Sekolah dan Pendidikan Karakter

Sekolah dan Pendidikan Karakter

  Selasa, 22 March 2016 08:54   3,282

“Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building) karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya, serta bermartabat. Kalau character building ini tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli” (Bung Karno, Presiden RI Pertama)

SEBAGAIMANA tersirat dalam UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan Nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia pasal 3 UU Sikdiknas menyebutkan “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membantu watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi, peserta didik agar menjadi manusia yang beriman yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dalam  kamus psikologi, pendidikan karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. (Dali Gulo, 1982).

Sedangkan menurut  Kertajaya (2000) menyatakan pendidikan karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.

Dalam hal bahwa sebenarnya pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan atau kelompok yang unik baik sebagai warga negara.

Pendidikan karakter di Indonesia dirasakan mendesak untuk dilaksanakan dengan penuh kesungguhan bukan hanya slogan belaka. Hal ini harus benar-benar terjadi dalam dunia pendidikan saat ini dan masa yang akan datang. Berkaitan dengan itu bahwasannya pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk generasi bangsa yang tangguh, kompetitif, berahlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang kesemuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan pancasila.

Dalam hal ini ada 18 nilai karakter yang harus diberdayakan yaitu :

1. Religius, 2. Jujur, 3.toleransi, 4.disiplin, 5.kerja keras, 6.kreatif, 7. Mandiri, 8.demokratis, 9.rasa ingin tahu, 10. Semangat kebangsaan, 11.cinta tanah air, 12.menghargai prestasi, 13.bersahabat, 14.cinta damai, 15.gemar membaca, 16.peduli lingkungan, 17. Peduli egati, dan 18. Tanggungjawab.

Para ahli  pendidikan sepakat bahwasannya pendidikan karakter harus dimulai sejak dini yaitu masa yang disebut dengan usia golden age. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi sejak usia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Oleh karena itu sudah sepatutnyalah bahwa pendidikan karakter dimulai dalam lingkungan keluarga yang merupakan lingkungan awal bagi pertumbuhan anak. Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak. Sejatinya pendidikan seorang anak dimulai sejak dari buaian sang ibu. Maka keshalihan Ayah dan Ibunya akan berpengaruh yang kuat dalam membentuk sisi psikis dan kecenderungan seorang anak.

Penting untuk dicatat bahwa untuk mendidik karakter anak dibutuhkan orangtua dan guru yang berkarakter, artinya mendidik karakter harus dengan karakter. Singkatnya  kita harus menjadi role model bagi anak atau peserta didik.

Berbicara penanaman karakter di sekolah maka seyogyanya sekolah menyiapkan juga sumber daya guru yang memang memiliki karakter yang mulia. Bagaimana anak mau belajar karakter yang baik jikalau gurunya berkarakter tidak baik. Ada peribahasa menyatakan “Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari”. Dalam hal ini peran penting guru sebagai role model , bahwa artinya  guru itu sebagai teladan model hidup yang selalu ditiru dan digugu oleh peserta didik, jangan sampai karakter guru yang kurang baik tertanam pada peserta didiknya. Alih-alih mau menanamkan karakter baik malah merusak karakter. Guru harus mempunyai ahlak yang baik, istiqomah, amanah, adil serta berkemampuan ilmu dan tingkat spiritual yang baik juga. Guru juga harus tampil berwibawa tetapi tidak kasar, ramah, lembut serta mudah akrab dengan anak-anak. Guru harus mampu menanamkan karakter-karakter  yang baik dalam mendidik mereka. Scwartz (2008) dalam suatu pertanyaan retorik menyampaikan: Mengapa pendidikan karakter diperlukan? Scwartz menjawab bahwasannya pendidikan karakter mampu membantu siswa mencapai sukses baik di sekolah maupun dalam kehidupan, pendidikan karakter mampu merespon berbagai tantangan kehidupan, meningkatkan perilaku proposional dan menurunkan sikap dan perilaku negatif siswa, dan terakhir pendidikan karakter menjadikan pengajaran berlangsung lebih mudah dan belajar berjalan efesien.

Sementara itu jika kita melacak gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan, beliau berpendapat bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Komponen-komponen budi pekerti, pikiran dan tubuh anak itu tidak boleh dipisah-pisahkan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak. Hal ini dapat dimaknai bahwa menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Bahkan wewarah, ajaran atau fatwa Ki Hajar Dewantara yang menjadi pegangan perguruan Taman Siswa sarat akan pendidikan karakter. Di  antara fatwa beliau yang  yang terlihat sekali menonjolkan positioning karakter dalam pendidikan nasional antara lain, Lawan Sastra Ngesti Mulya artinya dengan ilmu kita mencapai keberhasilan hidup, Suci Tata Ngesti Tunggal maknanya memerlukan kesucian batin, kejernihan pikiran, cita-cita luhur dan ketertiban lahir atau kedisiplinan nasional. Tetep Mantep Antep Maknanya dalam melaksanakan tugas kependidikan dan pembangunan bangsa harus berketetapan hati, tekun bekerja tanpa menoleh kanan kiri, tetap tertib berjalan  maju. Jika sudah tetep dan mantep maka niscaya segala perbuatan dan tindak laku kita akan antep dan berharga.Ngandel,Kendel, Bandel, Kandel. Maknanya kita harus percaya dan yakin sepenuhnya (ngandel) pada kekuasaan dan takdir Tuhan dan pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri. Sedangkan kendel artinya berani menghadapi segala rintangan, Bandel artinya kokoh, teguh hati, tahan banting, Kandel artinya tebal, kuat lahir dan batin. Neng-Ning-Nung-Nung maknanya kita harus tentram lahir dan batin.

Bahwa sebenarnya pendidikan karakter telah lama memiliki posisi yang penting dalam pendidikan nasional, tinggal kini tugas kita untuk melakukan redefinisi, memberikan bentuk yang jelas dan tegas serta menyepakati akan kemana arah pendidikan karakter yang akan kita bangun dan bangkitkan kembali saat ini.

Jadi sesungguhnya dalam hal menanamkan karakter kepada anak atau peserta didik kita baik itu sebagai orangtua ataupun guru wajib hukumnya kita sebagai orang dewasa memiliki karakter yang baik tersebut. Artinya disini adanya keteladan bagi orangtua ataupun guru dalam mendidik anak atau peserta didiknya sehingga mereka melihat dan merasakan perilaku dan ucapan orangtua atau guru sejalan dengan apa yang diajarkan. Semoga generasi bangsa ini menjadi generasi cemerlang, generasi yang memiliki karakter yang baik sehingga Indonesia ke depan menjadi bangsa yang besar, bangsa yang berkarakter dan menguasai IPTEK dan IMTAK yang baik. Semoga

* Penulis adalah guru pada sekolah MIN Teladan Sanggau

Anwar Musadad

Mengabdi pada negeri lewat tulisan, tulisan adalah sejarah