Satu Ruangan untuk Lima Kelas dengan Satu Orang Guru

Satu Ruangan untuk Lima Kelas dengan Satu Orang Guru

  Rabu, 24 April 2019 11:18
KONDISI SEKOLAH: Kusnadi, adalah satu-satunya guru yang menjar di SD Fillial No.11 Tanjung Lokang.

Berita Terkait

Potret Buram Dunia Pendidikan di Pedalaman Kalbar

Ruangannya hanya satu. Dindingnya papan dan atapnya seng. Begitulah kondisi “gedung” sekolah SD Fillial No. 11 Tanjung Lokang, Dusun Belatung, Desa Kereho, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu. Satu ruangan itu menampung lima kelas sekaligus. Bagaimana para murid belajar? Berikut laporan Wartawan Pontianak Post, ARIEF NUGROHO dari Dusun Belatung, pedalaman Kabupaten Kapuas Hulu.

……..

MATAHARI berada persis di ufuk barat saat kami tiba di Dusun Belatung, Desa Kereho, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Dusun ini terletak di hulu Sungai Bekohuk yang berbatasan dengan dua provinsi di Pulau Kalimantan, yakni Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. 

Untuk mencapai ke dusun ini harus menempuh perjalanan selama tiga hari dengan menyusuri derasnya arus sungai, menyusuri jalan setapak, menaiki bukit, menuruni lembah, rawa, menerobos hutan belantara, serta menyeberangi sungai dan bibir jurang. 

Sepintas, dusun ini tidak jauh berbeda dengan perkampungan di pedalaman Kalbar pada umumnya. Dusun Belatung dihuni oleh masyarakat Dayak Punan. Kehidupan mereka boleh dikatakan sangat sederhana. Para penduduk tinggal di rumah-rumah papan dengan ukuran kecil.

Dusun ini nyaris tak tersentuh pembangunan. Tidak ada infrastruktur jalan, puskesmas, sambungan listrik dan jaringan telekomunikasi. Satu-satunya yang menghubungkan mereka dengan dunia luar adalah televisi milik Ketua RT setempat.  Itu pun baru mereka nikmati sejak beberapa tahun terakhir, setelah masuknya program panel surya. 

Hanya saja, sampai sekarang belum semua rumah di dusun ini diterangi lampu listrik kala malam tiba. Masih ada beberapa rumah yang mengandalkan pelita sebagai penerangnya. Dusun Belatung sendiri dihuni 29 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 97 jiwa. Mata pencaharian mereka mengandalkan hasil hutan di sekitar kampung mereka. Penduduk mengumpulkan makanan dan buah dari tengah hutan, berburu, serta berladang seadanya. 

Kondisi ini kemudian diperparah dengan kurangnya mutu sarana prasarana pendidikan di sana. Adalah Kusnadi (41), satu-satunya guru yang mengajar di SD Fillial No. 11 Tanjung Lokang itu. Ia mengajar kelas satu hingga kelas lima di dalam satu ruangan. 

Kusnadi bukanlah warga lokal. Ia merupakan pendatang dari Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu.  Sejak 2010, laki-laki yang sebelumnya berkerja sebagai penjaga gua sarang walet di sekitar kampung itu diminta untuk mengajar di sekolah tersebut.

Pagi itu, Selasa (16/4), Kusnadi bersiap berangkat ke sekolah. Mengenakan busana safari cokelat, ia berjalan kaki menuju ke sekolah yang terletak di sudut kampung. Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 WIB. Para murid pun sudah berdatangan ke sekolah. Ada yang mengenakan seragam batik dan ada pula yang mengenakan seragam merah putih. Tidak ada satu pun murid Kusnadi yang mengenakan sepatu. Hanya ada satu orang yang beralas kaki berupa sandal.

Seperti sekolah pada umumnya, sebelum masuk ke kelas, murid-murid berkumpul di halaman. Mereka berbaris dengan rapi. Setelah itu, anak-anak dipersilakan memasuki kelas sesuai dengan tempat duduk masing-masing. Setidaknya ada 16 murid yang ada di ruangan itu. Kelas I berjumlah delapan orang, kelas II tiga orang, kelas III tiga orang, kelas IV satu orang dan kelas V juga satu orang. 

“Jadi satu ruang kelas disekat menjadi dua. Sebelah sini untuk kelas satu sampai tiga, dan sebelah sana untuk kelas empat dan kelas lima,” ujar Kusnadi saat ditemui Pontianak Post di sela-sela waktunya mengajar. 

Ia mengaku terpanggil untuk mengajar di sekolah itu karena prihatin dengan kondisi masyarakat. Menurutnya, sebagian besar warga Dusun Belatung tidak lulus sekolah dasar. Bahkan banyak yang tidak mengerti baca tulis.

“Sekolah ini pernah vakum selama lima tahun karena tidak ada guru yang mengajar. Kemudian saya diminta kepala dusun untuk mengajar. Dari tahun 2010 sampai sekarang,” katanya. 

Menurut Kusnadi, sekolah tempatnya mengajar hanya untuk kelas I sampai dengan V. Sementara jika ingin melanjutkan ke kelas VI, mereka harus ke ibu kota kabupaten atau ke Desa Tanjung Lokang yang jaraknya cukup jauh. 

Kenyataan yang dialami masyarakat di pedalaman Kalbar ini dinilai ironis. Pasalnya, Dusun Belatung sebenarnya merupakan dusun yang kaya akan sumber daya alam. Sarang burung walet, emas dan masih banyak lagi sumber daya alam lain, Namun, karena ketidaktahuan masyarakat, kekayaan itu tidak bisa dikelola dengan maksimal. “Kasihan mas. Sebenarnya dusun ini kaya tapi miskin. Mereka sering tertipu karena kurangnya pengetahuan,” paparnya. 

Saat ini, Kusnadi masih berstatus guru honorer dengan gaji Rp1,5 juta per bulan. Ia berharap, pemerintah daerah meperhatikan kondisi pedidikan, terutama di daerah pedalaman. (*)

Berita Terkait