Serunya Menyusuri Gua dan Benteng Belanda di Pulau Nusakambangan

Serunya Menyusuri Gua dan Benteng Belanda di Pulau Nusakambangan

  Jumat, 27 July 2018 10:00
SISA SEJARAH: Ady Setiawan, penulis buku “Bentengbenteng Surabaya” di depan amunisi peninggalan Belanda yang tersisa di gua yang tak jauh dari Menara Mercusuar di Pulau Nusakambangan. GUNAWAN SUTANT O / JAWA POS

Berita Terkait

Masuk Lubang Kecil, Jongkok, Bergelantungan Akar

Di balik keseraman Pulau Nusakambangan sebagai penjara pengasingan bagi narapidana kelas berat dan yang menunggu eksekusi mati, tersimpan cerita sejarah kolonial. 

GUNAWAN SUTANTO, Nusakambangan

’’Bapake bisa numpak motor trail apa ora?’’ tanya Fauzan kepada saya dan rombongan dengan logat Banyumas. Fauzan merupakan pegawai honorer Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. Tugasnya sehari-hari menjaga mercusuar di ujung Pulau Nusakambangan.

Siang yang terik itu (25/6), Fauzan memandu kami. Koran ini diajak peneliti sejarah dari Surabaya Ady Setiawan dan personel Intel Pangkalan TNI-AL (Lanal) Cilacap menyusuri gua dan benteng Belanda di Nusakambangan.

Awalnya, tawaran Fauzan itu saya pikir menyenangkan. Sebab, dari kejauhan saya melihat Kawasaki KLX 150 terparkir tak jauh dari warung yang dikelola keluarga Fauzan. Dalam benak saya, membawa motor trail itu mungkin bisa bergaya. Foto-fotoan cekrak-cekrik. Bak Presiden Jokowi blusukan di pedalaman Papua.

Tapi, motor trail hijau itu ternyata ditunggangi Fauzan sendiri. ’’Bapake bawa ini saja. Bisa, kan?’’ ujar pria yang kumisnya dimodel seperti krim penumbuh cambang itu. Saya disuruh mengendarai Yamaha Vega R. Motor bebek itu dimodifikasi menjadi seperti trail.

Apa boleh buat, saya tidak bisa menolak.  Rombongan pun berangkat menuju Cimiring. Di sana terdapat gua yang masih menyimpan amunisi peninggalan Belanda. Jarak bibir pantai ke gua itu sekitar 5–6 km. ’’Tapi, kalau ditarik garis lurus, mungkin cuma 3,5 km,’’ kata Fauzan.

Rombongan kami enam orang, termasuk Fauzan. Namun, lantaran motornya hanya dua, terpaksa diangkut bergantian. ’’Kita bergantian. Ada yang jalan dulu, ada yang naik motor boncengan. Nanti saya dan bapake ulang-alik jemput yang jalan,’’ ujar Fauzan membrifing kami.

Fauzan melesat dengan motor trailnya memboncengkan satu anggota rombongan. Sedangkan saya bersama seorang anggota Intel Lanal Cilacap dengan motor bebek terengah-engah melawan medan yang sulit. Kami harus melintasi jalanan cadas berbatu. Tak jarang di beberapa titik jalannya ambles. Beberapa kali anggota Lanal yang saya boncengkan memilih untuk turun.

Perjalanan dari titik berangkat kami di dermaga navigasi ke Gua Cimiring sekitar 6–7 km yang bisa ditempuh dalam 30–45 menit dengan naik motor. Sesampai di Cimiring, tim lebih dulu mencatat titik koordinat dari perangkat GPS (global positioning system) yang kami bawa. Setelah itu, kami menuruni tebing yang tak jauh dari pintu masuk mercusuar Cimiring. Dibutuhkan pedang atau parang untuk membabat tumbuhan yang menghalangi perjalanan kami. 

Setelah turun 5–6 meter, kami sampai di sebuah lubang kecil di tebing. Bentuknya kotak. Tingginya tak lebih dari setengah meter. Lebarnya kurang lebih 120 cm. Lubang tersebut ternyata pintu masuk Gua Cimiring. Untuk masuk ke gua itu, kami harus berjongkok, lalu meluncur ke bawah bergelantungan akar pohon tua. Sampah dedaunan kering membalut baju kami begitu sampai di dalam gua.

Kondisi gua buatan itu kini tak terlalu luas dan tinggi. Mungkin karena bagian bawahnya sudah tertimbun tanah serta bebatuan. ’’Mungkin juga karena kena gempa. Kan gempa di Pangandaran sering terasa sampai sini,’’ kata Fauzan.

Ady Setiawan dan Komandan Unit Intel Lanal Cilacap Kapten Laut (S) Munadi langsung melakukan pengamatan. Mereka mencatat kondisi dan temuan di dalam gua tersebut. Menurut Ady, keberadaan gua tersebut tak bisa dipisahkan dari benteng-benteng yang dibangun Belanda di Nusakambangan. Ady menduga gua itu menjadi pusat penyimpanan amunisi.

’’Biasanya tempat penyimpanan amunisi agak jauh dari benteng. Biar kalau (benteng) dibom, lawan tidak hancur,’’ jelasnya.

Berdasar pengamatan Ady, susunan benteng dan gua amunisi itu persis seperti gua di Kedung Cowek, Surabaya. ’’Benteng di Kedung Cowek itu tempat penyimpanan amunisinya jauh, di Tambak Wedi,’’ kata penulis buku Benteng-Benteng Surabaya tersebut.

Ady memiliki arsip blueprint pembangunan benteng-benteng Hindia Belanda di Indonesia pada zaman kolonial. Di dalam gua itu kami ’’menemukan’’ 4 buah amunisi yang masih aktif. Panjangnya 70 cm dengan diameter 11,5 cm. Kondisi peluru itu sudah berkarat. Seingat Fauzan, dulu jumlahnya banyak. Ady memperkirakan peluru tersebut digunakan penjajah Belanda mulai 1830 sampai berakhirnya Perang Dunia II.

Setelah mencatat seluruh temuan, tim meninggalkan Gua Cimiring. Dibutuhkan perjuangan ekstra untuk keluar dari gua yang bagian dinding atasnya sudah rapuh itu. Kami harus memanjat timbunan bebatuan dan tanah yang menutup akses keluar gua. Salah menapak, timbunan batu serta tanah bisa ambrol.

Setelah berhasil keluar gua, perjuangan belum selesai. Kami harus memanjat tebing lagi untuk menuju jalan di depan kompleks mercusuar. Kemiringan tebing menuju jalan utama lebih curam dibandingkan ketika turun menuju pintu gua. Kami memperkirakan kemiringannya sekitar 60 derajat.

Untuk sampai ke atas, kami harus menapaki batang-batang pohon yang tumbuh di sekitar tebing. Sebab, bergantung pada batu saja tidak cukup aman.

Sesampai di atas, perjalanan kami lanjutkan masuk ke kompleks mercusuar. Awalnya, kami datang ke mercusuar untuk beristirahat sejenak. Tapi, Ady kemudian melihat keanehan. Dari kejauhan, dia melihat adanya lubang yang diduga sebagai pintu gua. Benar, memang pintu masuk gua. 

Di bagian luar gua masih tersisa besi dan fondasi bangunan. ’’Sepertinya gua itu sebagai pos intai kapal. Sekaligus penghitung koordinat dan sudut kapal yang datang,’’ terang Ady.

Sudut dan koordinat kapal yang dihitung dari pos intai akan dilaporkan ke dalam gua. ’’Jadi, gua ini lebih sebagai ruang komunikasi,’’ ungkapnya.

Menurut Fauzan, di Nusakambangan memang terdapat banyak gua. Ada yang alami dan ada yang buatan pemerintah kolonial Belanda. Sayang, banyak kondisinya yang terabaikan sehingga akhirnya hilang tertutup tanaman atau tertimbun bebatuan.

Saya sebenarnya sudah dua kali menelusuri Pulau Nusakambangan. Yang pertama Mei 2016. Saat itu saya meliput persiapan eksekusi mati empat napi kasus narkoba. Salah satunya bandar narkoba Freddy Budiman. 

Di sela liputan tersebut, saya coba menyusuri Nusakambangan lewat jalur yang tidak resmi. Saya berangkat dari Dermaga Navigasi Sleko, Tambakreja. Lalu masuk ke Kampung Laut. Di sana saya menyewa kendaraan warga dan menyusuri perbukitan di sisi barat. Saya berhasil mendekat ke beberapa kompleks lembaga pemasyarakatan (lapas). Perjalanan saya akhiri di Pantai Permisan.

Saat itu warga yang mengantar saya juga mengatakan adanya beberapa gua di Nusakambangan. Salah satunya Gua Maria dan Gua Masigitsela. Dua gua itu cukup dikenal karena sering menjadi jujukan wisata religi.

Pada penelusuran kedua Juni lalu, saya ingin mengekspos eksotisme dan sejarah Nusakambangan dari sisi timur. Saya tertarik mengikuti ajakan Ady melakukan penelusuran ini karena menurut buku yang ditulisnya, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Willem Daendels sempat galau dengan Nusakambangan. Daendels galau karena apa? Ikuti lanjutan catatan penelusuran saya besok. (*/c5/ari)

 

Berita Terkait