Saatnya Melepas Jubah

Saatnya Melepas Jubah

  Selasa, 6 September 2016 09:30

Berita Terkait

BASEL – Delapan pekan sudah pesta di Stade de France berlalu. Euforia Portugal sebagai juara di Euro 2016 pun sudah selayaknya harus diakhiri. Sebab sudah ada jalan terjal yang terbentang di depan skuad berjuluk Selecao das Quinas itu. Jalan itu adalah jalan menuju ke Piala Dunia 2018 di Rusia yang mulai ditempuh Luis Nani dkk dini hari nanti. 

Bergabung di B, Portugal bakal mengawali jalannya di St Jakob Park, Basel. Swiss sebagai tuan rumah siap memaksa Portugal melepaskan jubah juara Eropanya terlebih dulu. Karena, mencuri victory dari Swiss tidak semudah yang dibayangkan. Sudah 27 tahun lamanya Portugal belum mampu menodai rekor Swiss di negaranya sendiri. 

Dini hari nanti WIB akan menjadi kesempatan ketiga Portugal memperbaiki histori. Ini juga jadi momentum Portugal mengubah trennya yang selalu kesulitan mengawali kualifikasi. Tiga kualifikasi di tahun 2012 hingga 2016 Portugal selalu mengawalinya dengan tidak meyakinkan. Draw 4-4 atas Siprus di kualifikasi Euro 2012, lalu cuma menang 2-1 atas Luksembourg di kualifikasi Piala Dunia 2014.

Dan tahun lalu, sebelum menjadi juara Portugal malah mengawali kualifikasi Euro 2016 dengan kekalahan atas Albania 0-1 di Lisbon. Apakah ini akan terulang? ''Tidak ada yang tidak terkalahkan. Di eranya, pelatih Fernando Santos menjadikan tim ini bisa menaklukkan semua tim. Meski kami tahu jika kami bukanlah tim unbeaten, setidaknya kami harus lanjutkan mentalitas seperti di Euro 2016,'' ungkap gelandang Portugal Joao Moutinho kepada Sapo 24. 

Gelandang dengan 91 caps timnas Portugal itu menyebut, Swiss bukan hanya termotivasi untuk mengamankan laga home-nya. Layaknya negara-negara Eropa lainnya, Swiss pasti punya ambisi besar mengalahkan raja Eropa seperti Portugal ini. ''Laga per laga akan kami jalani dengan misi sama, supaya terus menang,'' lanjut pemain AS Monaco itu. 

Maklum, bukan hanya Swiss yang berpotensi mengganggu jalan Portugal. Di Grup B masih ada Hungaria sebagai underdog Euro 2016. Minimal, dengan tiga poin di Basel maka jalan Portugal supaya mengamankan putaran pertama ini di puncak klasemen Grup B tetap terjaga. Hanya, ada batu ganjalan di depan Portugal sekarang. 

Mereka tampil tanpa kaptennya, Cristiano Ronaldo. CR7 – inisial nama Ronaldo – absen setelah recovery-nya dari cedera lutut belum 100 persen tuntas. Ada kekhawatiran, tanpa Ronaldo tim Portugal bakal terkendala serangannya. Walaupun ketika memastikan kemenangan atas Prancis di final Euro pun Ronaldo sudah ditarik keluar. 

Sejatinya, Santos sudah mencoba anak asuhnya membiasakan bermain tanpa Ronaldo. Makanya di Estadio do Bessa Seculo XXI Porto, 2 September lalu WIB dia mengasah serangan pemainnya lewat  uji coba melawan Gibraltar. Portugal menang lima gol tanpa balas dan pemain-pemain belakang seperti Pepe dan Joao Cancelo bisa mencetak gol. 

Itu plus dua gol Nani dan satu gol winger kanan Bernardo Silva. ''Jangan bandingkan hasil laga kemarin dengan besok. Gibraltar seribu kali beda dengan Swiss. Belum tentu apa yang kami dapat dari laga ini bisa berjalan sempurna di Basel,'' tutur Santos sebagaimana dilaporkan Omnisport. Seperti saat di Euro, formasi 4-3-3 akan tetap dipertahankan Santos. 

Dengan tanpa Ronaldo, Eder si pencetak gol penentu juara Euro 2016 kemungkinan tetap main di posisi sembilan. Dia akan didampingi Nani di sisi kiri dan Ricardo Quaresma di kanan. Sedangkan di lini tengah, William Carvalho akan jadi penyeimbang lini pertahanan dan serangan. Dia bakal ditopang Moutinho dan Joao Mario. 

"Swiss akan bermain di rumahnya sendiri, tapi itu tidak masalah bagi kami. Kami datang kesana dengan ambisi sama, menang,'' ungkap pelatih berusia 61 tahun itu. Bukan lagi mengincar tiket sekedar lolos, Portugal ingin tampil sempurna di kualifikasi Piala Dunia 2018 ini. ''Tiga tim, satu tiket lolos, ini akan jadi handicap kami apabila gagal memenangi satu saja laga lawan mereka (Swiss dan Hungaria),'' ulasnya. 

Sementara itu, Swiss mencanangkan misi besar tahun ini. Kembali ke ajang Piala Dunia untuk yang keempat kalinya beruntun. Sekaligus melanjutkan tren bagus negara tuan rumah Euro 2008 saat selalu mengakhiri dua major tournament terakhirnya di fase 16 Besar. ''Kampanye baru, tantangan baru juga,'' koar pelatih Swiss Vladimir Petkovic kepada Tagesanzeiger. (ren)

 

Berita Terkait