Saung Dibongkar, Bungalo Mewah Belum

Saung Dibongkar, Bungalo Mewah Belum

  Kamis, 26 July 2018 10:23
DIBONGKAR: Saung bambu di dalam area lapas dibongkar oleh pihak Lapas Sukamiskin, kemarin (25/7). ISTIMEWA/JAWA POS

Berita Terkait

BANDUNG - Taman buatan di tengah saung bambu Lapas Kelas 1 Sukamiskin Bandung tampak berantakan, kemarin (25/7). Puing kayu dan bambu serta ijuk berceceran di sekitar kolam tersebut. Pemandangan indah dan nyaman taman itu kini tidak bisa lagi dinikmati para narapidana (napi) korupsi di lapas tersebut. 

Selama seharian kemarin (25/7), otoritas lapas setempat meratakan deretan saung yang mengelilingi taman tersebut. Tanpa sisa. Batang-batang bambu dan puing kayu kemudian diangkut ke luar lapas menggunakan kendaraan. Pembongkaran itu dilakukan sejak Selasa (24/7) malam hingga siang kemarin. 

Namun, belum semua fasilitas wah di lapas tersebut "dibersihkan". Informasi yang dihimpun Jawa Pos, masih ada bungalo mewah yang dikuasai sejumlah napi kelas elit yang belum disentuh. Bungalo-bungalo yang baru beberapa bulan dibangun itu berada di balik gedung blok utara penjara. "Belum dibongkar," ujar seorang napi korupsi Sukamiskin kepada Jawa Pos. 

Penelusuran Jawa Pos sebelumnya, bungalo-bungalo itu lebih mentereng dibanding saung-saung bambu yang dibongkar kemarin. Pantauan Jawa Pos, sejumlah fasilitas tersedia di bangunan rumah kecil tersebut. Mulai dari dispenser, kompor, lemari pendingin, sofa empuk plus bantal dan perkakas rumah tangga lain, 

Menurut sumber di lapas tersebut, bungalo-bungalo mewah itu memang disewakan kepada sejumlah napi kelas elit. Nah, Fahmi Darmawansyah diduga sebagai salah satu penggerak bisnis persewaan fasilitas di dalam lapas itu. Suami Inneke Koesherawati itu pun diduga memiliki catatan penerimaan uang dari para napi yang menyewa bungalo tersebut. 

"Itu (bisnis sewa fasilitas) yang disembunyikan," ungkap terpidana korupsi itu. Fahmi sendiri disebut-sebut menguasai salah satu bungalo tersebut. Selain itu, berdasar pantauan Jawa Pos sebelumnya, ada pula bungalo yang dikuasai Patrialis Akbar, Setya Novanto, dan Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan. 

Kepala Bagian Humas Dirjen Pemasyarakatan Ade Kusmanto menuturkan pembongkaran saung di Lapas Sukamiskin dilakukan secara bertahap. Pada Selasa (24/7) malam memang sudah ada pembongkaran dan dia mengakui belum semuanya. Kemarin (25/7) pembongkaran dilanjutkan.

"Sudah hampir semua (saung dibongkar, Red). Bertahap ya. Hampir setengahnya ini ya sekarang. Karena kan tidak mungkin selesai satu malam," ujar dia kepada Jawa Pos, kemarin. Ade memastikan semua saung dan bungalo yang tidak semestinya ada di dalam Lapas itu akan dibongkar semuanya sesuai komitmen awal. "Ya hari ini (kemarin, Red) masih berjalan (pembongkaran)," tambah dia.

Selain membongkar saung, razia di seluruh lapas dan rutan yang ada di Indonesia juga sudah dilakukan. Barang-barang elektronik dan non elektronik yang tak semestinya seperti gergaji dan palu yang ada di kamar napi juga dikeluarkan. Selanjutnya pengawasan lebih ketat diberlakuman agar tidak ada lagi barang yang masuk ke kamar.

"Meningkatkan pengawasan melalui CCTV. Selain diawasi warga binaanya juga diawasi petugasnya. Akan lebih ketat lagi," jelas dia.

Ancaman hukuman berat juga sudah menanti petugas maupun pejabat bila berani memberikan kelonggaran. Bahkan, bila sampai terbukti terjadi jual beli fasilitas dan izin khusus bagi napi maka petugas tersebut akan disanksi. Kakanwil Kemenkum HAM Jawa Barat dan Kadiv Pemasyarakatan pun dicopot terkait dengan operasi tangkap tamgan Kalapas Sukamiskin.

Dirjen Pemasyarakatan pun sedang mempertimbangkan untuk menyebar para napi koruptor sehingga tak berkumpul di satu Lapas saja. Lantaran, meskipun mereka masih punya pengaruh meskipun sudah ada di dalam Lapas. "Mereka masih memiliki kekuatan politik, potensi ekonomi, dan juga jejaring sosial," kata Ade. Pembuatan Lapas di pulau terdepan pun sedang dalam kajian. Meskipun tidak bisa direalisasikan dalam waktu dekat. 

Disisi lain, petugas KPK kemarin mendatangi Sukamiskin untuk melakukan penggeledahan. Informasi yang dihimpun, KPK menggeledah sel Wawan yang sebelumnya disegel dalam operasi tangkap tangan (OTT) pekan lalu. Penggeledahan itu dilakukan selama kurang lebih tiga jam. Saat keluar lapas sekitar pukul 18.27, petugas KPK langsung ngacir menaiki kendaraan mereka. (tyo/jun)

Berita Terkait