebab masalah ini akan bertambah kompleks ketika sudah memiliki anak. Sering kali orangtua bertengkar karena perkelahian anak-anak mereka. Saat anak-anak mereka sudah berbaikan, orang tua tetap saja bermusuhan. “Cari tahu penyebab pasangan bersikap demikian. Apa yang membuat dia sering bertengkar dengan orang lain,” pungkasnya. **