Sehari Ketuk 1.000 Pintu

Sehari Ketuk 1.000 Pintu

  Sabtu, 18 March 2017 09:30
KETUK PINTU: Wakil Wali Kota bersama Kadis Kesehatan, Koramil 1207/03, puskesmas, dan tim SSR TB ‘Aisyiyah Pontianak mengetuk pintu warga untuk sosialisasi TB. MADE FRANS/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Peringatan Hari TB Sedunia

SUB-SUB Recipient TB (Tuberkulosis) ‘Aisyiyah Kota Pontianak bersama Pemkot Pontianak (dinas kesehatan), TNI, Polri, ormas, organisasi profesi kesehatan, dan akademiisi kesehatan menggelar program ‘Sehari Ketuk 1.000 Pintu’, sebagai peringatan Hari TB Sedunia, 24 Maret. Kegiatan diawali upacara yang dipimpin Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, di Komando Rayon Militer 1207/03, Jl Kom Yos Sudarso, Jumat (17/3). “Ini kami melaksanakan kegiatan yang diinisiasi ‘Aisyiyah bersama organisasi masyarakat dan perguruan tinggi bidang kesehatan,” ujar Edi, kemarin pagi.

Program tersebut ditujukan memberikan sosialisasi dan pengertian kepada masyarakat tentang TB. Kegiatan juga ditujukan mendata masyarakat Pontianak yang terkena TB, dengan cara mengecek dahak mereka. “Harapan kami Pontianak bebas TB. Karena itu, kami apresiasi langkah ini, supaya masyarakat sadar kesehatan diri sendiri,” katanya.

Sidiq Handanu Widoyono, Kadis Kesehatan Pontianak menjelaskan, program tersebut merupakan tahapan simbolis. Targetnya mencakup kepala keluarga di Pontianak yang berjumlah sekitar 100 ribu. Pelaksanaannya dilakukan kader yang dibentuk bersama perguruan tinggi dan organisasi kemasyarakatan. Kegiatan tersebut didukung global fund melalui ‘Aisyiyah.

“TB masih jadi penyakit menular yang belum bisa diatasi. Bukan hanya di Kalimantan Barat (Pontianak), tetapi juga seluruh Indonesia. Insidennya masih tinggi, 600 jiwa per 100 ribu penduduk,” ujarnya.

Pontianak menargetkan dalam satu tahun menemukan 630 penderita baru yang harus diobati. “Memang belum capai itu, baru 70 persen dari target,” katanya, “Temukan dan obati sampai sembuh, ini target kami, agar tidak lagi menularkan pada orang lain.”

Gejala utama TB, batuk lebih dari dua minggu dan mengeluarkan dahak. Ditambah malas, berat badan turun, nafsu makan turun, demam tidak terlalu tinggi. “Anak-anak biasanya keringat di malam hari, meski udara dingin, apalagi tidak mau makan dan berat badan rendah. Harus segera diperiksa,” jelasnya.

Jul dari SSR TB ‘Aisyiyah Pontianak menyampaikan, terdapat 48 kader program tersebut yang tersebar di enam kecamatan se-Pontianak. “Target hot spot ada di Barat dan Utara. Pelatihan kader sudah dilakukan sebelumnya, sekarang kami turun ke lapangan,” pungkasnya. (mde/ser)

Berita Terkait