Setengah Abad Terpisah, Dering Telepon Pertemukan 2 Saudara Kandung

Setengah Abad Terpisah, Dering Telepon Pertemukan 2 Saudara Kandung

  Jumat, 28 December 2018 13:57

Parameswari Govindasamy tahu sejak kecil bahwa dirinya diadopsi. Fisiknya berbeda dengan orang tuanya. Takut orang tuanya terluka, perempuan 57 tahun itu tak pernah mencari orang tua kandungnya. Hingga suatu hari, dering telepon mengubah hidupnya.

’’Saudarimu ingin bertemu denganmu.’’ Kalimat tersebut diucapkan Seeni melalui sambungan telepon beberapa hari lalu.

Hanya kalimat biasa, tapi itu telah mengubah hidup Parameswari Govindasamy. Perempuan 57 tahun asal Singapura itu sudah lama tahu bahwa dirinya adalah anak adopsi. Tapi, dia tak pernah menyangka bahwa di luar sana dirinya masih memiliki saudara. Dia adalah Fathima Bibi, istri Seeni.

Seeni adalah rekan kerja Parameswari. Kadang-kadang mereka tampil bersama di layar televisi. Parameswari sempat tak percaya dengan pernyataan Seeni, tapi toh dia tetap pergi menemui orang yang mengaku saudaranya tersebut.

’’Saya benar-benar terkejut. Selama ini saya pikir saya tak punya siapa-siapa. Tapi, kini saya punya saudari. Saya begitu senang,’’ ungkap Parameswari seperti dikutip Channel News Asia kemarin (23/12). Ketika orang tua adopsinya meninggal, dia menyangka hanya sendirian di dunia ini.

Parameswari dan Fathima punya banyak kemiripan fisik. Demikian pula anak-anak mereka. Kulit putih dan mata sipit khas orang Tionghoa. Dan keduanya sama sekali tak mirip dengan keluarga angkatnya.

Parameswari diadopsi keluarga Hindu dan Fathima diberikan kepada keluarga muslim India. Ibu angkat Parameswari dan ayah angkat Fathima adalah teman dekat.

Keluarga Fathima sudah lama mengungkapkan bahwa dia adalah anak adopsi. Tapi, tidak demikian halnya dengan keluarga Parameswari. Fakta bahwa dia adalah anak adopsi baru diketahuinya saat berusia 12 tahun. Kala itu dia tengah mengurus kartu identitas. Petugasnya bertanya siapa orang tua biologisnya.

Awalnya dia bingung. Tapi, setelah beberapa saat Parameswari sadar dengan yang dimaksud petugas tersebut. Itu menjelaskan mengapa kulitnya yang begitu pucat berbeda dengan ayah-ibunya. Dia sempat bertanya kepada ibu angkatnya, tapi sang ibu menyatakan bahwa petugas itu salah.

’’Saat itu saya tidak punya keberanian untuk berpikir bahwa ibu saya ternyata adalah ibu adopsi. Jadi, saya biarkan semuanya berlalu,’’ kenangnya. Matanya berkaca-kaca saat membayangkan masa lalunya.

Baru di usia 16 tahun dia punya nyali untuk kembali bertanya kepada ibunya. Kali ini sambil bercucuran air mata sang ibu mengakui bahwa dia diadopsi.

Tapi, tak banyak cerita yang muncul. Ibunya hanya mengatakan bahwa orang tua kandungnya adalah orang baik, tapi tak punya uang untuk merawatnya. Lagi-lagi, Parameswari tak berani bertanya lebih banyak. Dia tahu ibu angkatnya takut dirinya akan lari dari rumah. Saat itu dia juga berpikir tak perlu mencari orang tua kandungnya. Toh, dia tak diinginkan.

Fathima punya kisah yang berbeda. Dia dan suaminya, Seeni, sudah tahu bahwa Parameswari adalah saudarinya sejak tiga dekade lalu. Mereka memilih bungkam untuk menunggu waktu yang tepat.

Fathima takut dengan reaksi Parameswari jika dirinya mengungkap identitasnya. Tapi, suatu hari dia melihat suaminya di acara televisi bersama dengan Parameswari. Saat itulah keinginan Fathima untuk bisa bersua langsung dengan saudarinya tak terbendung.

’’Kini setelah kami tahu, saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya,’’ ujar Fathima dengan bahasa Tamil. Dia dan Parameswari tak bisa berhenti saling memeluk. Tangan mereka hampir selalu bergandengan.

Dari surat adopsi Fathima, diketahui nama keluarga kandung mereka adalah P.H. Lim. Mereka masih punya lima saudara lainnya yang entah di mana keberadaannya. Yaitu, tiga pria dan dua perempuan. Fathima dan Parameswari ingin bertemu dengan orang tua kandungnya serta saudaranya yang lain. Tapi, nama Lim di Singapura luar biasa banyak.

Karena itulah, Fathima dan Parameswari mengunggah kisah mereka di media sosial. Begitu pula anak-anak mereka. Seemren, putri Parameswari, mengunggah fotonya dan anak-anak Fathima di media sosial. ’’Saya benar-benar berharap semua saudari ibu saya bakal ketemu,’’ ujarnya. Siapa tahu, dering telepon lainnya bakal mempersatukan keluarga yang hilang.

(sha/c19/dos)