Sebagian Anak Masih Dirawat

Sebagian Anak Masih Dirawat

  Kamis, 3 March 2016 08:31
DIRAWAT: Empat pelajar yang sudah sehat dan kembali bersekolah dibawa lagi ke Puskesmas untuk dirawat karena masih mengalami mual dan pusing. IDIL AQSA AKBRAY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Sebagian murid Sekolah Dasar Negeri 10 Sungai Nipah Kecamatan Jungkat Kabupaten Mempawah yang keracunan masih dirawat di Puskesmas Jungkat hingga Rabu (2/3). Bahkan beberapa korban yang sudah pulang ada yang kembali lagi karena masih merasakan mual, nyeri di kepala serta membutuhkan oksigen.

Orang tua korban Syarifah Fatimah mengaku harus kembali membawa anaknya ke Puskesmas karena melihat kondisi yang belum membaik. Menurutnya pagi, Rabu (2/3) anaknya yang bernama Taufk sudah pulang dari Puskesmas sekitar pukul 09.30, lalu setengah jam kemudian murid kelas dua SD itu kembali merasakan sakit kepala.

"Saya suruh tidur dulu tapi dia nangis, makanya langsung saya bawa lagi ke sini, sepertinya dia belum bisa lepas dari infus dan oksigen," ungkap Fatimah saat ditemui di Puskesmas Jungkat, Rabu (2/3).

Dia menceritakan saat hari pertama keracunan, Selasa (1/3) kondisi Taufik lebih parah. Terjadi sesak nafas, perut kembung dan sakit kepala. "Sampai pucat kayak biru mukanya, padahal dia makan coklatnya hanya sedikit. Ternyata lama juga sembuhnya,” ujar Fatimah.

Terkait hal tersebut, Kepala Puskesmas Jungkat Sri Lestari mengatakan dari 87 orang yang keracunan, Selasa (1/2), sampai Rabu (2/3) masih ada sembilan orang yang dirawat. Bahkan ada empat murid yang sudah kembali sekolah, namun karena kambuh harus dibawa lagi ke Puskesmas.

Salah satunya pelajar yang bernama Angel. Saat ditemui, murid kelas empat ini masih mengenakan seragam sekolah merah putih. "Takut kehilangan nilai makanya saya langsung masuk sekolah hari ini, kemarin sudah pulang dari Puskesmas hari ini kambuh lagi," akunya.

Sementara itu, menurut Sri, sejauh ini semuanya masih bisa diatasi di tingkat Puskesmas. Di sana korban diberikan obat-obatan, mulai dari infus, oksigen sampai obat pusing, mual, dan lambung. "Masih bisa diatasi tidak perlu dirujuk ke RS," ucapnya.

Mengenai penanganan sumber keracunan yang disebabkan coklat kedaluwarsa, Kapolsek Jungkat Iptu Hardik mengatakan pihaknya masih dalam proses penyidikan. Anak yang membawa coklat dan menjualnya sudah diperiksa. Sementara lokasi tempat pembakaran, anak tersebut mendapatkan coklat sudah diamankan. "Kami sedang memanggil siapa yang memasok barang-barang kedaluwarsa itu dari Pontianak untuk dibawa ke gudang," katanya.

Dia menjelaskan, dari pengakuan pemilik gudang barang berupa snack-snack yang sudah kedaluwarsa itu dikumpulkan untuk makanan ikan. Pemilik kebetulan memiliki banyak kolam ikan emas dan nila di lokasi dekat gudang. "Tapi katanya ada sebagian yang dianggap tidak cocok diberikan ke ikan lalu dibakar, lalu karena hujan tidak semuanya terbakar, yang tidak terbakar itulah yang diambil anak," ceritanya.

Dari anak tersebutlah makanan ringan termasuk coklat, menyebar hingga ke sekolah. Diketahui di dalam gudang berukuran sekitar 12 meter kali 50 meter tersebut dipenuhi oleh bermacam jenis biskuit, snack, coklat dan lain-lain yang sudah kedaluwarsa. Bahan makanan tersebut selain buatan Malaysia ada juga yang buatan Indonesia.

Untuk pemilik gudang sementara hanya dikenakan wajib lapor. Sementara pihak kepolisian masih mengumpulkan informasi, dasar hukum dan dugaan pelanggaran yang dilakukan, baik kepada pemilik gudang atau pemasok barang kedaluwarsa tersebut.

"Misalnya pelanggaran penggunaan barang kedaluwarsa secara tidak profesional atau aturan tentang penangan limbah makanan sehingga menyebabkan orang keracunan. Sementara dasarnya masih UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen salah satunya mengenai barang kedaluwarsa," pungkasnya.(bar)

Berita Terkait