Segera Bertaubat, tak Sepelekan Dosa dan Menumpuk Maksiat

Segera Bertaubat, tak Sepelekan Dosa dan Menumpuk Maksiat

  Minggu, 29 July 2018 11:01
KHOTBAH: Ratusan jemaah salat khusuf Masjid Raya Mujahidin mendengarkan tausiah dari Ustaz Nasution Usman, Sabtu (28/7) dinihari. MARSITA RIANDINI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Ratusan Umat Islam Salat Gerhana Bulan di Masjid Mujahidin

Ratusan umat Islam, Sabtu (28/7) dinihari melaksanakan salat sunnah khusuf atau salat sunnah gerhana bulan di Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Ustaz Nasution Usman menjadi imam dan khatib pada salat dua rakaat ini. Dalam khotbah yang disampaikan Ustaz Nasution Usman, gerhana bulan dan matahari adalah kejadian luar biasa, bahkan Rasulullah dengan penuh rasa khawatiran ketika menghadapi gerhana. 

MARSITA RIANDINI dan SIGIT, Pontianak

GERHANA bulan, sebut Ustaz Nasution Usman, sebagai bukti kebesaran Allah SWT, di mana bulan, matahari, dan segala ada yang di langit tunduk dan patuh pada perintah Allah. Sudah semestinya, kata dia, peristiwa ini menjadi peringatan bagi umat Islam untuk bertakwa kepada Allah SWT. 

“Ini peringatan dari Allah segera bertaubat dan menegakkan salat sunnah gerhana. Terjadi gerhana bukan fenomena biasa, tetapi ada terselip pesan dari Allah,” jelasnya.  

Lewat fenomena ini, dia berpesan agar setiap umat Islam senantiasa mengingat kematian. Dia mengajak untuk segera bertaubat jika selama ini sering menyepelekan dosa, serta maksiat lainnya yang ditumpuk-tumpuk. Fenomena  alam ini, menurut dia, membuktikan, tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Allah. “Jangankan gerhana, ketika Allah ingin menurunkan azab pun mudah bagi-Nya. Allah senantiasa menerima taubat. Bertaubatlah kepada Allah. Fenomena ini senantiasa mengingatkan manusia betapa besarnya Allah,” katanya. 

Yuliana (27), salah seorang jemaah, menceritakan sejak pukul 02.00 dinihari ia sudah hadir di masjid terbesar di Kalbar ini. Padahal salat berjemaah baru dimulai pukul 03.00 WIB. “Ini kan fenomena alam ya? Jarang terjadi. Apalagi kita disunnahkan apabila melihat gerhana, untuk salat sunnah. Bersyukur bisa melaksanakan shalat berjemaah,” ujarnya.

Usai melaksanakan salat sunah khusuf berjemaah, dilanjutkan dengan salat subuh berjemaah. “Alhamdulillah, sudah beberapa kali saya ikut salat gerhana ini. Mungkin karena subuh, jadi tidak terlalu ramai seperti beberapa waktu lalu,” jelas Warda, jemaah lainnya. 

Nonton Bareng Gerhana Bulan

Peristiwa gerhana bulan yang terjadi pagi dinihari pada Sabtu (28/7) mengundang banyak perhatian bagi berbagai kalangan. Mengingat gerhana bulan ini diplot sebagai gerhana terlama yang terjadi di abad ini.

Data dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan (LAPAN) menyebutkan bahwa gerhana bulan tahun ini akan berlangsung selama kurang lebih 103 menit yang terhitung mulai pukul 01.30 WIB. Salah satu yang ikut menyaksikan moment langka ini adalah dari kalangan mahasiswa yang tergabung dalam klub pecinta Astronomi, yang rata-rata merupakan mahasiswa Prodi Fisika FKIP Untan Pontianak. 

Moment langka ini seakan menjadi daya tarik sendiri bagi mereka yang benar-benar hobi dengan ilmu astronomi. Salah satunya adalah Hafiz, mahasiswa IKIP PGRI yang turut menyaksikan peristiwa ini di halaman kampus FKIP Untan. Pecinta astronomi ini menyayangkan tidak adanya fasilitas di Kota Pontianak terkait hal yang berbau astronomi, seperti Planetarium. Kondisi ini yang sungguh menyulitkan dirinya untuk menyalurkan hobinya tersebut. “Sebenarnya kalau di Pontianak ada Planetarium, pasti banyak peminatnya, khususnya dari kawula-kawula muda yang ingin lebih tahu tentang sistem tatasurya” jelas Hafiz

Para mahasiswa ini sendiri sudah menunggu terjadinya gerhana bulan sejak pukul 22.00 WIB. Mereka ingin memastikan gerhana bulan dengan melihat langsung dari awal penumbra mulai merayapi bulan, hingga terjadinya gerhana total. Kampus FKIP Untan sendiri telah menyediakan teleskop bagi mahasiswanya yang tertarik ingin melihat proses terjadinya gerhana bulan.

Bagi Hafiz, dengan melihat peristiwa seperti ini, mereka bisa lebih mengenal tentang alam semesta. “Sejatinya alam semesta ini sebenarnya bukan cuma tentang pelajaran fisika, tapi ilmu lain seperti biologi, geografi, kimiawi, dan lainnya, masih sangat terikat satu sama lain,” jelas Hafiz.

Hal serupa juga dilontarkan Rizky, mahasiswa Fakultas Teknik Untan yang turut menyaksikan fenomena blood moon ini. Bagi dia, gerhana ini menjadi menarik karena sangat langka terjadi, bahkan menjadi moment sekali untuk seumur hidup. Hanya saja tidak adanya fasilitas dari pemerintah, menjadi penghalang baginya untuk mengekspresikan minatnya terhadap dunia astronomi. “Alhamdulillah dikasih kesempatan melihat langsung terjadinya gerhana bulan dari awal hingga akhir. Cuaca malam ini juga cerah, sehingga kita dapat melihat prosesnya. Memang sempat ada awan yang menutupi, tapi hanya sebentar tidak sampai 5 menit,” tukas Rizky. (*)

Berita Terkait