Saatnya Rekonsiliasi Nasional

Saatnya Rekonsiliasi Nasional

  Sabtu, 20 April 2019 09:51
BERDOA: Calon Presiden Nomor Urut 02, Prabowo Subianto berdoa bersama para pendukung yang berkumpul di depan kediamannya, Jumat (19/4). Kubu Prabowo kembali menegaskan kemenangan, meski hitung cepat lembaga-lembaga survei mengunggulkan Jokowi.

Berita Terkait

Ormas-Ormas Islam Bersatu, Galang Perdamaian Umat 

JAKARTA – Pemilihan presiden sudah selesai. Tinggal menunggu hasil penghitungan resmi oleh KPU. Selama masa tunggu tersebut, banyak beredar hoax yang mengancam persatuan bangsa. Tak ingin perpecahan terjadi, kemarin beberapa organisasi kemasyarakatan (ormas) menyatukan sikap. Mereka menyerukan segera diadakan rekonsiliasi untuk menyatukan semua kubu. 

Ormas-ormas yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) tersebut mengajak masyarakat menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang melanggar konstitusi. Persatuan dan persaudaraan lebih penting dari hasil pemilu. 

Seruan itu disampaikan di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), Jalan Keramat Raya, kemarin (19/4). Ada 13 organisasi yang tergabung dalam lembaga persahabatan itu. Ketua Umum PB NU Said Aqil Siroj mengatakan, NU bersama ormas Islam lainnya memberikan apresiasi kepada KPU, Bawaslu, DKPP, dan para paslon capres-cawapres dalam pelaksanaan pesta demokrasi. ”Bangsa Indonesia telah membuktikan kepada dunia bahwa pelaksanaan pesta demokrasi berjalan dengan baik,” tutur dia saat konferensi pers kemarin.

Said menyampaikan lima poin seruan bersama ormas Islam. Di antaranya, mengajak masyarakat, khususnya umat Islam, bersabar menunggu hasil rekapitulasi penghitungan suara yang dilakukan KPU. ”Sebagai satu-satunya lembaga yang diberi kewenangan oleh perundang-undangan dalam melaksanakan pemilu,” ungkapnya. 

Umat Islam juga diajak menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum. Jangan melakukan langkah yang inkonstitusional. Pihak yang berkeberatan terhadap hasil pemilu bisa menyelesaikan melalui jalur hukum. Undang-undang sudah mengatur bagaimana menyelesaikan sengketa pemilu. Mereka bisa menyelesaikan lewat Mahkamah Konstitusi (MK). 

Said juga mengajak seluruh komponen bangsa untuk segera melakukan rekonsiliasi pasca pemungutan suara. Terutama kepada para ulama, kiai, dan ustad agar secepatnya melakukan rekonsiliasi. Jangan sampai masyarakat terpecah hanya gara-gara berbeda pilihan dalam pilpres. Persatuan harus didahulukan. LPOI juga mengajak umat Islam memperbanyak doa, zikir, dan salawat agar bangsa Indonesia mendapat berkah dari Allah SWT. ”Ini merupakan pernyataan bersama NU dan ormas-ormas Islam yang mempunyai platform sama, yaitu NKRI, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya.

Selain NU, konferensi pers itu dihadiri perwakilan dari Syarikat Islam Indonesia (SII), Persatuan Islam (Persis), Al-lrsyad AI-lslamiyyah, Mathlaul Anwar, Al-Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Azzikra, Al-Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Persatuan Umat Islam (PUI), dan Himpunan Bina Mualaf.

Ketua Umum PUI Nazar Haris mengatakan, seruan bersama itu disampaikan agar umat tidak resah. ”Kami khawatir umat terbelah,” kata dia. Dia pun mengajak umat Islam tenang, selalu menjaga kejujuran dan keadilan. Jangan sampai bersitegang antarumat lantaran perbedaan pandangan. Dia juga mengingatkan agar jangan ada ambisi pribadi yang bisa merusak demokrasi. Keutuhan NKRI harus dikedepankan. Persatuan dan kesatuan lebih penting daripada mempertahankan kepentingan sekelompok orang. 

Abdullah Jaidi, ketua umum Al-Irsyad, mengajak semua pihak untuk menjaga kondusivitas dan perdamaian. Mengedepankan akhlak dalam menyikapi perbedaan dan permasalahan. ”Kami minta masing-masing paslon menahan diri,” terang dia. Terutama para pendukung kedua paslon. Perbedaan antara kedua pihak jangan sampai meruncing. Umat Islam, kata dia, jangan terprovokasi berita-berita yang tidak benar. Masalah pemilu serahkan kepada KPU yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pesta demokrasi itu. Jika tidak puas, selesaikan lewat jalur hukum.

PP Muhammadiyah juga mengeluarkan seruan untuk menyikapi kondisi politik terkini pascapemilu. Ada 10 poin seruan yang disampaikan kepada masyarakat. Di antaranya, masyarakat diimbau untuk tidak terlalu terpengaruh dengan banyaknya hasil hitung cepat dan exit poll yang disajikan di media massa dan media sosial. ”Sebagai sebuah kerja ilmiah, hasil-hasil survei merupakan sajian hitungan atau data yang patut dihormati, tetapi sama sekali tidak memengaruhi dan menentukan hasil pemilu,” tegas Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Muhammadiyah juga mendesak KPU, Bawaslu, dan seluruh jajarannya agar bekerja lebih profesional, jujur, adil, transparan, dan independen sehingga penghitungan dan hasil pemilu betul-betul tepercaya, objektif, dan saksama. KPU hendaknya mengumumkan hasil pemilu tepat waktu sehingga hasilnya bisa diterima secara objektif oleh semua pihak.

Rabithah Alawiyah juga menyampaikan pernyataan resmi terkait pemilu yang baru saja usai. Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zein bin Umar bin Smith menegaskan, pemilu atau segala hajatan demokrasi adalah salah satu cara untuk membentuk pemerintahan yang adil dan mewakili rakyat serta memperkukuh persatuan bangsa. Karena tujuannya mulia, semua pihak yang terlibat mesti menjalankan peran secara mulia pula. Mulai penyelenggara, pengawas, peserta pemilu, hingga pendukung. Semua harus mengedepankan kejujuran dan keadilan demi pemilu yang bermartabat.

”Cara-cara bermartabat ini mesti menjadi semangat seluruh pihak yang terlibat pemilu. Jika pelaksanaannya demikian, tentu apa pun hasilnya bisa diterima seluruh pihak dengan penuh kedewasaan,” katanya. Habib Zein lantas mengajak umat untuk berdoa agar pemilu dapat memberikan manfaat terbaik untuk bangsa Indonesia. ”Ingat bahwa kita telah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk hajatan ini.”

Menurut Habib Zein, doa adalah salah satu cara terbaik untuk mengekspresikan rasa cinta kepada agama, negara, dan bangsa. ”Jangan lupa, setiap selesai salat kita mendoakan yang terbaik bagi keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya.

Dia lantas meminta pihak yang kelak diputuskan KPU sebagai pemenang agar merangkul yang kalah. Jangan justru mencerca yang kalah. Menurut dia, yang kini terpenting adalah rekonsiliasi nasional. Sekarang sudah bukan lagi masanya berpikir tentang 01 atau 02, tetapi bagaimana berpikir untuk kemajuan Indonesia.

Secara khusus, Habib Zein meminta calon yang terpilih untuk merangkul pihak yang selama ini berseberangan. Yang terpenting, kata dia, siapa yang terpilih harus mampu memandang bahwa semua adalah bersaudara sebangsa setanah air. Apa pun perbedaan tidak boleh mengakibatkan ada yang terpinggirkan. 

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan seruan yang sama. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi mengatakan, pemilu berjalan dengan tertib, lancar, dan aman. ”Ini menunjukkan rakyat semakin matang dan dewasa dalam berdemokrasi,” terangnya.

Zainut menuturkan, masyarakat dapat menyikapi tahapan pemilu dengan sabar, tawakal, dan terus berdoa. ”Semoga situasi dan kondisi seperti ini tetap terjaga dan terpelihara hingga semua proses dan tahapan pemilu berakhir dilaksanakan,” jelasnya.

MUI juga mengapresiasi dua pasangan capres-cawapres yang telah menunjukkan sikap kenegarawanan serta mengajak para pendukungnya menjaga persaudaraan dan persatuan. Selain itu, meminta pendukungnya tetap tenang dan tidak emosional dalam menyikapi hasil hitung cepat yang sudah beredar. Organisasi itu juga meminta penyelenggara pemilu, yakni KPU, Bawaslu, dan DKPP, untuk terus melaksanakan tugasnya dengan penuh amanah dan dedikasi. Kemudian, kepada TNI dan Polri untuk terus mengawal, melindungi, dan memberikan rasa aman kepada masyarakat. (lum/wan/c10/oni) 

Berita Terkait