Sempat Cemas Beda Kurikulum, Tertinggi di Ujian Nasional

Sempat Cemas Beda Kurikulum, Tertinggi di Ujian Nasional

  Jumat, 9 June 2017 09:30
TERTINGGI: Aci Berfoto bersama kepsek, guru, orangtua, dan kakek nenek usai mengetahui hasil ujian nasionalnya. ISTIMEWA

Berita Terkait

Journey Firdausy Arasyi Peraih Nilai Tertinggi Unas SMP 

Rona bahagia masih terpancar di wajah Journey Firdausy Arasyi meski pengumuman kelulusan ujian nasional tingkat SMP/sederajat telah berlangsung beberapa hari lalu. Tak hanya lulus ujian, siswa SMP Negeri 10 ini juga pemilik nilai tertinggi ujian nasional di Pontianak. 

MARSITA RIANDINI, Pontianak

TAK terbayang di benak Arasyi atau akrab disapa Aci bisa memiliki nilai ujian nasional tertinggi di Pontianak. Beberapa bulan sebelum ujian, ia dilanda cemas tidak bisa menyesuaikan dengan kurikulum di sekolah barunya. 

Sebelum pindah ke SMPN 10 Pontianak pada Agustus 2016, Aci tercatat sebagai siswa SMP Negeri 258 Jakarta. Sebagai siswa baru, tidak mudah bagi Aci beradaptasi dengan lingkungannya. “Harus beradaptasi lagi. Karena di sini menggunakan kurikulum 2013, sementara beberapa bulan di Jakarta kurikulumnya 2006,” ujar dia yang ditemui di rumahnya. 

Saat pembagian rapor pertama, Aci syok melihat hasilnya. Terbiasa mengantongi peringkat pertama bahkan beberapa kali juara dalam lomba O2SN, Aci harus puas dengan urutan 18 di sekolah baru. “Kurikulumnya beda. Apalagi semua yang dipelajari selama beberapa bulan di Jakarta itu tidak dipakai sama sekali,” papar dia yang bercita-cita ingin menjadi pebisnis ini. 

Aci membutuhkan waktu satu hingga dua bulan untuk melakukan penyesuaian dan memperbaiki nilainya yang menurun. Tak hanya belajar di rumah, ia juga sering berkonsultasi dengan guru-gurunya. “Lama-lama nilainya semakin baik. Nilai harian yang dulunya di bawah 80 lama-lama bisa mencapai target SKM 85,” terangnya. 

Jelang ujian, porsi belajarnya semakin ditingkatkan. Dari ikut les, memanggil guru privat, hingga berlatih soal-soal ujian baik yang diberikan dari sekolah maupun dari internet. “Kalau nggak ujian aku belajarnya biasa saja. Belajar yang aku nggak bisa saja. Kalau mau ujian, pagi-pagi aku berlatih soal-soal,” paparnya. 

Usahanya pun membuahkan hasil yang membanggakan kedua orangtuanya, bahkan membawa harum nama sekolahnya. Padahal saat ujian ia sempat berpikir yang tidak menentu. 

“Soalnya awal lagi UN pernah mikir kemana-mana, kalau nilai jelek gimana, tidak bisa masuk sekolah favorit gimana. Jadi mikirnya yang penting nilainya tidak jelek dan bisa masuk sekolah favorit,” ulasnya. 

Anak dari pasangan Gusti Elvira dan Dadang Kadarusman ini sempat memiliki target bisa meraih nilai sepuluh, meski hanya satu dari empat mata pelajaran yang di ujikan. Sayangnya harapan dia meleset sedikit saja. “Walaupun tidak bisa mencapai targetnya, tetapi saya bersyukur dan bangga nilainya sangat bagus bahkan tertinggi,” ujar ibunya, Gusti Elvira. 

Aci memperoleh nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia 94,0; Bahasa Inggris 88,0; Matematika 97,5; dan IPA 95,0. Dari hasil ujiannya ini, Aci mampu menyelesaikan soal matematika mendekati sempurna atau hanya salah satu soal saja.  Total nilainya 374,50.

Tak banyak yang dilakukan orangtua untuk mendukung anaknya saat ujian. Apalagi Aci termasuk anak yang mengerti dan memahami pentingnya belajar. “Kami hanya memfasilitasi saja. Anaknya sendiri yang sadar perlu belajar. Jadi kami mencarikan guru les, tempat les, dan menemani belajar walaupun cukup hadir di dekat dia saja,” ungkapnya. 

Elvira juga memahami karakter belajar anaknya. Itu sebabnya dia tidak pernah memaksa anaknya untuk belajar. “Anak saya itu beda. Kalau kakaknya masih disiplin kalau belajar. Kalau Aci ini masih moodian. Kalau dipaksa belajar malah nggak mau. Kalau lagi belajar dia bisa ketiduran. Nanti tengah malam bangun untuk belajar lagi. Bahkan udah didaftarin les, udah dibayar, tapi dia merasa tidak efektif, jarang dia pergi les,” ujarnya.  

Dalam kesehariannya, Aci tipe anak yang tidak bisa diam. Ada beberapa percobaan yang biasa ia lakukan dirumahnya, seperti membuat pewarna, dan pelembab bibir. Ia juga senang memelihara binatang, seperti ulat kaki seribu dan semut. “Kalau tercapai targetnya bisa dapat nilai 10, dia minta dibeliin kucing,” pungkas ibunya.(*)
 

Berita Terkait