Setiap Kezaliman Dapat Balasan

Setiap Kezaliman Dapat Balasan

Jumat, 23 March 2018 09:04   435

Oleh: Uti Konsen.U.M.

Belakangan ini ramai beredar beragam fitnah di masyarakat dan sengaja dihembuskan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Tujuannya pun jelas, adalah hasad, dengki, serta kepentingan duniawi yang rendah. Tidak syak lagi bahwa itu adalah sebuah kezaliman yang nyata. Kezaliman yang dikemas seakan–akan sebuah kebaikan. Dimana mereka merasa telah berbuat baik, padahal hakekatnya terjerembab dalam perbuatan dosa yang sangat mengerikan. Allah menyinggung tipe manusia sepeerti ini dalam firman-Nya, “Katakanlah, Maukah kami kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang–orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka  bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103-104).

Allah SWT mengingatkan  dalam  Alquran bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan mendapat balasan dari-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Zalzalah surah ke 99 ayat 7-8, “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”  

Lebih berbahaya lagi apabila menyakiti seseorang  dan orang tersebut tidak ikhlas, serta berdoa memohon kepada Allah mengadukan kezaliman yang menimpanya dan memohon pertolongan dan perlidungan-Nya dari Allah.  Serta dalam doanya, ia menyatakan bahwa ia tidak ikhlas  atas perbuatan zalim yang dilakukan  seseorang, maka tunggu saja  keadilan dari Allah. Pasti akan menimpa orang yang telah menzaliminya, entah itu di dunia atau di akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda, “Kezaliman itu ada 3 macam. Kezaliman yang tidak diampuni Allah, kezaliman yang dapat diampunkan Allah, dan kezaliman yang tidak dibiarkan oleh Allah.” 

Adapun kezaliman yang tidak diampunkan Allah adalah syirik. Firman-Nya, “Sesungguhnya syirik itu kezaliman yang amat besar.”  Adapun kezaliman yang dapat diampunkan Allah adalah kezaliman hamba terhadap dirinya sendiri di dalam hubungan dia terhadap Allah, Tuhannya. Dan, kezaliman yang tidak dibiarkan Allah adalah kezaliman hamba– hamba-Nya diantara sesama mereka, karena pasti dituntut kelak oleh mereka yang dizalimi. (HR.Al Bazar dan Ath-Thayalisy).

Pada suatu waktu Nabi Musa AS mengembara. Karena capek, ia beristirahat di bawah sebatang pohon rindang sambil menatap ke lembah tidak jauh darinya. Datang seorang lelaki menunggang kuda. Ia turun dari kudanya, ternyata di situ ada sumur yang berisi air. Setelah puas minum dan istirahat sebentar, ia pergi. Tanpa disadarinya, sebuah kantong yang berisi uang yang dibawanya, tertinggal disitu. Setelah ia meninggalkan tempat itu, datang seorang bocah. Ia menemukan kantong tersebut. Dengan gembira ia bawa pergi. Tak lama kemudian  datang lagi seorang tua, tuna netra berjalan tertatih-tatih dengan memegang sepotong tongkat. Belum sempat ia beristirahat, tiba-tiba datang lelaki pertama penunggang kuda itu dan menghardik, “Hai kakek, mana kantong yang berisi uang  saya di sini?”. 

Sang kakek menjawab, “Anakku, kakek tidak tahu. Kakek baru datang. Kakek buta, tidak bisa melihat.” 

Pendek cerita, bagaimana pun alasan yang dikemukakan oleh sang kakek , si penunggang kuda itu tidak bisa menerimanya. Dengan emosi, ia membunuh si kakek itu. Nabi Musa AS bingung, dan bertanya dimana letak keadilan Allah. Setelah munajat Allah SWT menjelaskan kepada Nabi Musa AS, “Lelaki penunggang kuda itu adalah majikan dari ayah si bocah tadi, yang gajinya belum dibayarkan sampai ayahnya wafat. Karena itu sang bocah itu pada hakekatnya mengambil gaji almarhum ayahnya. Adapun sang kakek yang dibunuh oleh si penunggang kuda itu adalah sebelum ia buta dialah yang membunuh ayah dari sipenunggang kuda itu.” Subhanallah. Allah Maha Adil.

Allah SWT tidak suka terhadap perbuatan zalim. “Ada pun orang–orang yang beriman dan mngerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan - amalan mereka, dan Allah tidak menyukai orang–orang yang zalim. (Ali Imran (3):57).

Firman Allah SWT lainnya, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang–orang yang zalim.” (Asy-Syuura (42):40).

Dari Anas RA ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kamu menolong saudaramu yang menganiaya dan yang teraniaya.” 

Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah (benar) akan menolong apabila ia dianiaya, maka  bagaimana cara menolongnya  apabila ia menganiaya?”

Beliau menjawab, “Engkau cegah dia dari (perbuatan) penganiayaan, maka yang demikian itulah berarti menolongnya.” (HR.Bukhari). 

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, “Siapa yang merasa pernah berbuat zalim kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau selainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal saleh, maka akan diambil menurut kadar aniayanya, dan jika tidak mempunyai kebaikan, diambilkan dari kejahatan orang yang dizalimi untuk ditanggungkan  kepadanya.” (HR.Bukhari dan Muslim). Wallahualam.**

Uti Konsen