Sayangi, Bukan Sayati Dirimu

Sayangi, Bukan Sayati Dirimu

  Rabu, 19 December 2018 10:32

Berita Terkait

BEBERAPA tahun belakangan, nggak jarang kita menemukan unggahan seseorang yang didominasi oleh remaja melukai dirinya sendiri. Generally, mereka menggunakan benda tajam untuk melukai tubuhnya hingga mengeluarkan darah. Aktivitas melukai diri sendiri ini disebut self injury.

Pelaku self injury terkadang mengunggah foto bekas sayatan bagian tubuhnya yang masih berdarah di media sosial. Orang awam mungkin melihat self injury sebagai bentuk pelaku untuk menarik perhatian orang lain, namun self injury nggak sesederhana itu, guys.

Self injury termasuk salah satu penangan masalah yang maladaptif. Self injury lebih mudah dipahami seperti penyimpangan perilaku yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan psikologis, seperti depresi, frustasi, stres, dan masalah psikologis lainnya.

“Self injury ini termasuk mental illness karena hal ini bagian dari penyimpangan perilaku atau bisa disebut dengan perilaku yang abnormal. Biasanya permasalahan psikologisnya disebabkan putus cinta, merasa direndahkan, bullying, dan sebagainya,” ujar Patricia Elfira Vinny, M.Psi.

Pelaku self injury mencari kenyamanan atas perasaan nggak enak yang mucul saat diperlakukan nggak sesuai harapan. Melalui self injury, pelaku merasa masalahnya selesai dan terpuaskan. Padahal, masalah tersebut justru makin besar karena penanganan masalah yang maladaptif. 

“Self injury ini kalo nggak tertangani dengan baik bakal berujung pada tindakan yang lebih fatal pada diri sendiri seperti bunuh diri,” jelas psikolog yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Pontianak ini.

 Patricia mengungkapkan jika ciri-ciri pelaku self injury bisa dilihat secara langsung. Ciri utamanya dapat dilihat dari lengannya yang terdapat banyak bekas sayatan, tatapan mata kosong, sayu dan terlihat kurang tidur.

Menurut Patricia, beberapa pelaku self injury udah datang ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan secara psikis. Rata-rata pelaku self injury masih berada di usia remaja. Syukurnya, mereka memiliki inisiatif sendiri untuk meminta pertolongan dari ahli.

“Yang terkena dampak parah dari self ijury adalah psikisnya. Masalah psikis sendiri perlu pemeriksaan intensif dari para ahli. Setiap tahun paling nggak ada sepuluh pelaku self injury yang datang ke rumah sakit,” tambahnya.

Penanganan bagi pelaku self injury menggunakan terapi yang bertujuan mengubah perilaku dan emosi yang lebih adaptif. Relaksasi dan meditasi menjadi salah satu terapi psikologi yang paling mudah didapatkan dan dipraktikkan sendiri.

“Self injury bisa menjadi suatu kebiasaan kalo nggak tertangani dengan baik. Kalo misalnya pelaku self injury beralasan menyayat dirinya sendiri untuk mencari rasa sakit yang membuktikan dirinya masih hidup tuh perlu digali lebih lanjut. Kemungkinan ada mental illness lain yang perlu ditangani oleh ahli,” pungkasnya. (ind)

Berita Terkait