Rumah Susun Harapan Jaya Siap Dihuni, Diprioritaskan untuk Pekerja Lajang

Rumah Susun Harapan Jaya Siap Dihuni, Diprioritaskan untuk Pekerja Lajang

  Rabu, 21 March 2018 11:00
RAMPUNG: Bangunan rumah susun di Jalan Harapan Jaya sudah rampung pengerjaannya, Selasa (20/3). HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK - Pekerja lajang dan keluarga baru menikah jadi prioritas untuk menempati 180 kamar pada dua tower rusun Jalan Harapan Jaya, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Pontianak Selatan. Demikian dikatakan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Pontianak, Fuadi Yusla, Selasa (20/3).

"Rusun Harapan Jaya sudah jadi. Rencana, yang diprioritaskan bisa menempati rusun adalah pekerja lajang atau pasangan baru menikah. Jika untuk keluarga yang miliki banyak anak, tempat itu kurang cocok karena ruangannya tak begitu besar," terang Fuadi kepada Pontianak Post.

Pemerintah Pontianak tengah menunggu serah terima kelola dari pemerintah pusat. Jika semua diserahkan maka masyarakat yang sekarang sudah mulai mengajukan tinggal di sana, dalam waktu dekat sudah bisa menempati. Kalau sekarang, masih dalam tahap masa pemeliharaan. Di lokasi ada petugas jaganya.

Sambil menunggu penyerahan, lanjut Fuadi, pihaknya tengah melakukan pendataan calon penghuni rusun. Dari data yang masuk, kurang lebih sudah ada dua ratusan pengaju. "Nanti akan dipilah-pilah. Kami mengutamakan masyarakat yang belum miliki tempat tinggal," katanya.

Untuk ruangan rusun, tak begitu besar. Fasilitasnya hanya ada dua tempat tidur, kamar kecil, dan tempat mandi. Untuk ruangan masak disediakan tempat umum di luar. Tapi jika untuk memanaskan sayur atau memasak nasi, bisa dilakukan di ruang itu. Makanya, lanjut dia, pekerja lajang dan pasangan baru menikah yang diprioritaskan untuk menempati rusun.  

Kalau buat keluarga besar, ruangannya terlalu kecil. Meski begitu, keluarga yang jumlah anaknya tiga sampai empat orang utamanya bagi warga yang rumahnya terkena imbas pembongkaran untuk penurapan Paritokaya tetap jadi prioritas. "Kami tawarkan bagi warga yang mau silakan karena mereka jadi prioritas," katanya.

Jika tak ada aral, pemerintah akan membangun satu rusun pertengahan 2018 di Nipah Kuning Dalam, Kecamatan Pontianak Barat. Sekarang tengah proses lelang di pusat. Rencananya ada 80 kamar dengan luasan kamar lebih besar dari rusun Harapan Jaya. Fasilitasnya ada satu kamar, tempat masak dan WC. "Keluarga yang miliki anak lebih dari dua bisa tinggal di sini. Karena memang dibuat untuk masyarakat berpenghasilan rendah," katanya.

Selanjutnya, 2019 pembangunan rusun kembali dibangun. Letaknya di Gang Semut, Kecamatan Pontianak Timur. "Mudah-mudahan yang jadi rencana bisa berjalan dengan baik," katanya.

Lurah Kota Baru, Jamilah mengungkap, ada 28 kepala keluarga (KK) yang tinggal di wilayahnya diprioritaskan menjadi penghuni rusun Harapan Jaya. "Mereka merupakan masyarakat Gang Mentari, korban penggusuran dulu," katanya.

Total penggusuran dari datanya ada 84 KK. Dari 80 KK, sebagian sudah mengontrak dan miliki rumah. Sebagai tindak lanjut dan bentuk tanggung jawab pemerintah, belum lama ini pihaknya kembali memanggil warga tersebut guna menjelaskan bahwa pembangunan rusun sudah selesai.

Dari hasil pertemuan, ada 28 KK warga berminat menempati rusun. Ia juga sudah meminta warga untuk melengkapi persyaratan berkas seperti surat keterangan belum miliki rumah dan surat keterangan tak mampu dari Kelurahan. "Secara keseluruhan mereka (warga) ingin tinggal di sana," kata dia.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Pontianak, Anwar Ali meminta prioritaskan warga tak mampu tinggal di rusun Harapan Jaya ini. Kuncinya pendataan harus dilakukan dengan teliti.

Dalam pengecekan jangan melihat berkas saja. Petugas diminta Anwar turun langsung mengecek kebenarannya. Utamakan warga kurang mampu dan belum memiliki rumah. 

Selain itu, bagi warga yang akan menempati rusun dimintanya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Karena hunian akan nyaman bila penghuni ikut menjaga kebersihan lingkungannya. Jika semua dilakukan, saya rasa tak akan ada kendala," katanya.

Anwar menambahkan, sebelum hunian tersebut ditempati masyarakat, pemenuhan hal dasar seperti air dan listrik jadi perhatiannya. "Listrik dan air bersih harus masuk dulu. Kan lucu kalau sudah dihuni dua dasar ini tak dipasang," tandasnya.(iza) 

Berita Terkait