Sail Selat Karimata Resmi Diluncurkan

Sail Selat Karimata Resmi Diluncurkan

  Kamis, 2 June 2016 09:30
LAUNCHING SAIL: Menko Maritim Rizal Ramli bersama Bupati Kayong Utara Hildi Hamid dan sejumlah pejabat tinggi negara pada launching Sail Selat Karimata 2016 di Auditrium Gedug BPPT II Jakarta, Rabu (1/6). DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Rizal Ramli: Jangan Hanya Seremonial

MENTERI Koordinator (Menko) Maritim Rizal Ramli langsung me-launching Sail Selat Karimata 2016 di Auditrium Gedug BPPT II Jakarta, Rabu (1/6). Dalam arahannya dia berharap agar pada saat pelaksanaan dan setelah pelaksanaan, kegiatan akbar yang akan berlangsung pada 15 Oktober ini berdampak bagi masyarakat.

Pada Launching Sail Selat Karimata, Menko Rizal Ramli didampingi Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi, Wakil Gubernur Jambi, perwakilan Pemerintah Provinsi Kalbar, perwakilan Provinsi Kepulauan Riau dan Bangka Belitung, serta Bupati Kayong Utara Hildi Hamid. Para pejabat tersebut kemudian memukul rebana secara bersama-sama sebagai tanda bahwa Sail Selat Karimata 2016 telah resmi dibuka.  

Kegiatan peluncuran tersebut dimeriahkan dengan berbagai pameran potensi daerah oleh empat provinsi di kawasan Selat Karimata. Di samping itu mereka juga menampilkan atraksi budaya. 

Mengenai hal ini, pada kegiatan utama Sail Selat Karimata 2016 ini terdiri dari empat kegiatan. Empat kegiatan yang dimaksud yakni Seminar Nasional tentang Kemaritiman di Provinsi Jambi pada 25 Agustus 2016, kemudian acara puncak yang akan dilaksanakan pada 15 Oktober mendatang di Kabupaten Kayong Utara, yang akan diisi dengan berbagai macam hiburan seperti international yacht competition, kompetisi sambal, Asian duren competition, Asian textile design competition, dan Kayong boxing competition. Selain itu, puncak kegiatan Sail Selat Karimata yang akan dihadiri Presiden Joko Widodo tersebut, juga akan dimeriahkan oleh sebuah sendatari. Sendatari ini melibatkan 500 siswa, yang dipimpin oleh koreografer-koreografer kenamaan di Indonesia. 

Ketiga, Festival Belitong pada 22 Oktober 2016 dan keempat Festival Bahari Kepri, 28 Oktober 2016. Dalam Festival Bahari di Kepulauan Riau ini, pemerintah menggundang yachter dan cruiser dari luar negeri.

Keempat provinsi ini memang dihubungkan oleh laut, di mana keindahan maritimnya begitu luar biasa. “Dan momentum ini harus kita gunakan untuk beberapa hal. Pertama, untuk berkoordinasi dengan percepatan pembangunan, sehingga rakyat di tempat itu merasakan manfaatnya sebelum dan sesudah,” ujar Rizal. 

Rizal juga menargetkan beberapa hal dalam kegiatan Sail Selat Karimata ini, khususnya bagi percepatan pembangunan yang ada di kawasan Sail tersebut. Dengan demikian, dia menghendaki agar even tahunan ini berdampak dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Saat kita bangun beberapa jalan, air bersih, toilet, pelabuhannya kita perbaiki, kita perpanjang, adanya juga program kesehatan, dan sebagainya ini semua harus benar-benar berdampak kepada masyarakat,” jelas Menko.

Ia menambahkan, berdasarkan pengalaman kegiatan serupa di tahun sebelumnya, benar-benar berdampak ekonomis dalam menarik jumlah wisatawan yang datang ke lokasi puncak. Untuk itu, sambung dia, pada acara-acaranya itu juga harus betul-betul ditata dengan bagus. “Jadi dampak dari kegiatan ini dan pada pelaksanaanya harus memiliki gregetnya,” singkatnya.

Untuk itu, pada kegiatan Sail kali kedelapan ini, Menko mendesak kepada kementerian dan lembaga yang terlibat, agar dapat bersungguh-sunggu dan dapat berkoordinasi dalam persiapannya. “Saya menekankan pentingnya even tahunan itu dapat menjadi peggerak roda perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

Dia juga berpesan kepada Gubernur Kalbar, Gubernur Kepri, Gubernur Babel, dan Gubernur Jambi, agar benar-benar memanfaatkan even ini untuk menciptakan kegiatan lanjutannya. Dia juga mengarahkan agar kegiatan tersebut harus berbentuk kompetisi. “Jadi, kalau kegiatan Sail itu hanya sebatas seremonial, maka selesai acara, Presiden meresmikan, ya sudah. Maka untuk pemberitaan juga pasti boring (membosankan, Red),” tutupnya di Jakarta.

Sementara itu, Bupati Kayong Utara Hildi Hamid tak memungkiri jika untuk saat ini Kayong Utara belum begitu dikenal oleh masyarakat luar. Apa lagi, menurutnya, oleh para wisatawan asing. Terlebih, dia mengungkapkan jika kabupaten yang dipimpinnya tersebut merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Ketapang yang masih terbilang baru.

Hildi juga menceritakan bagaimana mereka semula sempat pesimistis saat ditunjuk menjadi tuan rumah even akbar ini. Rasa pesimistis tersebut, diungkapkan dia, lantaran saat ini Kayong Utara belum banyak memiliki fasilitas yang memadai, seperti hotel, dan penginapan. 

Namun, diungkapkan dia, keberanian mereka kemudian muncul saat berkaca dari Sail tahun 2014 di Kepulauan Raja Ampat, di mana jika dibandingkan Kayong Utara, sedikit lebih memiliki kesiapan. Berkaca pada kegiatan tersebut, Hildi kemudian yakin jika mereka akan mampu menjadi tuan rumah, serta mampu menyukseskan agenda akbar tahunan ini.

“Sempat merasa pesimis, apa lagi daerah  ini (Kayong Utara, Red) baru, untuk kapasitas perhotelan juga belum banyak. Tapi faktanya kenapa Raja Ampat bisa? Karena pada saat itu Raja Ampat jalan aspal hanya 2 kilo (meter), Tomini yang lebih kuat dari kami hotel tidak ada, kenapa di sana bisa? Nah ini kan berarti kami juga harus bisa. Dan Kami sudah memiliki hotel bintang tiga, begitu pula dengan penginapan-penginapan lainnya.  Belum lagi dengan dukung dari Kabupaten Ketapang,” ungkap Hildi.

Mengenai transportasi, dipastikan Bupati jika dalam waktu dekat ini mereka akan mendapatkan bantuan kapal cepat (speedboat) dengan kapasitas penumpang yang cukup banyak. Bahkan, dia juga memastikan jika PT PELNI (Persero) akan menunjang dengan kapal mereka yang dapat dijadikan hotel. “Kalau untuk penginapan penginapan lainnya, pemerintah daerah juga sedang melakukan kerja sama dengan masyarakat untuk dapat menyewakan beberapa kamar bagi para tamu. Tentunya dengan harga yang terlebih dulu disepakati bersama,” tutupnya. (dan) 

Berita Terkait