Rumah dan Pantai Utara Rusak, Warga Mengungsi

Rumah dan Pantai Utara Rusak, Warga Mengungsi

  Kamis, 26 July 2018 10:26
Ombak Besar: Sejumlah pemilik warung di sisi selatan Laguna Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, DIJ, berusaha menyelamatkan barang-barang yang tersisa akibat terjangan gelombang tinggi, kemarin (25/7). HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA

Berita Terkait

Gelombang Tinggi Hantam Selatan Jawa

JAKARTA – Sesuai perkiraaan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Puncak gelombang tinggi menghantam pantai selatan Jawa kemarin (25/7). Di beberapa daerah, dilaporkan terjadi kerusakan rumah dan bangunan. 

Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Barat melaporkan bahwa ombak telah naik jauh ke pantai dan membuat 114 orang atau 33 Kepala Keluarga (KK) mengungsi sementara ke gedung-gedung sekolah.

Warga yang mengungsai berasal dari Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung dan Desa Kuranji, Kecamatan Labu Api, Lombok Barat. Lebih dari 64 rumah terendam air di Kecamatan Gerung dengan tinggi rata-rata 30 hingga 60 sentimeter. Sementara kerugian di Kecamatan Labu Api masih dalam penghitungan.  

Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa BPBD setempat telah menerjunkan 24 personil yang dibagi dalam 2 regu berkoordinasi dengan Tagana Dinas Sosial dan TNI/Polri untuk mengevakuasi warga ke tempat yang aman, yakni Gedung Sekolah SDN  04 Taman Ayu. 

”Gelombang masih terus menghantam perumahan, bapak-bapak berjaga di sekitar rumah, sementara ibu-ibu mengungsi,” kata Sutopo kemarin (7/25).

Hantaman gelombang tinggi hampir merata di selatan Jawa. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saja, gelombang tinggi yang menghempas pantai merusakn puluhan Gazebo, rumah makan, lapak, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan fasilitas-fasilitas di pantai wisata. Kerusakan terjadi di 3 kabupaten, yakni di Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo. 

Di pesisir Jawa Barat, gelombang tinggi menghantam pantai dan merusak puluhan perahu nelayan di Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran. Tinggi gelombang bervariasi mulai dari 2 hingga 6 meter. Air laut juga menggenangi lahan-lahan persawahan. Petugas setempat telah berkoordinasi untuk mendirikan posko siaga. 

Sutopo menghimbau masyarakat untuk selalu waspada dan hati-hati saat beraktivitas di laut dan pantai ”Pantau terus update peringatan dini dari BMKG,” katanya.  

Para nelayan juga diharapkan untuk selalu memantau kondisi laut dan cuaca. Jika secara visual gelimbang tinggi dan membahayakan, jangan memaksakan diri berlayar atau melaut.

Begitu juga dengan syahbandar atau pemilik kapal penumpang hendaknya mencermati peringatan dini. Laksanakan sesuai SOP dan ketentuan yang ada. Jika memang membahayakan jangan memaksakan berlayar. ”Seringkali kecelakaan kapal disebabkan ketelodoran dan tidak taat azas,” jelasnya.  

Untuk sementara, masyarakat umum diharapkan untuk menghindari aktivitas di pantai. Seperti berenang atau hal-hal lain yang membahayakan. Pengelola pantai wisata juga harus benar-benar memperhatikan ancaman ini. ”Jika perlu ditutup sementara waktu. Lakukan patroli atau memberikan informasi kepada masyarakat yang hendak berkunjujg ke tempat wisata pantai,” katanya. 

Sementara bagi masyarakat yang membuka usaha di pantai seperti berjualan dan penginapan, hendaknya mengutamakan keselematan dirinya. ”Tempatkan barang-barang berharga ke tempat aman. Jangan tetap berada di rumah yang posisinya berbahaya dengan gelombang pasang. Banyak warung-warung  yang dijadikan tempat tinggal di pantai,” kata Sutopo. 

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, gelombang tinggi yang berlangsung di wilayah selatan Jawa akan berlangsung hingga Oktober mendatang. Di mana besok, (27/07), diprediksi akan menjadi puncaknya. "Itu sudah mulai tumbuh Mei dan puncaknya itu juli, 27 Juli puncaknya," ujarnya di Kantor Kepala Staf kepresidenan, Jakarta, kemarin (25/7).

Hal itu tidak lepas dari adanya fenomena gerhana bulan cukup lama yang terjadi pada tanggal 28 Juli mendatang. "Karena kan bulan penuh. Kan mau ada gerhana bulan, itu kan nanti pasang. Itu gerhana bulan terpanjang," imbuhnya.

Setelah gerhana bulan berlalu, BMKG memprediksi gelombang akan perlahan mulai normal. Dan diperkirakan selesai secara total pada oktober mendatang. "Setelah itu berangsur-angsur turun lagi. berakhir nanti oktober," tuturnya. 

Dwi menambahkan, gejala meningkatnya gelombang laut di pantai selatan terjadi cukup merata. bahkan, tidak hanya di pulau jawa, melainkan juga hingga pulau sumatera. Oleh karenanya, saat ini, pihaknya sudah menerbitkan surat peringatan kepada masyarakat untuk tetap waspada.

Terkait tingginya gelombang di perairan selatan Jawa, diantaranya di provinsi Jogjakarta Selasa malam (24/7) sudah diprediksi oleh BMKG. Kabag Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko menyebutkan, untuk periode 24-25 Juli, tinggi gelombang di selatan pulau Jawa memang bisa sampai sembilan meter.

Gelombang mencapai 9 meter juga berpotensi terjadi di perairan barat pulau Enggano, perairan barat Lampung, selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Banten, kemudian perairan selatan mulai Jawa Barat sampai Jawa Timur.

Sementara itu untuk peringatan dini tinggi gelombang periode 25-26 Juli, tinggi gelombang mulai turun. "Maksimal enam meter," kata Hary kemarin (25/6). Gelombang setinggi enam meter tetap menyambangi perairan selatan pulau Jawa sampai perairan barat pulau Sumatera.(tau/far/wan)
 

Berita Terkait