Sepekan, Dinsos Amankan Dua ODGJ Terlantar

Sepekan, Dinsos Amankan Dua ODGJ Terlantar

  Sabtu, 16 March 2019 10:27
MULAI MARAK : Petugas saat menangani pasien gangguan jiwa yang terlantar di Kabupaten Mempawah. WAHYU JARTHAKUSUMA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

MEMPAWAH - Keberadaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terlantar di wilayah Kabupaten Mempawah kembali marak. Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (Dinsos PPPAPM-Pemdes) mengaku telah mengamankan dua ODGJ dalam sepekan.

“Dalam sepekan ini sudah ada dua pasien ODGJ terlantas yang kami amankan dari lingkungan masyarakat. Yakni di Anjongan Melancar, Kecamatan Anjongan dan di Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir,” ungkap Kepala Bidang Sosial, Drs. Heru Agung Y.A kepada Pontianak Post, Jumat (15/3) siang di Mempawah.

Heru mengungkapkan, pasien ODGJ terlantar yang diamankannya pada Senin (11/3) lalu dilingkungan masyarakat Anjongan Melancar. Pasien seorang perempuan bernama Ernawati Ego warga Desa Sungai Laki, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak.

“Ernawati ini terlihat mondar-mandir dilingkungan masyaarakat dan menganggu ketertiban umum. Sebab, mencuri pakaian milik warga di Anjongan Melancar. Makanya, kami bekerjasama dengan Polsek Anjongan mengamankan yang bersangkutan,” tutur Heru.

Kemudian, lanjut Heru, beberapa hari berselang pihaknya kembali mengamankan seorang ODGJ bernama Wely yang beralamat di Jalan GM Taufik, Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir. Pasien ini diantarkan oleh Kasi Resos beserta perangkat Rt setempat.

“Kedua pasien ODGJ ini langsung kami tangani sesuai prosedur dan mekanisme yang berlaku. Kita data dulu pihak keluarga dan alamat pasien. Setelah itu, pasien langsung kita antarkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Buduk di Kota Singkawang,” papar Heru.

Heru mengatakan, permasalahan yang mendasar dalam penanganan ODGJ terlantar yakni berkenaan dengan kepemilikan kartu layanan kesehatan seperti BPJS. Tanpa adanya BPJS, maka penanganan terhadap pasien ODGJ terlantar menjadi terhambat. “Kalau saja pasien ODGJ terlantar ini sudah tercatat sebagai pengguna layanan BPJS, maka pelayanan dan perawatannya akan lebih mudah. Kita bisa menggunakan program BPJS untuk memaksimalkan pelayanan sosial kepada pasien,” pendapatnya.

Selain itu, lanjut Heru, persoalan lain yang dihadapinya dalam penanganan pasien ODGJ terlantar berkenaan dengan lembaga rehabilitasi khusus pasien gangguan kejiwaan. Sampai saat ini, Kabupaten Mempawah tidak memiliki lembaga rehabilitasi tersebut.

“Akibatnya, setelah pasien ODGJ ini dinyatakan sembuh secara medis maka kita bingung mau menempatkan mereka dimana. Sebab, mereka sudah tidak diakui oleh pihak keluarga sehingga tidak bisa dipulangkan kerumah. Hingga akhirnya, banyak pasien ODGJ terlantar yang sudah dinyakan sembuh terpaksa kembali lagi ke RSJ,” sesalnya.

“Berkaitan dengan permasalahan lembaga rehabilitasi ini, dialami oleh seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. Maka, selayaknya dibangun sebuah lembaga rehabilitasi untuk penanganan ODGJ terlantar di Kalbar,” sarannya mengakhiri. (wah)

Berita Terkait