Ruang Pikir Generasi Milenial Indonesia

Ruang Pikir Generasi Milenial Indonesia

  Selasa, 5 June 2018 10:00
Indra Dwi Prasetyo // Aktivis milenial

Berita Terkait

Perkembangan teknologi membawa pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Tak hanya orang dewasa, generasi muda (milenial) turut merasakan perubahan ini. Baik dari segi teknologi, pendidikan, serta moral dan budaya. Melihat hal ini, Indra Dwi Prasetyo dan empat temannya tergerak membuat sebuah ruang pikir generasi muda Indonesia, yakni @whaaaatdoyouthink. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Konten dinamis pun lebih diminati dibandingkan konten statis. Namun, bukan hal mudah untuk beradaptasi di dalamnya. Karena tak jarang sisi negatif dan positif turut memberi pengaruh bagi diri penggunanya. 

Hal inilah yang membuat Indra Dwi Prasetyo dan keempat temannya yang sedang menempuh pendidikan di Australia coba menghadirkan konsep ruang pikir bertajuk whaaaatdoyouthink. Konten yang dihadirkan pun beragam dan relevan dengan anak muda. Baik yang diolah langsung oleh Indra dan tim atau sesuatu yang sedang jadi perdebatan publik. Indra dan tim ingin anak muda tak hanya berpikir tentang dirinya, tapi juga lingkungan sekitarnya. 

Mahasiswa S-2 Monash University Australia ini mengatakan whaaaatdoyouthink membagi dua kelas yang diunggah dalam waktu berbeda. Kelas milenial diunggah seminggu sekali, sedangkan kelas ruang berpikir anak muda selama dua kali seminggu. Kedua kelas video ini juga memiliki perbedaan. Kelas milenial lebih pada arah bergerak praktis. Anak muda diberikan pendidikan untuk bergerak dan menggerakkan anak muda dengan resource yang tersedia, seperti media sosial. 

Sedangkan kelas ruang berpikir anak muda bahasannya jauh lebih lebar. Indra dan tim sengaja menampilkan diskusi yang kritis. Tujuannya, agar mendapat respon dan tanggapan balik dari anak-anak muda mengenai isu-isu aktual. Penulis buku ‘Milenialisme’ yang diterbitkan tahun ini menuturkan tanggapan yang diberikan anak muda beragam. Ada yang menyukai, tapi tak jarang mengkritik keras. 

Tanggapan adalah bagian dari dinamika. Menurut Penerima Beasiswa Van Deventeer-Maas Stichting, Belanda 2013 sampai 2015, seseorang tak harus 100 persen  setuju dengan apa yang dihadirkan. Dinamika memang perlu dibangun agar ruang pikir terus produktif. Seperti saat Indra dan tim mengangkat konten  pro dan kontra jilbab di institusi. Konten ini sempat diperdebatkan dan banyak masyarakat. Beberapa generasi milenial memberikan komentar tak setuju. 

“Saya dan tim tak marah atas perbedaan pendapat yang terjadi. Bagi saya disitulah hal menariknya, kita bisa belajar banyak hal dari perspektif yang berbeda-beda,” ujarnya.

Kritikan adalah proses pengembangan pikir. Indra menanggapi tak terlalu offensif, melainkan konstruktif. Bahkan tak sedikit kritikan yang ternyata mengubah cara berpikir Indra. Penerima Beasiswa LPDP-RI 2016 ini mengungkapkan di bulan kelima hadirnya whaaaatdoyouthink, banyak generasi milenial yang merasa tepat sasaran dengan konten yang dihadirkan. 

Ini dilihat dengan jumlah pengikut yang selalu bertambah, serta komentar yang juga dinamis. Selain itu juga menunjukkan adanya perhatian yang diberikan anak muda terhadap konten-konten yang dihadirkan Indra dan tim. Sejauh ini, Indra dan tim hanya fokus menghadirkan konten di media sosial Instagram (@whaaaatdoyouthink) karena dianggap efektif. Indra dan tim juga menerima ruang diskusi lewat komentar dan direct message (DM). 

“Banyak juga yang melakukan diskusi dengan mengirimkan Email secara langsung. Saya mengakui anak muda saat ini termasuk keren dalam menghasilkan ide,” tutur Delegasi Indonesia dalam “Youth Movement for Transparency Asia-Pacific”, Kuala Lumpur, Malaysia 2015 .

Peserta Indonesia-Korea Youth Exchange Program 2016 mengungkapkan target konten whaaaatdoyouthink memang diperuntukan pada generasi milenial. Meski yang menanggapi dari semua umur. Bahkan ada satu professor yang menanggapi salah satu kajian  yang dihadirkan Indra dan tim. Bagi kelimanya, ini adalah sebuah kehormatan, tetapi juga sebuah pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam membuat kajian konten. **

Berita Terkait