Sakit Ringan, Pilih Swamedikasi

Sakit Ringan, Pilih Swamedikasi

  Minggu, 3 April 2016 10:58

Berita Terkait

Pengobatan sendiri adalah perilaku untuk mengatasi sakit ringan sebelum mencari pertolongan ke petugas atau fasilitas kesehatan. Dalam dunia medis ini dikenal dengan istilah swamedikasi. Masyarakat sudah terbiasa melakukan hal ini, umumnya mengandalkan obat modern, dengan merek dagang yang memasng iklan di televisi. 

Oleh : Marsita Riandin

Ketika gejala demam mulai menghampiri, banyak masyarakat yang mulai mencari obat agar gejala tak menjadi parah. Beragam obat yang menjadi pilihan. Ada yang membeli obat dengan merek ternama, ada pula yang membeli karena sebelumnya sudah cocok dengan khasiat obat tersebut. Banyak pula yang membeli karena saran dari orang lain. 

Beberapa responden For Her berikut ini pun juga demikian. Sebelum ke dokter, mereka terlebih dulu membeli obat di apotek atau warung terdekat. Selain dianggap lebih mudah, penyembuhan dirasa juga lebih cepat. “Saya sih kalau hanya sakit kepala, migrain, atau demam suka beli obat di apotek,” ucap Rosdiana 39 tahun.

Ibu dua anak ini juga memberlakukan hal sama pada keluarganya. Bila sakit yang diderita tidak begitu berat, maka dia percaya cukup minum obat tersebut kondisi bisa semakin membaik. “Kalau untuk anak-anak sih agak jarang ya, terutama anak saya yang masih kecil. Soalnya khan takut juga memberikan obat sembarangan,” papar dia yang menyadari bahwa tidak bisa sembarang mengonsumsi obat, terutama untuk anaknya yang masih balita. 

Kusuma (42 tahun) juga mengatakan yang sama. Keluarganya termasuk yang jarang sekali pergi ke dokter, kecuali pada penyakit yang parah. “Ke dokter itu kalau sudah minum obat beberapa hari tidak mau sembuh. Saya biasanya gunakan obat yang memang sudah cocok. Misalnya sakit kepala, tak perlu ke apotek, di toko biasa juga bisa,” jelas warga Sungai Jawi ini. 

Saat membeli obat, tak lantas begitu saja. Biasanya ia tetap mengecek dulu keterangan obat. Sering pula bertanya kepada penjual obat di apotek tersebut. “Kalau penyakit batuk, biasanya beli di apotek. Kadang khan saya juga tidak tahu, misalnya saja untuk batuk berdahak. Saya tanya ke petugasnya obat apa yang cocok. Nanti dia yang sarankan. Kalau lagi ada waktu ditanya seputar obat tersebut, tapi kalau lagi malas langsung pulang saja,” ungkap dia. 

Kemudahan membeli obat di apotek, membuat masyarakat merasa terbantukan. Meskipun tanpa mereka sadari hal ini juga bisa berdampak buruk, jika salah penggunaan obat yang dibeli.  Rini Witasari (40 tahun) mengaku  membeli obat di apotek lantaran harganya lebih murah dari biaya ke dokter. “Biasanya khan kalau batuk, atau demam biasa bawa ke dokter. Nah obat yang dikasih dokter itu biasanya disimpan. Kalau sakit lagi, beli obat yang sama,” jelas dia. 

Ketika ditanya soal cara penggunaan obat, dirinya mengaku tidak begitu memahami. Namun hanya membaca keterangan pada bagian kotak obat saja. “Khan ada tuh keterangannya. Paling yang dicari itu cara mengonsumsinya, sama masa berlaku obat. Tapi jarang juga sih menggunakan obat berkali-kali. Kalau sudah sembuh, obatnya tidak dipakai lagi. Kalau sakit ya beli lagi,” pungkasnya. **

Berita Terkait