SD Negeri 04 Kiung Atapnya Bocor, Bangku Rapuh, Dinding Banyak Jebol

SD Negeri 04 Kiung Atapnya Bocor, Bangku Rapuh, Dinding Banyak Jebol

  Selasa, 9 Oktober 2018 10:30
SEKOLAH RUSAK : Kondisi SD Negeri 04 Kiung yang rusak parah. Mulai dari atap dek yang rusak, dinding jebol, hingga kursi yang reot. SIGIT/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Balada SD Negeri 04 Kiung di Kecamatan Suti Semarang, Bengkayang

Fasilitas yang memadai dan nyaman merupakan faktor penting dalam sebuah proses pendidikan. Mulai dari ruang kelas, sarana dan prasarana lain hingga lingkungan yang bersih juga menjadi poin tersendiri dalam membentuk motivasi belajar murid. Namun apa rasanya jika ruang belajar jauh dari standar. Atap bocor, bangku reyot, serta dinding jebol? 

Sigit Adriyanto, Bengkayang

SEKOLAH hendaknya bisa menjadi tempat belajar yang nyaman bagi murid untuk menuntut ilmu setinggi langit. Namun faktanya, masih banyak sekolah yang belum memiliki fasilitas standar. Salah satunya adalah Sekolah Dasar Negeri (SDN) 04 Kiung, Kecamatan Suti Semarang, Kabupaten Bengkayang. Lokasinya terpencil di daerah perbukitan.

Sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah yang bangunannya jauh dari kata layak pakai. Di sekolah ini kita bisa melihat bangku yang telah usang dan rapuh, dinding yang sudah jebol karena sudah terlalu tua, serta plafon yang rusak parah. Bahkan, ada ketakutan jikalau sewaktu-waktu plafon tersebut jatuh menimpa murid yang sedang belajar.

Rudi Hartono, selaku Plt Camat Suti Semarang, mengatakan keadaan sekolah seperti ini sudah lama. Sampai sekarang tidak ada perbaikan. Kondisi tersebut diakui sudah tidak layak, bahkan tidak lebih baik dari kandang untuk hewan peliharaan.

“Sekolah-sekolah yang ada di Suti Semarang ini sudah berdiri sejak lebih dari 17 tahun lamanya. Dari awal berdiri hingga sekarang, gedung sekolah yang ada sangat jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah direnovasi,” ungkapnya saat ditemui Pontianak post, Sabtu (6/10).

Hal tersebut menurutnya bukan karena pihaknya tidak mau merenovasi melainkan akibat kondisi desa yang relatif terisolasi. Jalan untuk menuju ke desa ini memang tidak bisa dilewati oleh mobil bermuatan pengangkut bahan bangunan. Akhirnya, kerusakan bangunan sekolah terpaksa diabaikan tanpa ada perbaikan.

“Intinya semua ini karena akses jalan yang memang tidak bisa dilalui mobil untuk mengangkut bahan bangunan ke lokasi. Jadi gedung sekolah tidak bisa diperbaiki, dan harus bertahan dengan kondisi seadanya,” ucap dia.

Derita akibat kerusakan jalan yang sedemikian parah juga dirasakan para murid. Rudi mengisahkan, sehari-hari ketika melewati jalan Suti Semarang, akan tampak para murid berjalan kaki dengan seragam sekolah yang lusuh dan kotor akibat lumpur. 

 “Kalau pas hari sekolah, Anda bisa lihat momen di mana ada anak sekolah dengan seragam yang lusuh dan kotor sedang berjalan tanpa sepatu dan tas. Kondisinya memprihatinkan. Itu karena jalan yang harus mereka tempuh sangat ekstrem, yaitu melewati kubangan lumpur dan sungai,” jelas Rudi.

Ia mengungkapkan jalan yang rusak dan tidak adanya jembatan penghubung harus dilalui para murid di Suti Semarang untuk menuju sekolah. Sebagian besar dari mereka harus menempuh jarak kurang lebih lima kilometer dari rumah untuk sampai ke sekolah.

Karena itulah, ia sangat berharap perbaikan jalan dan jembatan dapat segera terealisasi. Jika jalan dan jembatan sudah baik, ia yakin perbaikan infrastruktur dasar lain di wilayah ini akan terpacu.  

“Paling tidak ketika jalan sudah baik, kita akan berbenah. Yang paling utama adalah pembangunan sekolah sebagai sarana pendidikan, agar anak-anak di sini bisa belajar dengan nyaman dan aman,” tutupnya. (*)

Berita Terkait