Satu Juta Jiwa Terselamatkan

Satu Juta Jiwa Terselamatkan

  Rabu, 20 March 2019 11:11
MUSNAHKAN BARANG BUKTI : Wakil Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan memasukkan barang bukti narkotika jenis pil ekstasi ke dalam mobil pemusnah (Incinerator Boiler) saat press release pemusnahan barang bukti perkara tindak pidana narkotika di kantor BNN Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (19/3). MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Penangkapan 107 Kg Sabu dan 114.699 Ekstasi

PONTIANAK - Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (19/3) merilis hasil tangkapan penyelundupan sabu di Jalan Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang. Adapun jumlah barang bukti narkotika yang disita adalah sabu seberat 107 kilogram dan ekstasi sebanyak 114.699 butir. 

Untuk narkotika jenis ekstasi, barang bukti langsung dimusnahkan. Sedangkan barang bukti sabu saat ini masih diamankan untuk dilakukan pendalaman penyidikan. Ketua BNN Provinsi Kalbar, Brigjen Pol Suyatmo mengungkapkan barang haram tersebut merupakan hasil tangkapan dari dua tersangka dengan inisial Hen dan AT. Keduanya dibekuk di Jalan Raya Sungai Duri pada Kamis (14/3) malam lalu. 

Narkotika tersebut berasal dari Malaysia yang dikirim ke Kepulauan Riau, kemudian masuk ke Kalbar lewat jalur laut dan sampai di dermaga Pantai Gosong, Kabupaten Bengkayang. Setelah itu, narkotika dikirim lagi ke lokasi tujuan, yaitu Pontianak melalui jalur darat.

"Saat pertama kali kita amankan, barang bukti narkotika yang diduga jenis sabu dan ekstasi tersebut tersimpan rapi dalam kotak yang biasa digunakan untuk penyimpanan ikan. Total yang kita hitung pertama kali adalah sebanyak 123 bungkusan, yang terdiri dari 100 bungkus berisi sabu dan 23 bungkus berisi ekstasi," paparnya.

Saat diperiksa, kata Suyatmo, diketahui kedua tersangka ternyata menggunakan identitas palsu. Akibatnya tim kesulitan menemukan bukti-bukti lanjutan guna mengetahui sindikat atau jaringan besar narkoba ini. Namun, tersangka mengaku bahwa mereka membawa barang menggunakan jaringan terputus. 

Jaringan terputus bermaksud barang yang mereka terima di Pantai Gosong saat kejadian diperoleh dari tiga orang yang tidak mereka kenal. Barang itu langsung dimasukkan ke dalam mobil untuk dikirim ke Pontianak. Di situlah petugas mendapatkan sinyal dan melakukan upaya penyergapan.

Selain itu, di tengah upaya penggeledahan dan penindakan, lanjut Suyatmo, ponsel dari tersangka AT berbunyi. Petugas yang mengetahui hal itu mencoba merebut ponsel tersebut karena curiga telepon yang masuk berasal dari jaringan tersangka lainnya. AT berusaha melawan dan mencoba merebut kembali ponsel miliknya sehingga petugas terpaksa melumpuhkannya (ditembak di betis kanan). 

"Kita interogasi lanjut, ternyata barang ini akan dibawa ke Pontianak dan diletakkan di parkiran Hotel Orchardz Jalan Gajah Mada yang kemudian akan diambil lagi oleh jaringan yang ada di Pontianak,” katanya.

Petugas kemudian berkoordinasi dengan pihak Direktorat Narkoba Polda Kalbar untuk menyelidiki lokasi yang dimaksudkan. “Namun, informasi kita keburu bocor, dan yang bersangkutan (jaringan Pontianak yang menelepon AT) langsung menonaktifkan ponselnya," ungkap Suyatmo.

Sementara itu, Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono sangat menyayangkan terjadinya kasus penyelundupan narkotika jumlah besar yang terjadi di daerah ini. Ia mengaku ngeri apabila barang haram ini berhasil masuk dan disalahgunakan oleh masyarakat.

"Kalau satu gramnya ini dapat digunakan delapan orang, 107 kilogram sama dengan 107 ribu gram. Kalau dikali delapan, saya hitung ada 856 ribu jiwa terselamatkan. Belum lagi yang ekstasi. Kalau satu butir bisa digunakan tiga orang, ada 344.097 jiwa terselamatkan. Jadi kalau dijumlah, ada sekitar 1.200.097 jiwa yang berhasil diselamatkan karena penggagalan penyelundupan ini," ungkap Didi Haryono. 

Ia juga memberikan penekanan soal domisili kedua tersangka. Dari 19 barang bukti berupa identitas atau tanda pengenal yang ditemukan petugas, tidak ada yang menyatakan bahwa tersangka adalah warga Kalbar. Keduanya ternyata berasal dari Batam.

"Kalau kita lihat, jalur laut kita memang berbatasan langsung. Lintasan laut ini dimanfaatkan oleh mereka. Ini yang harus kita perketat pengawasannya agar yang seperti ini tak terjadi lagi. Jangankan yang banyak begini, yang hitungan gram pun bisa kita deteksi," tandasnya.

Selain itu, ia juga melirik modus operandi yang digunakan tersangka dalam melakukan upaya penyelundupan ini. Menurutnya, cara yang paling baik adalah dengan adanya daya tangkal dan daya cegah yang dilakukan oleh masyarakat di setiap lini. Masyarakat hendaknya proaktif melapor jika mengetahui hal yang mencurigakan di sekitarnya.  

"Tolong untuk semuanya agar terus gelorakan kepekaan kita, sensitivitas kita terhadap barang-barang yang dapat mengganggu keberlangsungan generasi penerus bangsa ini," harapnya.

Di tempat yang sama, Wakil Gubernur Kalbar, Ria Norsan memberikan apresiasi kepada petugas BNNP Kalbar, Polda Kalbar, serta masyarakat yang telah berpartisipasi dalam mengungkap kasus yang luar biasa ini. "Pertama kali melihat jumlah barang haram ini, terus terang gemetar saya. Tidak bisa saya bayangkan ada berapa jiwa yang akan hancur kalau barang ini berhasil diselundupkan," ujarnya.

Mantan Bupati Kabupaten Mempawah itu juga mengimbau masyarakat Kalbar yang melihat adanya gejala-gejala kejahatan narkotika, baik itu pemakai maupun pengedar untuk cepat melapor ke pihak yang berwajib. Hal itu agar peredaran narkotika di Kalbar dapat ditekan seminimal mungkin.

"Kalau ada melihat apapun itu tentang narkoba, baik itu pemakai atau pengedar langsung laporkan saja, minimal ke RT setempatlah. Karena kita tentu tak mau masyarakat kita hancur karena barang haram ini," pungkasnya. (sig)

 

 

Berita Terkait