RSUD Soedarso Perlu Pembenahan Fisik dan Peningkatan SDM

RSUD Soedarso Perlu Pembenahan Fisik dan Peningkatan SDM

  Kamis, 16 Agustus 2018 10:00

Berita Terkait

Mengawal Janji Gubernur Kalbar Terpilih 

Untuk yang pertama, diskusi mengawal janji Gubernur Kalbar terpilih mengangkat tema tentang menata kembali RSUD Soedarso. Tidak hanya secara fisik, rumah sakit kebanggan masyarakat Kalbar ini juga perlu peningkatan dari segi sumber daya manusia (SDM). 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

MELIHAT visi misi Gubernur Kalbar terpilih Sutarmidji, setidaknya ada tiga hal yang menjadi fokus pembangunan ke depan. Pertama pembenahan di bidang kesehatan, kedua pendidikan dan yang ketiga infrastruktur. 

Pontianak Post akan mengupas tuntas tiga hal tersebut dalam tiga sesi diskusi berbeda. Diskusi pertama berhubungan dengan bidang kesehatan digelar, Rabu (15/8). Membahas tentang pembenahan RSUD Soedarso secara keseluruhan, diskusi dipandu oleh Direktur Pontianak Post Salman Busrah sebagai moderator. 

Dalam kesempatan tersebut, selain Gubernur Kalbar terpilih, juga diundang pihak terkait mulai dari Direktur RSUD Soedarso, perwakilan Dinas Kesehatan Kalbar, BPJS Kesehatan, Ombudsman RI Perwakilan Kalbar, Fakultas Kedokteran Untan serta beberapa mahasiswa. Diskusi ini diharapkan bisa melahirkan pokok-pokok pikiran untuk penanganan RS tersebut ke depan. 

Dalam pemaparannya, Sutarmidji mengungkapkan beberapa hal yang menjadi alasan mengapa pembangunan di bidang kesehatan begitu penting dilakukan. Hal tersebut sudah ia rumuskan agar fokus pembenahan oleh pemerintah ke depan bisa tepat sasaran. 

Pertama melihat indeks pembangunan manusia (IPM) Kalbar yang peringkatnya cukup rendah yakni di urutan 29 dari 34 provinsi. Nilai IPM menurutnya berkaitan erat dengan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Maka dengan memperbaiki bidang kesehatan tentu akan berdampak pada peningkatan IPM. 

Kemudian yang terbaru melihat hasil penelitian oleh Asia Competitiveness Institute, National University of Singapore (ACI-NUS). Dimana Kalbar berada di urutan 33 se-Indonesia dari sisi kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur.

"Kualitas hidup tentu berhubungan dengan kesehatan. Ini yang semakin memperjelas bahwa masalah kesehatan di Kalbar harus menjadi perhatian utama. Terutama soal RS ini saya serius betul,” tegas Midji sapaan akrabnya. 

Untuk RS yang pertama kali harus diubah adalah tampilannya. Jangan sampai masih ada kesan kumuh serta fasilitas pelayanan yang jelek. Pasien harus dibuat betah ketika menjalani perawatan. Termasuk keluarga pasien, ia berharap ada tempat khusus sehingga tidak memenuhi ruang inap pasien. "Jadi paling hanya ada satu orang (keluarga) yang jaga di ruangan," katanya.

Karena itu perlu bangunan yang representatif. Midji menghitung bangunan vertikal akan lebih efektif dibanding bangunan yang sudah ada selama ini. Bahkan perlu juga disediakan taman dan jogging track beserta pepohonan yang rindang untuk memanjakan pasien.

Menuju RS Rujukan Nasional

Seperti diketahui RSUD Soedarso telah ditunjuk menjadi salah satu dari 14 RSUD se-Indonesia yang akan menjadi rujukan nasional. Untuk mencapainya RS ini harus memenuhi berbagai kriteria terlebih dahulu. Tidak hanya secara fisik tapi juga sumber daya manusia (SDM). Hal itu untuk memeratakan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah dan sebagai bentuk sistem rujukan berjenjang.

Direktur RSUD Soedarso Yustar Mulyadi mengungkapkan, setelah ditunjuk sebagai RS rujukan nasional 2014 lalu, pihaknya mulai bebenah. Sampai saat ini mengenai alat dan infrastruktur dikatakan sudah mencapai sekitar 95 persen. Ia yakin bisa terpenuhi sampai waktu akhir pemenuhan di 2019 nanti. 

Sementara yang cukup sulit adalah dari sisi SDM. Terutama dokter spesialis yang pengadaannya harus bersaing dengan daerah lain. Beberapa daerah bahkan berani memberikan insentif tinggi. "Yang harus dikejar memang dokter ada beberapa masih kurang. Misalnya untuk penyakit dalam disyaratkan enam orang sekarang baru ada tiga, konsultannya syarat dua sudah terpenuhi dua. Penyakit dalam artinya kurang tiga," ujarnya. 

Kemudian untuk yang lain seperti dokter spesialis anak, butuh enam orang, sudah ada semua namun konsultannya yang belum ada. "Ada beberapa cabang disiplin ilmu yang belum terpenuhi, tahun 2019 harus sudah terpenuhi," katanya. 

Untuk mencapainya, RSUD Soedarso akan bekerja sama dengan berbagai pihak. Mulai dari Fakultas Kedokteran UI, RSCM, RS Jantung Harapan Kita dan RSUD Dr Soetomo. "Jadi banyak yang harus dilengkapi untuk mencapai hal tersebut," terangnya.

Memang untuk menjadi rujukan nasional, RS  harus sudah tipe A dan memiliki akreditasi dengan standar mengacu pada Joint Commission International (JCI). Selain itu, RS tersebut harus juga memiliki kerja sama dengan RS di luar negeri dan menjadi RS pelatihan.

Terakait kebutuhan dokter spesialis, Gubernur Kalbar terpilih Sutarmidji menilai problem tersebut muncul karena kurangnya perhatian. Butuh dorongan dari kepala daerah agar dokter-dokter muda mau mengambil spesialis. "Sekarang pun dokter-dokter muda saya provokasi ambil kesempatan (menjadi dokter spesialis)," katanya saat bercerita tentang pemenuhan dokter di RSUD Kota Pontianak. 

Selama menjadi wali kota beberapa kali ia sudah merekomendasikan dokter untuk mengambil spesialis lewat dukungan Pemkot. Hal tersebut diharapkan bisa terus ia lakukan ketika menjabat sebagai gubernur kelak. "Fakultas itu minta jaminan dari Pemda, mengapa kita harus menahan (mempersulit) yang seperti itu," pungkasnya. (*)

Berita Terkait