Sadarkan Pentingnya Menjaga Lahan Gambut

Sadarkan Pentingnya Menjaga Lahan Gambut

  Senin, 15 April 2019 13:24
JAGA GAMBUT: Intan Wulandari berjuang mengajak warga jaga lahan gambut dan tidak melakukan pembakaran. ADONG/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Lebih Dekat dengan Intan; Fasilitator Peduli Gambut

Intan Wulandari, adalah fasilitator desa peduli gambut di Desa Sungai Mata-mata, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Sejak Februari 2018 lalu ia terus mensosialisasikan pentingnya keberadaan lahan gambut. Tak mudah merubah paradigma itu, berbagai rintangan dihadapinya. 

Adong Eko, 

Sungai Mata-mata

 

SETELAH menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpuara pada 2017. Wanita kelahiran 18 November 1994 itu, sempat mengikuti seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Jakarta.

Tiga minggu berada di ibu kota  negara untuk mengikuti seleksi, Intan harus menerima kenyataan jika ia masih belum beruntung dan berkesempatan mengabdikan dirinya. Namun pengabdian itu tak harus menjadi pegawai negeri baginya dimana pun pengabdian itu dapat dilakukan.

“Hampir tiga minggu di Jakarta, hasil seleksinya tidak lulus. Saya kemudian memilih pulang ke Pontianak,” kata Intan, ketika saya menemuinya di kantor Desa Sungai Mata-mata, Rabu 9 April kemarin.

Setibanya di Pontianak, perlahan Intan mencari informasi lowongan pekerjaan. Dayung bersambut, ada lembaga non strukrual pemerintah yakni Badan Restorasi Gambut (BRG) yang membuka lowongan pekerjaan untuk bidang fasilitator desa yang akan ditempatkan di desa peduli gambut.

“Lowongan pekerjaannya menarik karena bergerak di bidang bidang kebakaran hutan dan lahan gambut. Saya fikir ini sesuai dengan ilmu yang didapat saat kuliah,” tutur wanita berkerudung pink itu.  

Intan pun mencoba untuk mengadu nasibnya. Berbagai rangkaian seleksi dilakukan hingga akhirnya oleh Badan Restorasi Gambut ia dinyatakan lulus da wajib mengikuti pelatihan sebagai fasilitator desa.

“Setelah mengikuti pelatihan, pada Februari 2018 saya ditempatkan di Desa Sungai Mata-mata. Tugas saya melakukan sosialisasi, melakukan edukasi, mendorong partisipasi masyarakat dan membangun kemitraan,” tutur Intan.

Kehadiran Intan di desa peduli gambut adalah untuk membantu meningkatkan ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan segala macam potensi sumber daya alam yang ada, namun tidak merusak kawasan hutan gambut.

Tantang terberat bagi Intan saat menjalankan tugas pertama kalinya adalah bagaimana melawan dan mengubah pola piker masyarakat yang sudah terbiasa berfikir instan. Ketika melakukan sosialisasi, apa itu fasilitator desa dan tugasnya, apa itu lahan gambut dan manfaatnya banyak masyarakat yang bertanya apa yang dibawanya.

“Awal-awal yang ditanya masyarakat, saya bawa bantuan apa ?, mereka dapat apa ?. Mereka berfikir demikian, karena ada pengalaman pahit. Banyak pendamping desa yang datang hanya meminta data lalu pergi tanpa melakukan apa-apa,” cerita Intan.

Bagi Intan pandangan masyarakat seperti itu adalah tantangan bagi dirinya. Ia tak mau menyalahkan, karena tugasnya adalah terus merangkul masyarakat agar mau bersama-sama menjaga lahan gambut lalu mengambil manfaatnya dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang ada.

Hari demi hari Intan terus mensosialisasikan tugas dan tujuannya berada di Desa Sungai Mata-mata. Ia terus melakukan pendekatan dengan mendatangi masyarakat yang ada di setiap dusun di tempat tugasnya. Ia tinggal bersama berdiskusi agar dapat menjelaskan dampak kebakaran lahan gambut dan mendengarkan keluhan.

Dari strategi pendekatan itu, ia kerap mendengarkan keluhan warga yang tinggal di lahan gambut. Salah satunya adalah jika musim penghujan kawan mereka kerap banjir. Sementara jika musim kemarau selalu dilanda kekeringan. Dan setiap tahun selalu terjadi kebakaran.

“Saat mengeluh warga bertanya apa sih Badan Restorasi Gambut dan Kemitraan Patnership itu ?. Apa programnya ?,” cerita Intan.

Intan pun mamfaatkan keluhan warga itu untuk menjelaskan keberadaannya dan program yang dibawa, yakni melakukan pemulihan lahan gambut dengan penanaman kembali tanaman asli yang tumbuh atau tanaman yang dapat beradaptasi di lahan itu, seperti nanas, melakukan pembahasan yakni membuat sekat kanal, membuat sumur bor di lahan gambut dengan system swadaya.

“Saya menemui masyarakat satu kampung-kampung. Menanyakan kasus kebakaran hutan dan lahan. Lalu menjelaskan dampak kebakaran dan apa yang dapat dilakukan bersama fasiltator desa. Empat bulan proses pendekatan itu dilakukannya, perlahan namun pasti kini warga sudah mulai paham dan tumbuh kesadarannya,” kata Intan.

Apa yang dilakukan Intan pun membuahkan hasil.  Masyarakat menyatakan siap mendukung program kerjanya selama itu dapat mendorong peningkatan ekonomi. Ketika warga sudah membuka diri ia pun melangkah ke tahapan selanjutnya yakni melakukan intervensi ke pemerintah desa. Intervensi itu mendorong program kerja yang dapat bersinergi dengan desa agar program yang telah dilakukan dapat terus dilanjutkan, salah satunya adalah program pencegahan kebakaran hutan dan lahan dan pelatihan pencegahan kebakaran bagi masyarakat.

Untuk kedua kalinya setelah mampu merangkul masyarakat, Intan pun berhasil membuat Pemerintah Desa Sungai Mata-mata mendukung kerja-kerjanya sebagai fasilitator desa. Beberapa usulan diantaranya pelatihan pengolahan lahan gambut tanpa bakar, biaya  operasional masyarakat perduli api dan penyuluhan diakomodir.

“Kami datang tidak membawa anggaran. Datang hanya membawa program kerja. Alhamdulillah usulan itu diterima dan telah dianggarkan di dana desa kurang lebih sebesar Rp72 juta,” ungkap Intan.

Dari apa yang dilakukannya selama satu tahun lebih, Intan mulai merasakan hasilnya. Masyarakat sudah mulai menerapkan pemahaman untuk pengolahan lahan gambut yang lebih ramah lingkungan. Kini meraka sadar bahaya membakar dan tidak mau lagi melakukannya. Sebagai contoh ketika membuka lahan, warga memilih membuka lahan dengan menyemprotkan racun dan membiarkan tumbuhan mati dan membusuk.

Intan pun berharap, kesadaran masyarakat untuk menjaga lahan gambut terus tumbuh. Dan program yang sudah ada, seperti pengolahan buah nanas yang lebih bernilai, kelompok masyarakat perduli api dan program lain yang akan direncanakan nanti dapat terus dilanjutkan, meski keberadaannya bersama Badan Restorasi Gambut dan Kemitraan Patnership sudah tidak lagi ada di Desa Sungai Mata-mata.

“Saya sistem kerja kontrak, ada masa waktunya saya berharap program perlindungan dan pengolahan ekosistem gambut yang berkelanjutan dapat terus dilakukan masyarakat dan didukung pemerintah desa,” harap Intan.

Bagi Intan, semua itu dapat dilakukan masyarakat dan bukan tidak mungkin peningkatan ekonomi itu dapat terjadi dengan terus menginovasi hasil pertanian dan perkebunan yang dimiliki, seperti kopi yang ada di Dusun Suka Bangun, nanas hasil pertanian warga Dusun Harapan Maju, sementara padi yang ada di Dusun Suka Ramai dan Suka Damai.

“Ini potensi yang ada. Jika diolah sebaik mungkin maka dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Seperti nanas dapat diolah dan menjadi produk jadi. Tinggal tugas kami mempersiapkan pasarnya,” kata Intan.

Andi Saputra warga RT03 RW 02, Dusun Suka Ramai, Desa Sungai Mata-mata, Kecamatan Simpang Hilir adalah salah satu warga yang sangat membuka diri dengan keberadaan fasilitator desa. Tak hanya membuka diri, ia bahkan ikut mendukung Intan Wulandari ketika melaksanakan kerjanya ke dusun-dusun.

“Saya merasa apa yang disampaikan fasilitator desa sangat benar. Bahaya ketika lahan gambut terbakar, hilangnya sumber serapan,’ kata Andi.

Merasa keberadaan fasilitator desa dari BRG dan Kemitraan Patnership itu penting dan tidak mudah melaksanakan tugasnya, Andi pun berusaha mengambil peran untuk membantunya. Setiap ada kesempatan, ia pasti mendamping Intan Wulandari menyambangi warga di setiap dusun untuk melakukan sosialisasi, pemetaan lokasi lahan gambut dan pemetaan potensi pertanian dan perkebunan.

“Di desa kami ini pak harus diakui, setiap musim kemarau kebakaran hutan sering terjadi. Dan program yang dibawa memang sangat dibutuhkan,” ungkapnya.

Keaktifan Andi dalam membantu kerja-kerja fasilitator desa pun dilirik oleh BRG dan Kemitraan Patnership.  Ia pun diundang untuk mengikuti pelatihan dan pengenalan program (aplikasi) kemitraan 2.0. Aplikasi seperti media social itu dapat digunakan untuk menposting aktivitas yang warga dan peristiwa yang terjadii di desa-desa gambut.

Memanfaatkan aplikasi itu, Andi pun kerap memberikan informasi kepada seluruh penggunannya tentang aktivitas dan perkembangan restorasi gambut yang sedang berlangsung di desanya. 

“Dengan aplikasi ini saya bisa memberi informasi dan mendapat informasi dari pengguna aplikasi di desa-desa gambut lain dari provinsi lain,” ucap Andi.

Andi pun melihat langsung bagaimana saat ini masyarakat sudah mulai sadar pentingnya dan menjaga lahan gambut. Petani nanas misalnya yang bercocok tanam di lahan gambut, ketika membuka lahan tidak lagi membakar. Tumbuhan di atasnya disemprot dengan racun lalu dibiarkan hingga membusuk.

Bagi dirinya pengguna aplikasi, kegiatan masyarakat di atas lahan gambut itu sangat menarik. Kegiatan itu difoto lalu diposting ke aplikasi kemitraan 2.0, untuk memberi informasi kepada pengguna jika warga di desanya sudah memiliki kesadara dan sudah merubah cara membuka lahan yang lebih lestari.

Andi pun berharap pemahaman yang sudah tumbuh di masyarakat ini terus berlangsung demi menjaga ekosistem gambut yang ada di Desa Sungai Mata-mata. “Alhamdulillah, kami sudah banyak merasakan manfaat program pendampingan ini. Bahkan secara pribadi saya pun merasakannya, seperti sebagai pengguna aplikasi saya meraih prestasi ketiga dari tujuh provinsi pengguna aplikasi terbanyak menposting informasi,” cerita Andi.

Andi pun merasakan dampak lain bagi program pendampingan itu. Pola piker masyarakat yang telah berubah membawa perubahan positif bagi lingkungan. Jika dulu masih menggunakan cara membakar, musim kemarau kerap terjadi kabut asap. Namun kini setelah lebih ramah lingkungan, musim kemarau terjadi kabut asap tidak pernah ada. *

Berita Terkait