Saya Ingin Yang Meninggal Beristirahat dengan Wajah Cantik

Saya Ingin Yang Meninggal Beristirahat dengan Wajah Cantik

  Selasa, 5 March 2019 08:46

Berita Terkait

Komitmen Gloria Elsa di ”Jalan Sunyi”: Merias Jenazah tanpa Memungut Bayaran 

Ada yang memuji ”wah cantiknya” tiap kali dia selesai merias jenazah sudah merupakan kegembiraan tak terhingga bagi Gloria Elsa. Tapi, kadang dia kesal juga saat menghadapi permintaan berlebihan, misalnya, rambut yang meninggal diminta disasak. 

DIMAS NUR APRIYANTO, Jakarta 

NAMANYA juga berkaitan dengan orang meninggal, sudah pasti suasananya sedih. Tapi, tiap kali mengingat apa yang pernah dia alami pada Juni tahun lalu itu, Gloria Elsa selalu sulit menahan tawa 

”Saya tengah merias wajah jenazah tante dari teman saya. Eh, begitu tahu saya pakai alat make-up bermerek, anak dari yang meninggal ini sambil sesenggukan bertanya, tante ini nanti saya harus berapa,” kenang Gloria, lantas tertawa lebar.

Perempuan 36 tahun itu pun segera menenangkan anak yang tengah berduka sekaligus khawatir akan biaya periasan jenazah sang ibu itu. ”Nggak usah dibayar. Alat-alat make-up ini hasil sumbangan orang kok,” kata Gloria, mengulang yang dia katakan saat itu. 

Sudah sejak 2016 Gloria beramal di ”jalan sunyi” itu. Menjadi perias jenazah tanpa memungut bayaran. Setidaknya 30 jenazah pernah dia tangani. 

Semua bermula ketika sang ibu memintanya merias jenazah sang tante. Sehari-hari Gloria memang mencari nafkah di dunia rias-merias. Atau dalam penyebutan Gloria sendiri: make-up artist (MUA).

Karena tidak ada persiapan, alat-alat make-up yang biasa dipakai untuk merias wajah pengantin juga disimpan di rumah, ia meminjam lipstik dan bedak dari anggota keluarga lain. ”Kali pertama merias jenazah tante itu jantung saya berdegup kencang,” kenangnya. 

Tapi, rasa deg-degan itu berubah menjadi kelegaan luar biasa setelah sang tante terlihat cantik sebelum disemayamkan di peti jenazah untuk kemudian dimakamkan. Dan, dari pengalaman itu, dia akhirnya membulatkan tekad untuk memberikan layanan rias jenazah tanpa memungut bayaran. 

”Aku dan suami berkomitmen, untuk urusan sosial mendingan jangan menerima uang,” ujar Gloria.

Sehari-hari Gloria bukanlah MUA bertarif mahal. Dia mengaku hanya membanderol pengguna jasanya sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu. 

Gloria menuturkan, dirinya tak bisa mematok harga tinggi. Sebab, khawatir kalah bersaing dengan MUA profesional lain yang memiliki jam terbang tinggi. Konsumen langganannya biasanya sepasang kekasih yang menahbiskan cinta di pelaminan.

Kesibukan mengais nafkah sebagai MUA itu pula yang membuat Gloria hanya bisa melayani rias jenazah di Jakarta. Apalagi, tiap kali merias jenazah, Gloria butuh waktu setidaknya 1,5 jam. 

Bahkan, jika jenazah meninggal akibat kecelakaan, bisa lebih panjang lagi waktu yang dibutuhkan. Itu seperti yang dia alami saat menangani korban meninggal kecelakaan dengan pendarahan di kepala dua tahun silam.

”Saya baru bisa meriasnya setelah luka bekas kecelakaan dijahit. Butuh lebih dari 1,5 jam untuk menyelesaikan riasan,” kenangnya. 

Meski tak memungut bayaran, kesungguhan Gloria dan merias jenazah dipuji Joyce Eleanor Noya. Itu berdasar pengalamannya saat Gloria menangani adiknya yang meninggal pada Agustus tahun lalu. 

Kebetulan rumah sang adik bersebelahan dengan Gloria. Gloria juga satu gereja dengannya di GPIB Blok M, Jakarta Selatan. Nama Gloria direkomendasikan pula oleh GPIB untuk merias adiknya. 

Tak banyak bicara, dia memasrahkan urusan merias adiknya ke Gloria. Tak sepeser rupiah dia keluarkan. ”Dan, hasilnya, cakep banget,” katanya. 

Di awal merias jenazah, Gloria mendapatkan alat make-up dari pemberian sejumlah saudara. Tidak jarang, dia juga menggunakan alat riasnya yang tak terpakai lagi. Tapi, seiring banyaknya permintaan merias jenazah, itu tak lagi cukup. 

Akhirnya pada 2017 dia membuat sebuah status di akun pribadinya di Facebook. Sebuah status yang menyebutkan bahwa dia menerima donasi make-up kedaluwarsa. 

Tidak banyak yang menanggapi. Hasil donasinya juga tak membeludak. Biasa-biasa saja. 

Setahun berlalu. Di 2018 Gloria merasa perlu makin masif untuk menyebarkan informasi donasi alat rias. Dia lalu mengunggah sebuah posting-an di feed Instagram-nya. Kemudian, ibu satu anak itu menandai beberapa selebgram hingga beauty influencer.  

Lagi-lagi gayung tak bersambut. Bala bantuan tak banyak yang datang juga. Akhirnya, unggahan itu diarsipkan di akunnya. Perasaannya sempat teriris dan miris, mengapa tidak banyak orang yang ingin ikut terlibat. Padahal, cukup mendonasikan alat rias yang tak terpakai atau kedaluwarsa. Bukan alat make-up baru.

Untuk masa kedaluwarsa di atas dua tahun, perempuan kelahiran Jakarta itu perlu mengoplosnya dengan baby oil. Supaya tekstur alat riasnya tak kering. Sebab, ketika masa kedaluwarsa lebih dari dua tahun, tekstur alat rias cenderung kering. Lain halnya jika durasi alat rias yang diterimanya di bawah dua tahun. 

Tahun berganti. Tak disangka, status Facebook yang dibuat pada 2017 itu viral di awal tahun ini. Di suatu pagi, perempuan 35 tahun itu kaget ketika melihat beberapa pemberitahuan muncul di aplikasi pesan instannya, WhatsApp.

Lebih dari 100 pesan instan menyerbu ponselnya. Isi pesannya terkait donasi make-up yang kedaluwarsa. ”Baru bangun tidur ngelihat handphone. Buset, pesan gue banyak amat dah,” ucapnya, lalu tertawa kecil.

Alat-alat rias pun berdatangan ke rumahnya. Mulai yang belum pernah dipakai hingga yang kedaluwarsa. Mereknya pun sempat membuatnya terperangah. Merek dari yang biasa dimiliki kaum borjuis hingga proletar ada. Lengkap.

Pengirim alat make-up berasal dari Jakarta dan luar Jakarta. Pengirimannya juga beragam. Dikirim menggunakan jasa ojek daring dan ada yang bertemu langsung.

Dia menyortir semua alat rias berdasar tahun kedaluwarsa. Sortir itu bertujuan mengetahui alat rias mana saja yang perlu dicampur dengan baby oil. Selain itu, dia memisahkan warna foundation sesuai dengan tone kulit. Menurut dia, tone kulit orang Indonesia Timur lebih sulit.

Make-up natural jadi pilihan Gloria saat merias jenazah. Dia menghindari riasan yang terlalu heboh. Misalnya, menggunakan corrector di beberapa titik wajah. 

”Ini riasan untuk menghadap Tuhan. Jadi, riasan yang terbaik ya seperti riasan yang sedang tidur saja,” ujarnya.  

Selama menjalankan misi sosialnya tersebut, tidak jarang dia menemui beragam permintaan yang bikin hatinya kesal. Misalnya, permintaan riasan dengan rambut disasak yang tinggi. 

Menurut dia, itu berlebihan. Dia mengatakan, boleh disasak, tapi tak perlu tinggi banget. Disasak yang wajar saja.

Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya, Gloria memberikan masukan dengan perlahan. Dia menjelaskan keinginannya seperti apa, kemudian memberikan alasan terkait menghadap Tuhan. Jadi, butuh riasan yang natural.

Setiap jenazah memiliki tantangan yang berbeda-beda. Misalnya, jenazah yang meninggal karena penyakit jantung. Kulit jenazah cenderung berubah warna menjadi gelap. Biasanya, dia membutuhkan banyak corrector. 

”Lalu, urusan mata, aku padu padankan dengan pakaian. Cenderung cool tone saja sih,” katanya.  

Komitmen tidak menarik biaya dalam merias jenazah dijaga benar oleh Gloria hingga suami kembali ke pangkuan Tuhan. Dia bahagia bisa membantu, terutama kalangan tak berpunya. 

Sebab, biaya merias jenazah tak murah, minimal bisa mencapai Rp 1 juta. Bagi dia, sekadar ada yang bilang, ”Wah, cantik sekali, ya”, tiap kali dia menyelesaikan riasan jenazah sudah merupakan kebahagiaan tak terhingga. 

”Saya ingin orang yang meninggal, terutama mereka yang mengalami proses dirias, bisa beristirahat dengan wajah yang cantik,” katanya. 

Soal kebutuhan sehari-hari, dia tak khawatir. Menurut dia, ketika dirinya berbuat baik, Tuhan akan merawatnya. ”Orang melihat aku, mungkin, nggak kerja begitu kan. Tapi, kok bisa hidup, lalu tinggal di rumah yang lumayan. Padahal, ini kan rumah dari suamiku,” terangnya. (*/c10/ttg)

Berita Terkait