Rupiah Bisa ke Level 13 Ribu Jika Tren Penguatan Berlanjut

Rupiah Bisa ke Level 13 Ribu Jika Tren Penguatan Berlanjut

  Selasa, 8 January 2019 10:15

Berita Terkait

JAKARTA - Nilai tukar rupiah hingga akhir perdagangan kemarin (7/01) mempertahankan penguatan atas dolar. Berdasarkan data dari bloomberg rupiah ditutup menguat 187 poin atau 1,31 persen ke posisi 14.082 per dolar. Pergerakan harian rupiah tercatat Rp 14.021 - 14.184 per dolar AS, pembukaan berada di level Rp 14.177 per dolar AS.

Ekonom Maybank Myrdal Gunarto mengatakan jika tren penguatan terus berlanjut rupiah bisa menguat ke range level 13.700-14.000. Rupiah diperkirakan akan melanjutkan tren penguatan didorong oleh arus masuk uang asing seiring dengan aksi investor global yang kembali masuk ke pasar keuangan negara berkembang."Yang memiliki imbal hasil menarik dan valuasi bagus, dengan latar belakang ekonomi yang cukup stabil dan solid," paparnya. 

Beberapa hari terakhir, rilis data ekonomi global mengecewakan dan imbal hasil obligasi AS semakin turun karena ekspektasi kenaikan bunga The Fed yang lebih longgar."Foreign inflow dari hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) pemerintah juga berdampak positif pada penguatan Rupiah nantinya," imbuhnya. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menguat mengikuti tren tersebut. Beberapa sektor yang perlu diperhatikan adalah sektor keuangan, infrastruktur dan consumer goods.

Hal Senada disampaikan Ekonom Indef Bhima Yudhistira. Ia mengungkapkan Faktor perkasanya rupiah bisa dilacak dari pelemahan ekonomi global di AS dan China membuat investor memindahkan dananya ke negara berkembang.

Sebagai indikator dolar AS melemah terhadap hampir seluruh mata uang dominan lainnya. Dolar index menurun -1,25 persen dalam sebulan terakhir sehingga berada di level 96. Kondisi ini mirip dengan post krisis global 2008. "Di mana resesi AS menjadi berkah bagi negara berkembang karena masuknya capital inflow yang cukup deras," jelasnya. 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan rupiah menguat diwarnai optimisme atas prospek hasil negosiasi kesepakatan sengketa dagang AS dan China. Serta perubahan sikap Chairman FOMC the Fed atas lintasan suku bunga AS ke depan. 

Tidak seperti sebelumnya yang tegas akan menaikkan suku bunga dua kali di 2019, paska jatuhnya harga saham di AS, the Fed menyiratkan akan lebih fleksibel. Proses normalisasi kebijakan moneter pasca krisis 2018, sejak Desember 2017 the Fed dalam proses melepaskan kembali surat surat berharga yang diterbitkan swasta. 

Dibeli the Fed untuk mengtasi krisis keuangan 2008/2009. Tengah terjadi penarikan likuiditas dari sistem keuangan.  Surat berharga milik swasta yang ada pada neraca the Fed sampai saat ini baru turun ke US$ 3.86 triliun per Januari 2018, dari US$ 4,2 triliun yang bertahan sejak Januari 2014.  

Berbagai indikator manufaktur di Eropa dan China semakin menunjukkan kemerosotan, mengindikasikan perang dagang menimbulkan efek negatif. Kesepakatan perang dagang, perubahan sikap the Fed, dan berbagai perkembangan data ekonomi  tersebut mendorong terjadinya pelemahan nilai tukar USD secara broadbase. "Menjadi sentimen positif," ungkapnya. 

Meski rupiah saat ini menguat, pengusaha tetap waspada terhadap volatilitasnya. Pasalnya, ketidakpastian masih bisa terjadi. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih akan banyak memengaruhi aliran dana yang pada akhirnya menjadi penentu pergerakan nilai tukar. 

Faktor perang dagang adalah sentimen utama yang dapat keluar dari mulut Trump. Di samping itu, meski tekanan dari The Fed sedikit mereda, namun kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan masih ada.  

Untuk itu, Shinta menyarankan agar pengusaha tak hanya tergantung pada mata uang dollar AS (USD) saja. 

Mata uang lain yang bisa menjadi pilihan misalnya yuan Tiongkok. Mata uang tersebut sudah semakin banyak diperdagangkan sebagai upaya diversifikasi. Likuiditasnya di pasar juga semakin meningkat, sehingga tak begitu sulit untuk mendapatkan mata uang ini. “Menurut saya, daripada kita hanya bertapak dengan apa yang akan terjadi, kita punya solusi-solusi penggunaan mata uang asing lainnya dalam kita bertransaksi secara bilateral,” ucapnya.

Selain itu pengusaha juga didorong untuk menggunakan mata uang lainnya, misalnya ringgit Malaysia dan baht Thailand. Sebab BI juga telah bekerja sama dengan bank-bank sentral Malaysia dan Thailand dalam hal bilateral swap ini. Dengan semakin banyaknya mata uang lain selain USD di pasar, maka kurs rupiah terhadap USD akan lebih stabil. Shinta berharap rupiah dapat terus menguat dan stabil sementara ini di level Rp 13 ribu per USD.

Sementara itu, BI dan pemerintah telah menyepakati kerja sama pemanfaatan informasi devisa terkait kegiatan ekspor dan impor melalui Sistem Informasi Monitoring Devisa Terintegrasi Seketika (Simodis). Simodis akan mengintegrasikan aliran dokumen, barang dan uang melalui dokumen ekspor dan impor. 

Tujuannya untuk meningkatkan kualitas informasi dan perolehan devisa hasil ekspor (DHE), serta mengoptimalkan penerimaan negara di bidang kepabeanan dan perpajakan. “Tentunya bagi perusahaan-perusahaan yang comply akan diberikan insentif pajak,” ujar Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi. 

Kembalinya DHE ke dalam negeri ini adalah salah satu upaya pemerintah untuk menambah devisa. Dengan begitu nilai tukar akan lebih stabil karena pasokan devisa yang cukup di dalam negeri. Selama ini, masih banyak pengusaha yang tak membawa pulang DHE-nya dan menyimpannya di bank-bank luar negeri. (nis/rin)

Berita Terkait