Rutin Minum ARV, Seorang ODHA Dinyatakan Negatif

Rutin Minum ARV, Seorang ODHA Dinyatakan Negatif

  Senin, 4 December 2017 10:00
IMBAU : Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono memberikan sambutan dalam Peringatan Hari AIDS sedunia, Minggu (3/12). Edi mengimbau agar masyarakat mau melakukan tes dan mengobati HIV. IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Dorong Masyarakat Tes HIV

PONTIANAK - Peringatan Hari AIDS sedunia di kota ini dijadikan momentum sebagai gerakan mendorong masyarakat untuk tes dan mengobati HIV.  Mereka yang sudah dinyatakan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) wajib rutin mengkonsumsi Antiretroviral (ARV) dan mempertahankan pengobatannya. 

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia (KPAI) Kota Pontianak Lusi Nuryanti mengungkapkan, masyarakat tidak perlu takut melakukan tes HIV. Apalagi kalau sudah positif, yang bersangkutan harus rutin minum obat ARV. 

Pernah, kata Lusi, pihaknya menemukan kasus seorang sopir truk yang sudah setahun poisitif HIV. Lantaran dia rajin minum obat ARV, ketika dilakukan tes hasilnya negatif. Kasus ini merupakan bukti di Kota Pontianak kalau rajin minum ARV, tes HIV virusnya bisa tidak terdeteksi. 

"Kami kaget juga, pas kami melakukan tes di pelabuhan, kami sudah tahu seorang sopir memang positif HIV, dites negatif. Begitu konsul ke dokter dinyatakan negatif karena dia rutin konsumsi ARV," ujarnya saat Peringatan Hari AIDS sedunia di halaman Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak, Minggu (3/12).

Dijelaskannya, meskipun hasil tes negatif, yang bersangkutan tetap harus minum ARV secara rutin seumur hidup. Konsumsi ARV tidak boleh putus dan harus tepat waktu. Obat ARV ini diminum sehari satu kali dan ada yang tiga kali sehari. “Populasi kunci rata-rata rutin minum ARV,” sebutnya.

Dengan meminum obat ARV secara teratur pun pada satu saat hasil tes HIV akan negatif. Tapi, itu artinya HIV tidak bisa dideteksi bukan tidak ada karena HIV bersembunyi di bagian-bagian khusus dalam tubuh, seperti kelenjar, dengan kondisi 'tidur'.

Tapi, ketika seorang pengidap HIV/AIDS berhenti minum obat ARV maka virus HIV akan kembali menggandakan diri yang berakibat banyak sel darah putih yang rusak sehingga sistem kekebalan tubuh rusak. Pada kondisi inilah disebut masa AIDS dan sangat mudah terkena panyakit. 

Penyakit-penyakit yang diderita pengidap HIV/AIDS di masa AIDS, disebut infeksi oportunistik. Seperti jamur di mulut, ruam, diare, TBC dan lain-lain. Penyakit ini yang kemudian akan menjadi penyebab kematian pada pengidap HIV/AIDS.  Lusi mengatakan Kalbar sebelumnya sempat menduduki peringkat kelima dan delapan besar penemuan kasus HIV tertinggi se-Indonesia. Namun untuk tahun ini turun menjadi peringkat ke-13. 

Lusi menyebut, peringkat tersebut indikatornya adalah temuan kasus HIV yang baru. Sebagai upaya penanggulangan kasus HIV/AIDS, pihaknya pun senantiasa mendorong orang sebanyak-banyaknya melakukan tes HIV.  “Saat ini kami sedang mengejar target zero new infection atau mengejar angka HIV baru rendah.” 

Ia menerangkan, tren terkini pengidap HIV adalah kaum gay. Pihaknya juga telah menjangkau populasi tinggi beresiko HIV. Bahkan, kalau mereka bekerja di sebuah tempat hiburan, terang dia, pemilik tempat hiburan juga sudah ada komitmen bersama. "Semua pekerja di tempat hiburan wajib tes HIV secara rutin tiga bulan sekali," pungkasnya.

Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pada peringatan Hari AIDS sedunia ini sebagai gerakan mendorong masyarakat untuk tes dan mengobati HIV. “Dengan pencanangan slogan TOP yakni Temukan Pasien HIV sesegera mungkin, Obati ODHA dengan ARV dan Pertahankan pengobatannya,” tuturnya.

Sebagaimana tema yang diusung pada peringatan Hari AIDS sedunia, Saya Berani, Saya Sehat, dikatakannya sangat relevan dengan upaya yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat untuk mengutamakan upaya promotif dan preventif dalam pembangunan kesehatan. “Termasuk dalam pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS,” terang Edi.

Pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS, sambung dia, harus dilakukan bersama-sama oleh pemerintah bersama dengan seluruh lapisan masyarakat. Sebagaimana dalam Strategi Nasional Pengendalian HIV/AIDS adalah dilaksanakan bersama antara pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat. “Mencakup organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan,” ucapnya.

Edi mengajak semua pihak untuk tidak ragu-ragu maupun takut dalam melakukan tes HIV, tidak diskriminasi maupun stigma pada orang yang melakukan tes HIV serta tidak menstigma orang yang terinfeksi HIV. Peringatan Hari AIDS sedunia di Kota Pontianak digelar dengan jalan sehat sekaligus kampanye peduli HIV/AIDS yang membawa slogan-slogan ajakan untuk mencegah penularan HIV/AIDS serta tidak mengucilkan ODHA.(bar)

Berita Terkait